
Alam demokrasi yang sedang dibangun dan dikomunikasikan di media, terutama TV, seperti tidak sejalan dengan alam perekonomian keseharian rakyat, pikir Ahmad. Ia tidak memungkiri bahwa kompetisi bisnis boleh dibilang semakin terbuka dan menjanjikan kesetaraan. Tapi kesetaraan yang mencuat adalah kesetaraan yang diliputi mendung dan gerimis, sebagai gambaran potret kesedihan kebanyakan masyarakat sekarang. Paling tidak begitulah ia melihatnya saat ini, sehingga meskipun sangat pahit dirinya harus “menerima” terhadap situasi demikian.
Namun ironisnya, perasaan menerimanya menyisakan sesak napas ketika melihat semakin meningkatnya kesulitan ekonomi di sana-sini, termasuk dirinya saat ini. Ia teringat, dulu ketika masih mengajar di sebuah sekolah swasta, predikat menjadi guru tak mampu menahan dirinya agar tetap betah di situ. Hingga akhirnya ia berspekulasi untuk menerjuni dunia wirausaha.
Meski berskala sangat kecil pada awalnya ia menemukan alam kemandirian, dan mendapati kompetisi yang cukup fair di sini. Namun pada akhirnya ia merasakan bahwa kompetisi bisnis yang terbangun—bahkan hingga kini, dirasakan masih parsial dan jauh dari kebutuhan minimal untuk menjadi sebuah bisnis yang stabil. Hari-hari berikutnya media terus mengekspose potret dunia usaha masa kini dengan berbagai variasinya. Malangnya, dirinya semakin merasakan sesak napas menghadapi peliknya kompetisi tersebut.
“Kenapa, Mas?” Selidik Jizah pada suaminya yang sedang berbaring. “Akhir-akhir ini Sampean kulihat sering gelisah, jika tidak dibilang stress.”
Ahmad tidur di kasur dalam kamarnya. Kedua telapak tangannya ia jadikan bantal untuk menopang kepalanya. Wajahnya terlihat kusut tak bergairah. Bicaranya juga seperti orang yang kehabisan suara.
“Yah, apalagi kalau tidak memikirkan tentang keluarga kita,” seperti tanpa mempedulikan kehadiran istrinya.
“Sudahlah, Mas. Sampean tak perlu terlalu gelisah seperti ini. Kita ini masih jauh lebih beruntung.” Istrinya berusaha meredam rasa gundah Ahmad. Ia tahu bagaimana seharusnya karena akhir-akhir ini suaminya terlihat seperti itu. “Meski sudah cukup banyak barang-barang kita yang terjual, kalau sejumlah uang kita
Ahmad pura-pura tak mendengar omongan istrinya. Wajahnya menatap langit-langit. Kata-kata-kata itu, meski ada benarnya, baginya bagaikan bom waktu. Boleh jadi itu hanya pelipur duka sementara, yang jika tidak ditemukan solusinya, entahlah apa yang bakal terjadi nantinya. Tapi sejurus kemudian ia tampak mengeluhkan lengan kanannya. Istrinya menghampirinya dan memijat-mijat lengan suaminya. Meski bukan tukang pijat Jizah termasuk punya sedikit kemampuan di bidang ini.
Entah karena agak kesakitan atau memang wajahnya yang kusut saat itu Ahmad berujar parau ke istrinya yang memijatnya sambil berbaring. “Tolong bantu aku, Dik.”
“Bantu bagaimana?”
“Agar keadaan keluarga kita tidak lebih parah lagi ke depan.”
“Itu yang tiap hari kupikirkan, Mas.”
Pijatan Jizah terhenti. Sebaliknya ia merasa mendapat kesempatan untuk berbicara banyak. Suaminya kemudian ganti memijat-mijat lengan kanannya sendiri dengan tangan kirinya.
“Tak mungkin nanti aku hanya cukup dengan mengajar, Dik.” Pikiran Ahmad menerawang ke beberapa tahun silam, saat dirinya masih menjadi guru.
“Tolong bantu, apalagi yang harus kita lakukan sekarang.”
