Banyak kerabat Ahmad tidak tahu kalau hubungan antara dirinya dan Liza hingga saat ini tetap terbina dengan baik. Padahal dulu sebagian dari mereka sempat heboh dan menyayangkan khabar ini. Tentu tidak halnya dengan Jiza. Juga anak-anaknya yang hampir tiap hari melihat ayahnya berbicara dengan Liza. Meski sempat mengalami hal yang sama, bagi Jizah—istri Ahmad, peristiwa yang sangat menguras energi itu tak ingin ia pikir berkelanjutan. Sudah capek. Apalagi ia juga harus memikirkan perekonomian keluarganya akhir-akhir ini yang semakin kacau. Beruntungnya sekarang khabar itu seperti termakan angin lalu saja. Bahkan Liza dan Jizah sudah beberapa kali kontak dan berbicara secara akrab seperti tak pernah mengalami masa-masa kelam itu. Seandainya saja di antara mereka ada yang ingin tahu bagaimana hal itu bisa terjadi sudah tentu jawabannya tidaklah semudah menjelaskannya saat ini.
Dunia maya ibarat sebuah dunia yang tersendiri. Bagi sebagian orang ia seolah tak nyata, tapi mampu mengusik bahkan lebih dahsyat bagi sebagian yang lain. Bagi keluarga Ahmad hubungannya dengan Liza pada awal-awal sangat menguras energi. Prosesnya begitu mencekam dan diliputi pergolakan batin yang luar biasa. Bagaimana Ahmad akhirnya mampu terus menjalin hubungan dengan Liza, terutama bagaimana istrinya akhirnya “pasrah” menerima perlakuannya juga Liza, belum pernah terjadi selama ini. Demikian halnya dengan Ahmad, tidak cuma dengan keduanya Ahmad harus menghadapi pergulatan emosi. Dengan kerabatnya sendiri, juga dengan kerabat Jizah, dirinya telah mengalami tentangan yang cukup dahsyat.
Terasa sulit bagaimana semua ini dijelaskan olehnya secara runtut. Ia hanya bisa memastikan semua itu dimulai dari adanya keinginan Liza untuk memesan produk yang ia jual via website.
Layaknya orang yang belum saling mengenal dan sedang menghendaki suatu produk, topik yang mengemuka adalah keingintahuan Liza atas produk Ahmad. Dan sudah pasti jawaban Ahmad adalah memberi informasi selengkap dan sebaik mungkin bagi customernya. Namun diakui, ada yang berbeda dari Liza dalam merespons jawaban Ahmad.
Ahmad menyadari bahwa dirinya lebih suka memberi lebih untuk menginformasikan produknya ketika ada customer yang bertanya. Namun ia tetap berusaha agar customernya merasa tidak menerimanya sebagai sesuatu yang berlebihan. Hal itu dilakukan karena tidak semua orang sama dalam “menggali” informasi untuk hal yang ingin diketahuinya.
Dalam beremail, misalnya, ia melihat bahwa Liza berupaya merespons dengan setara atas suatu informasi yang diberikannya. Suatu kali, ketika Ahmad meminta padanya agar cukup menyebut namanya saja tanpa tambahan ‘Tuan’, Liza tak berkeberatan. Bahkan sebaliknya Liza meminta hal yang sama. Agar Ahmad cukup memanggilnya Liza, tanpa Puan di depannya.
Yang Ahmad senangi dan juga membuatnya bersemangat terus berkoresponden dengan Liza adalah kejujuran dan keterusterangannya. Pengetahuannya tentang Islam juga membuat Ahmad betah berlama-lama diskusi via YM. Perbedaan negara tidak menjadikannya untuk semakin memperbesar jarak keduanya, tetapi rasa ingin tahunya tentang sesuatu dari orang yang—menurutnya, dipercayainya membuatnya semakin mengecilkan perbedaan itu.
Upaya mengenal masing-masing keluarga, kerabat, kebiasaan sehari-hari, adat-istiadat, bahkan cerita tentang masa lalu sudah bukan lagi hal yang tabu bagi keduanya. Semakin intensif keduanya memahami masing-masing semakin besar rasa saling ingin tahunya.
Getaran rindu pun akhirnya mulai muncul dalam diri Ahmad. Sehari tak berbicara dengannya sudah seperti tak tertahankan. Perasaan cinta pun bersemi. Akh, ada saja yang tak mampu ia sampaikan, meski sering bercanda.
oo0oo
Rutinitas Ahmad dengan Liza via YM mengusik ketenangan Jizah. Sesekali ia mencuri dengar obrolan suaminya. Hanya satu sisi, karena Ahmad menggunakan headset sehingga suara Liza tak terdengar. Belum puas dengan hasil pendengarannya Jizah juga memelototi SMS yang masuk di HP suaminya. Uniknya, Ahmad lebih banyak membiarkan istrinya membacanya.
