Friday, January 23, 2009

Cerpen keenam - Mencari Karunia Baru


Hari sudah sore menjelang petang. Tapi Jizah masih terus sibuk mengiris sayur untuk nasi bungkusnya esok. Suaminya Ahmad juga tampak menemaninya. Akhir-akhir ini jika ada hari libur atau tanggal merah Jizah harus lebih lama di dapur. Sayang jika jadwal jualan yang cuma sesekali dalam seminggu diabaikan begitu saja.

Jizah merasa berat jika harus keluar rumah dengan tujuan tidak yang sangat penting. Meski hanya beberapa ribu rupiah dirinya merasa telah berbuat sesuatu untuk keluarganya. Yang ia pikirkan adalah anak-anaknya yang sangat suka dengan lauk-pauk yang kebetulan juga untuk nasi jualannya. Ia juga ingat penghasilan suaminya yang kini berkurang sangat drastis, semenjak berhenti bekerja di sebuah perusahaan jasa.

Sayur kentang yang belum teriris tapi sudah terkupas kulitnya disendirikan di sebelah kiri bersama sayur ucet. Dulu sebelum pernah jualan nasi Jizah menganggap sayur ini sebagai menu tambahan. Kini tuntutan pasar kelas nasi bungkus mengharuskan sayur ini atau penggantinya sebagai menu wajib ada di dalamnya. Belum pernah sebelum ini terpikirkan olehnya gara-gara nasinya yang pernah diijualnya kurang ramai isinya akhirnya berbuah “complain”. Akh, nasi bungkus pun bisa ‘berbunyi’.

Duduk di depan sedikit ke kanan Ahmad sedang menggerus lombok dan sejumlah bumbu dalam cobek. Ia tidak menggunakan blender karena lomboknya cuma sedikit. Keduanya tampak serius dengan pekerjaannya meski dua anak lelakinya yang masih di Sekolah Dasar kadang berlari-lari kecil keluar masuk rumah. Sesekali pergelangan tangan Ahmad ia angkat kemudian mengusap matanya. Ia tampak memicingkan matanya yang terkena efek pedas lombok. Jizah yang dekat dengannya tersenyum karena geli ketika melihat mata suaminya kepedasan. Obrolan yang ditingkahi guyonan akhirnya tak luput memecah keseriusan kerja mereka.

“Kalau nggak begini Sampean nggak nggulek, kan?” Jizah menggoda suaminya.

“Hus, jangan dikira aku dulu nggak sering nggulek seperti ini.” Ahmad mengenang dirinya ketika masih berusia belasan tahun belajar di pesantren. “Sewaktu dulu di pesantren aku hampir tiap hari nggulek, lho.”

Teringat olehnya beberapa wajah temannya. Teringat perilaku lucu ketika berebut cobek. Jika sudah dapat cobek bukan berarti selesai masalahnya. Kendil untuk memasak harus antri juga. Parahnya, kendil untuk menanak nasi sering juga berfungsi sebagai merebus air. Yang berarti, bisa dibayangkan berapa waktu dihabiskan untuk bisa makan dengan lahap.

“Untung dulu urusan beli bumbu sudah ada yang mengurusi,” Ahmad membuka cerita pada istrinya. “Aku jadi ingat jasa Wak Shomad dan Bu Sapik yang berjualan bumbu masak. Yang paling kuingat waktu itu adalah penyedap rasa yang selalu kumasukkan semua dalam cobek setiap beli bumbu.” Pikirannya menerawang ke sebuah warung dekat pesantren di kotanya.

“Hah, semua?”

“Ya, itu konyolnya. Makanya yang kurasa waktu itu masakannya pasti enak.”

“Enak bagaimana?” Jizah merasa heran.