“Yah, aku mengerti, Mas. Proposal yang kita masukkan ke pabrik sampai kini juga belum ada jawaban.” Suara perlahan Jizah malah menebar suasana prihatin. “Sampean sendiri tahu, sudah beberapa kali Pak Johan kutelepon, tapi sampai kini juga nihil hasilnya. Aku malu jika harus meneleponnya lagi.”
Ahmad memandang kosong dinding kamar. Teringat beberapa bulan yang lalu ketika ia dan istrinya memasukkan proposal kerjasama bisnis makanan ke suatu pabrik. Ia merasa beruntung memperoleh informasi ini. Sebab, biasanya hal seperti ini beredar secara terbatas saja.
“Di pabrik yang baru kita masuki bagaimana?” Bersama istrinya ia juga telah memasukkan proposal yang semisal. Meski sudah tahu Ahmad merasa perlu bertanya, sebab terkadang istrinya menunggu saat yang tepat untuk bercerita.
Istrinya menggelengkan kepala.
“Di BRI bagaimana?”
“Sama.” Pikiran Jizah menuju ke beberapa hari lalu, ketika dirinya diantar suaminya memasukkan proposal catering. Informasi awal cukup melegakan dirinya bahwa di situ belum ada yang mengkoordinir untuk makan siang. Dari situ semula ia berharap. Sebab, ia telah kenal dengan beberapa karyawan bank tersebut. Tentu bisa lebih diterima, pikirnya. Meski tak terlampau banyak personelnya bagaimanapun masih lumayan. Tapi, tadi malam Andini memastikan bahwa teman-teman Andini tak merespons tawarannya.
oo0oo
Beberapa hari lalu salah satu keponakan Ahmad, Itang, ke rumahnya. Ia menjelaskan bahwa di rumahnya kini juga didirikan warung makanan, selain toko kelontong yang sudah berjalan selama ini. Yang agak membuat tertarik Ahmad dan istrinya adalah di situ juga dijual nasi bungkus. Pikiran Ahmad segera menebar ke sejumlah karyawan pabrik yang sering berbelanja di rumah Itang. Wah, jika orang lain boleh memasuki tentu dirinya juga ada peluang, pikirnya.
Sayangnya lagi-lagi Ahmad harus menelan ludah. Nasi bungkus tersebut tidak diambil pengelola warung, yang juga saudara Itang. Tapi dihantar pemasoknya. Yang berarti, sangat berat jika harus ia lakukan tiap hari. Tentu profit nasinya akan habis untuk biaya transportasi. Belum lagi jika nasinya tak habis.
Meski sering stress Ahmad tak berhenti hingga di situ. Apalagi istrinya seperti tak pernah merasa bosan meyakinkan dirinya. Setidaknya Ahmad masih ingat dan meyakini Surah At-Thalaq 2-3. “… Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan (menjadikan) baginya jalan keluar, dan memberi rizki yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan apa (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” Pasti Allah memberi jalan keluarnya, pikirnya. Ia juga tak meragukan informasi dalam Surah Al Insyirah tentang adanya kemudahan yang menyertai suatu kesulitan. Pada ayat ke-5 disebutkan, bahwa “Maka sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan.”
Pikiran Ahmad mengembara ke suatu tayangan TV , ketika seorang muballigh mengupas ayat tersebut. “Fa-inna ma’al ‘ushri yusraa.” Yang menarik baginya adalah tafsir makna katanya. Dikatakan muballigh tersebut, dalam bahasa Arab kata ‘ushri didahului dengan ‘al-’, sehingga berbunyi “al ‘ushri” (isim ma’rifat). Itu berarti bahwa kata bendanya kata benda tertentu (definite noun). Sebelum kata tersebut digunakan kata “ma’a” (bersama), dan bukan “ba’da” (setelah). Juga setelah kata “al-ushri”, digunakan kata ‘yushraa’ (isim nakirah). Kata ini termasuk kata benda tak tentu (indefinite noun).