“Sampean sepertinya sudah kebablasan, Yah?” Jizah memprotes perilaku suaminya yang menurutnya sudah di luar batas. “Sampean seperti tidak menghiraukan perasaanku selama ini.”
Ahmad mendengar nada tak senang dari Jizah. Ia berdiri di depan istrinya yang menatapnya sekilas. Wajah Jizah yang seperti memendam kesal sejak lama terlihat agak pucat. Rambutnya yang agak bergelombang dan di sana-sini tampak uban menambah kesan pucat wajah istrinya.
Ahmad berupaya tenang, khawatir dirinya dikatakan tak memperhatikan suasana batin istrinya yang ia cintai. Terbersit juga dalam benaknya, mungkin ada benarnya bahwa ia tak begitu hirau dengan perasaan istrinya akhir-akhir ini. Bahwa ia terlalu asyik dengan Liza, sehingga memunculkan kesal yang mendalam pada hati istrinya. Oh, benarkah aku terlalu asyik “berdua” dengan Liza selama ini? Ahmad hampir tak percaya.
“Ada apa, Dik? Kenapa kamu bicara seperti itu?” Tangan Ahmad menggamit lengan istrinya. Diajaknya ia duduk di tempat tidur. Ia memandang wajah istrinya yang menatap ke arah lemari di dalam kamar. Ahmad merasa bersalah. Ia hampir tak menyadari jika chattingnya selama ini dengan Liza tak disukai istrinya.
“Sampean sudah berubah, Yah.” Jizah menatap wajah Ahmad. Seolah juga hendak menyampaikan gugatan anak-anaknya, terutama Firhad. Jizah memanggil dirinya ‘ayah’, meniru anak-anaknya. “Sampean tidak tahu kalau anak-anak juga merasa sakit hati dengan perbuatan Sampean? Mereka memang tak berani berkata-kata. Tapi cara Firhad yang ditampakkan padaku akhir-akhir ini pasti karena ulah Sampean ketika chatting.”
Hati Ahmad bercampur-aduk. Ia tidak menyadari bahwa rutinitas chatting dirinya berefek bagi anak-anaknya. Ada perasaan tak menerima atas tuduhan itu. Tapi ia tak memungkiri bahwa obrolannya kadang-kadang romantis. Apalagi bunyi SMS yang dikirim Liza, juga bagaimana ia membalasnya, muncul kata rindu, kangen, bahkan cinta. Akh, bagaimana aku menjelaskan pada mereka?
“Jangan berprasangka yang tidak-tidak dulu, Sayang.” Ahmad mencoba meredam amarah Jizah. Duduk merapat di sebelah Jizah, tangan kiri Ahmad merangkul bahunya. “Aku memang tak memungkiri bahwa aku cinta pada Liza, bahkan sangat cinta. Kamu sendiri juga kusilakan membaca isi SMS yang ada selama ini, kan?”
“Terus terang aku tak akan tahan jika terus-terusan seperti ini, Yah.” Wajah Jizah seperti pasrah, tapi sangat ditahan emosinya. “Jika saja aku tak tahu bagaimana Sampean tiap hari mungkin aku bisa tak ambil pusing. Tapi aku tahu A-B-Cnya dari waktu ke waktu, setiap hari. Hati perempuan mana yang tak nelangsa?”
“Ya Allah. Maafkan aku, Dik. Bukankah sudah sering kukatakan, bahwa aku hanya cinta atau sayang saja, tapi tak bermaksud untuk memilikinya? Percayalah, Dik.”
Ahmad sesekali memandangi wajah istrinya yang menatap kosong almari dalam kamar. Kadang-kadang dirinya merasa bersalah juga. Ia merasa berdosa melalaikan istrinya hingga seperti ini. Cemas.
Yang membuat kacau dirinya, Ahmad sering merasa terpesona dengan kebaikan Liza selama ini. Seorang perempuan yang sopan dan memegangi ajaran agamanya. Juga sangat berhati-hati jika bicara. Sangat care terhadap sesama serta simpatik jika dimintai tolong. Terkesan cakap, tapi tetap bersahaja. Makanya, terkadang ia merasa heran dan tak habis pikir karena sempat berseloroh kepada istrinya bahwa ia juga membayangkan seandainya Liza adalah juga istrinya. Ia membayangkan, seandainya suatu saat Liza jadi di Indonesia bersamanya. Atau dirinya yang berada di Malaysia. Sudah gilakah dirinya? Akh rumitnya…
Wajah pucat Jizah belum berubah banyak. Ia seperti belum menerima penjelasan suaminya. Kata-kata itu seperti sekedar penyejuk sementara. Jizah membayangkan, seandainya benar suaminya tak bermaksud untuk memilikinya, bagaimana ia tetap bisa tahan mendengar suaminya “bermesraan” di depan komputer?
“Maafkan aku, Dik.” Suara Ahmad setengah berbisik. Tangannya membelai sayang rambut istrinya. Ia tuntun Jizah dengan perlahan merebahkan diri. Ada perasaan bersalah karena telah begitu dalam ia menyakiti istrinyanya. Tapi uniknya, hatinya juga tak mungkin melepas Liza. Juga akan sakit rasanya jika itu ia lakukan.