“Maksudku karena penyedapnya banyak, pasti rasanya gurih, kan? Dan waktu itu aku nggak bisa membedakan antara enak yang sesungguhnya dengan enak karena kebanyakan penyedap rasa. Mungkin karena sudah lapar, ya… enak jadinya makannya ha.. ha…”

Ya, dulu pesantren itu suasananya masih tradisional, khususnya dapur yang digunakan untuk memasak. Meski tidak jauh dari kota banyak pohon rimbun di sekitarnya. Dapurnya dipakai bersama-sama. Karena santrinya tidak terlalu banyak dapur berukuran sekitar 30m2 itu menjadi mengesankan untuk dikenang. Terutama suasana gelap interiornya akibat pekatnya jelaga. Khas suasana rumah-rumah di pedesaan jaman dulu. Tungkunya dibuat dari bata merah yang dibalut semen. Atap dapur hanya ada genteng tanpa eternit. Tembok keliling dapur masih dibuat dari gedhek sehingga asap buangan memasak langsung menyelinap ke sela-sela gedhek dan genteng. Kayu bakar untuk masak nasi bisa diambil dari sekitar pesantren yang memang banyak belukar di situ. Tapi ada juga yang mengunakan minyak tanah dan kompor. Di sebelah pesantren tersebut terdapat sungai besar sehingga jika sore banyak santri yang rileks dan nyantai di pinggiran sungai. Ingin rasanya mengulang pengalaman indah masa itu.

oo0oo

Hari-hari di dapur seperti ini dilakukan Ahmad agar lebih meringankan pekerjaan istrinya. Sebenarnya bagi Jizah semuanya bisa ia atasi sendiri. Tapi Ahmad sengaja ingin melakukannya karena ia juga merasa tak ada sesuatu yang dikerjakan di rumahnya. Rasa shock sebagai pengangguran masih kental menyelimutinya. Makanya waktu yang terasa panjang ia sibukkan dengan membantu istrinya di dapur, sambil memikirkan pekerjaan pengganti.

Kalau boleh memilih tentu ia ingin keluar rumah dan mengerjakan apa saja yang pas bagi dirinya sehingga memperoleh penghasilan. Terbayang oleh Ahmad wajah-wajah temannya yang juga sama-sama terkena PHK, dan kini mungkin juga sama-sama masih bingung akan bekerja apa. Membantu istrinya jualan nasi bungkus inipun hanya sesekali. Tidak setiap hari. Ia sudah berkeliling mencari peluang bisa mengisi jualan nasi bungkus tapi seperti tak juga mendapat tempat yang pas.

Dunia nasi bungkus telah diisi pesaing lama yang sudah exist dari dulu. Kalaupun ada peluang lokasinya kurang menjanjikan dan biasanya berakhir dengan kerugian. Pernah Ahmad mencoba di sebuah sekolah. Dibayangkannya, dengan jumlah siswa yang ratusan setidaknya sepuluh atau dua puluh bungkus akan dengan cepat ludes dibeli mereka. Tapi fakta berbicara tidak seperti yang dibayangkan. Memang pernah habis, tapi kerugiannya lebih banyak daripada keuntungannya. Akhirnya Ahmad mundur mengisi nasi bungkus di sekolah itu.

Meski belum puas dengan upayanya menemukan peluang tempat mengisi nasi bungkus Ahmad juga berfikir untuk menjadi guru lagi seperti dulu. Selama ini, sebelum terkena PHK selain sebagai pekerja jasa meski sedikit ia juga masih mengajar. Tapi hanya Sabtu dan Minggu. Beberapa hari terakhir ini setiap ada info peluang mengajar di suatu sekolah Ahmad langsung merespons, dan esoknya ia mengirimkan proposal lamaran. Tapi khabar peluang itu rata-rata sebatas dugaan dari pemberi info. Sudah tiga lembaga Ahmad masuki, dan ketiga-tiganya hampir selalu menjawab nihil jika tidak fifty-fifty.

Namun di sela rasa stress berkepanjangan karunia Allah masih diperoleh keluarganya. Ia mendapat kesempatan mengisi nasi bungkus setiap hari libur. Di rumah yang juga warung kakak perempuannya. Yang berarti sudah tidak perlu lagi perlu waktu untuk beradaptasi dengan pemiliknya. Sudah berjalan beberapa bulan setiap pengiriman nasi bungkus di situ tidak pernah tidak habis. Dari sisi harga penjualan di sini juga lebih baik.