Suatu ‘kesulitan’ yang definite (tertentu) disuguhkan di situ dalam bentuk tunggal, sementrara ‘kemudahan’ yang menyertainya disajikan dalam bentuk jamak. Dari situ menjadi menarik dibahas karena berarti Allah telah menyertakan jawaban/ solusi yang beragam (jamak) bagi manusia. Seolah menginformasikan, Kemahapemurahan Allah kepada makhluknya ditunjukkan di situ. Bahwa dalam setiap satu kesulitan yang diujikan ternyata disertai beragam kemudahanNya sebagai solusi. Hanya saja, pilihan atas ragam solusinya harus ditemukan. Apalagi di situ Allah mengulangi di ayat berikutnya, seperti menegaskan, “Sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan.”
Pikiran Ahmad mengembara lebih jauh lagi, mengeksplor upayanya beberapa waktu terakhir ini. Bersama dengan istrinya ia telah memasukkan proposal catering ke beberapa perusahaan.
Saat itu hatinya terombang-ambing oleh respons dari berbagai pihak. Belum dianggap lengkap proposalnya ia pun mengurus ijin agar berpeluang mendapat respons dari perusahaan tersebut.
Tak putus asa di situ Ahmad dan istrinya mengalihkan target calon mitranya. Ahmad beralih haluan ke sebuah bank. Meski tak jelas syarat-syaratnya ia menyertakan ijin bisnis makanan di sini. Sayangnya, di bank ternyata juga tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya ia dan istrinya mencoba menerjuni nasi bungkus alias nasi kucing.
oo0oo
Ahmad dan istrinya kini mencoba menapak di bidang nasi kucing. Nasi kucing adalah sebutan lain untuk sebungkus nasi berikut lauknya. Meski bisa berupa tahu atau
Karena masih baru memulai, hari pertama merupakan test case bagi keberlanjutan usahanya. Begitu mengesankan, pikirnya. Dengan 20 bungkus ia berharap setidaknya sebagian besar akan laku. Tapi hari itu kenyataan mengatakan lain. Hanya sepertiga yang terbeli. Sisanya ia bagikan kepada kerabatnya sebagai hadiah cuma-cuma.
Ahmad menghela napas mencoba bersabar. Sesekali ia merasa lunglai. Hatinya terasa kecut meski juga tetap berusaha tegar. Tubuhnya kadang terasa seperti tak bertenaga. Jika tidak ingat bahwa ini adalah bagian ujian dari Allah yang sedang dijalaninya mungkin ia sudah depresi. Apalagi istrinya tak pernah menampakkan wajah putus asa.
Hari kedua ada tantangan baru. Ia terlambat mengambil info nasi kucing yang dititipkan. Siang itu ia kehujanan, padahal boleh dibilang ia masih kurang sehat. Urung dapat khabar tentang nasinya ia pulang. Dengan baju setengah basah ia menghibur dirinya dengan mengingat Surah At-Thalaq di atas. Ia tersenyum, teringat saudaranya yang baru saja mengiriminya uang. Akh, mungkin ini yang namanya “rizki yang tiada disangka-sangka” itu.
Hari ketiga nasi kucingnya nyaris tak mendapat respons. Hanya terserap dua bungkus. Ia tak sanggup berkata-kata kecuali bersabar. Namun ia tetap mencoba bersyukur, apalagi ia merasa hanya kehilangan beberapa ribu rupiah. Ia membayangkan, bagaimana perasaan pialang saham yang telah kehilangan ratusan milyar gara-gara krisis global akhir-akhir ini. Ia menepis gundahnya dengan membelai anaknya yang ikut menyertainya siang itu di motornya.
Siang itu Ahmad menyerahkan sejumlah lembar uang ribuan dan sejumlah receh uang logam hasil penjualan nasi bungkusnya selama dua hari. Di depan istrinya ia mencoba tersenyum karena membayangkan uang itu adalah lembar ratusan ribu yang dikirim adiknya. “Alhamdulillah, ternyata aku masih punya uang yang lain,” pikirnya.
Ahmad merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kedua telapak tangannya ia jadikan bantal untuk menopang kepalanya. Memandang langit-langit, tapi pikirannya menembus cakrawala: apakah gerangan setelah nasi kucing. Hujan rintik di luar masih berebut dengan mendung, seolah memastikan bahwa kesedihan di sana-sini masih ada.

No comments:
Post a Comment