“Entahlah, aku sendiri seperti tak mampu meninggalkannya. Kamu sendiri tahu, aku suka padanya bukan karena wajahnya. Sebelum ia mengirim fotonya pun kamu sudah tahu bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Kemanapun aku pergi, seolah bayangan wajahnya selalu mengiringiku. Padahal saat itu aku belum tahu bagaimana rupanya. Dan itu semua telah aku ceritakan padamu.”
Jizah seperti tak bereaksi mendengar perkataan Ahmad. Pandangannya ke arah langit-langit, Kelopak matanya basah.
Tangan Ahmad pun masih membelai-belai rambut Jizah. Ia sangat sayang dengan istrinya. Tak ada niat dalam hatinya hingga sampai harus berpisah. Apalagi jika teringat pada ketiga anaknya yang juga sangat disayanginya. Hatinya tak mungkin terpisah dari mereka. Pasti akan sakit rasanya.
Tapi Ahmad juga tak mampu meninggalkan Liza, perempuan yang telah mengisi hati dan juga sangat ia cintai. Teringat perkataannya pada Liza bahwa ia tak akan menjauh darinya. Ingat akan SMSnya yang tak akan mencederai persaudaraan yang ia bina selama ini. Seperti berjanji, ia juga telah memberikan hatinya untuknya. Tapi ia juga merasa bersalah pada Liza, sebab kadang-kadang dirinya memperlakukannya seolah akan menjadi istrinya. “Akh, benar-benar gila aku ini.”
Tiba-tiba pikiran Ahmad menuju ke Surah Al-Hujuraat (49) : 13, “ … Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal.”
Ia bolak-balik renungkan ayat itu. Dimanakah yang salah dengan hubungannya selama ini? Benarkah dirinya sudah kebablasan seperti yang dituduhkan istrinya? Bukankah dirinya dan Liza sudah cukup saling mengenal? Apakah salah jika ia ingin lebih dari itu? Atau memang sudah sepantasnya ia membatasi intensitas hubungannya lebih dari yang sekarang?
Diliriknya istrinya. Jizah tampak memejamkan mata. Tapi seperti hanya kelopak matanya yang terkatup. Ia dekap tubuhnya rapat-rapat sesaat, lalu ia lepaskan lagi. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Ahmad. Matanya juga basah. Ia memandangi sesekali dengan dekat wajah istrinya. Oh, istriku. Kasihan sekali kau sampai seperti ini gara-gara aku.
Wajah Ahmad mendongak ke langit-langit. Pikirannya menuju wajah Liza yang jauh di sana. Perasaan campur-aduk kembali menyelimuti hati Ahmad. Akh, Liza. Adakah hatimu juga sering merasa seperti masmu ini? Jika benar, kenapa kita sering merasakan hal yang sama? Menginginkan bertemu tapi semuanya seperti buntu? Kenapa kita berada pada tempat yang sangat jauh, Sayang? Kenapa kamu tak juga kemari, adikku? Tidakkah kau rindu pada masmu?
Ahmad hampir tak kuasa menahan pedih hatinya. Istrinya yang sangat ia sayangi begitu berharga bagi dirinya. Apalagi di tengah situasi ekonomi yang tak menentu saat ini. Dirinya akan terasa tersiksa tanpa curhat dengannya. Tapi hatinya juga sangat berat jika harus mengurangi hubungannya dengan Liza. Ia telah sangat banyak membantu dengan ikhlas. Selain dengan istrinya, melalui YM atau via handphone ia gunakan untuk curhat dengannya.
Hati Ahmad terasa pedih, seperti terbelah-belah. Terasa letih jiwanya memikirkan demikian pelik menghadapi istrinya. Ia malu karena tak mampu memberi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Juga malu memikirkan perekonomian keluarganya yang hingga kini belum juga pulih. Sudah demikian masih juga sempat-sempatnya bersenang-senang dengan Liza. Lelaki apa aku ini?
Ahmad terlihat hening dan mengatupkan kelopak matanya. Dalam gumamnya ia bermunajat, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu dan anak hamba perempuanMu. Ubun-ubunku di tanganMu, keputusanMu berlaku padaku, qadhaMu padaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu, atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaibMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Quran sebagai penentram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.”
Langit-langit kamar tak lagi terasa dekat dalam pandangan Ahmad saat itu. Matanya terpejam, jiwanya mengangkasa menemani istrinya. Begitu rindunya ia akan kedamaian dan kasih dari Sang Maha Pengasih. Ingin ia katakan pada istrinya bahwa dirinya sangat mencintainya. Dan ingin juga ia sampaikan pada adiknya yang jauh dan belum pernah dijumpainya di sana. Bahwa ia ingin selalu dekat dengannya. Tapi ia tak ingin hatinya terasa terbelah.

No comments:
Post a Comment