Karunia Allah tampaknya tidak berhenti hingga di situ. Sebelumnya ia hampir putus asa mengingat pengeluaran untuk keluarganya tak mungkin dihentikan, sementara pekerjaan yang jelas belum juga ia temukan. Mengharapkan hasil nasi bungkus yang cuma sehari seminggu pasti harapan yang sia-sia. Beberapa minggu lalu Ahmad mencoba memasukkan lamaran mengajar lagi. Kebetulan kepala sekolahnya sudah ia kenal. Entahlah, padahal selama ini bukan tidak ada pikiran ke tempat ini. Dan alhamdulillah, keterbukaan kepala sekolahnya menjelaskan ada kemungkinan peluang untuk mengisi kekosongan di sekolahnya.

Keluar dari rumah temannya itu hati Ahmad sangat berbunga-bunga. Meski masih perlu konfirmasi pada pimpinan lembaganya jawaban sementara itu sudah seperti hujan di musim kemarau. Sejuk hatinya saat itu.

Esoknya, ketika bersantai menggunakan sepeda Ahmad mampir di temannya yang lain. Kebetulan ia juga salah satu guru di tempat bakal ia mengajar. Ada info bahwa posisi yang akan dimasukinya gurunya kini hendak keluar karena pindah kerja di kota lain. “Ya Allah, inikah pertanda baik bagi hambaMu ini? Inikah karunia yang tertahan untukku selama ini?”

oo0oo

Ahmad sudah mengamati jalan sepanjang menuju sekolah. Dicarinya peluang agar bisa menaruh nasi bungkus istrinya di sepanjang jalan menuju sekolahannya. Hanya ada satu titik, tapi seperti sulit untuk dimasuki. Beberapa hari lalu ketika ngobrol-ngobrol Muhdi, temannya, mengeluh akibat sulitnya menemukan nasi bungkus dengan harga yang terjangkau siswa.

“Sebenarnya istriku sekarang berbisnis nasi seperti yang kamu ceritakan.”

“Akh, yang benar, Mad?”

“Memang tidak cuma nasi bungkus. Tepatnya catering, juga nasi kotak. Yang berarti termasuk nasi bungkus, kan?”

“Kalau begitu kebetulan, Mad. Ya, dikirim saja anak-anak tiap hari kalau begitu.” Tapi wajah Muhdi seperti masih belum begitu gembira.

“Kemana?”

“Tapi bagaimana caranya, ya?“ Alis Muhdi tampak mengernyit. Muhdi mencoba menyeruak sekat permasalahan konsumsi siswanya selama ini. Bayangan bengkel tempat para siswanya bekerja di sekolah menampakkan situasi kecemasan karena lapar yang ditahan-tahan. Tak ditemukan makanan murah di sekitarnya. Kalaupun ada biasanya sekedar makanan penawar sementara semacam cilok, yang pasti tidak mengenyangkan.

“Dimana?”

“Di bengkel kan tak ada makanan. Tapi bos pasti marah jika ada guru atau orang lain yang berjualan di situ. Maksudku, cobalah menggunakan orang lain yang mengantarnya. Yang penting bukan guru disini.”

“Ngisruh kamu, Di. Bagaimana mungkin menggunakan orang lain yang jualan di situ sementara yang dijual hanya nasi bungkus. Apalagi kamu bilang tadi tidak mungkin orang lain berjualan di situ. Dan lagi, memangnya keuntungan nasi bungkus itu ratusan ribu sehingga pakai orang lain?”

“Ya itu masalahnya,” sergah Muhdi masih tak menampakkan bahagia. “Saya itu kasihan dengan anak-anak. Di tengah menyelesaikan pekerjaan ketika istirahat mereka pasti mencari makanan. Ada di dekat situ tapi harganya nggak kuat mereka.”

“Kalau dengan cara kukirim bagimana? Maksudku asal ada yang mengkoordinir. Jadi nanti aku cukup berhubungan dengan koordinatornya saja.”

Muhdi tak segera menjawab. Ia masih berupaya meyakinkan Ahmad agar ada orang lain yang setiap hari datang di bengkel. Sebaliknya Ahmad mulai kehilangan kesabaran dengan jawaban Muhdi. Seperti masih ada yang disembunyikan.

“Tak tahulah, Mad. Di sini seperti serba repot.”

Belakangan diketahui, dari pengakuan satpam penjaga sekolah di situ memang tidak dibolehkan dijual nasi bungkus. Bukan hanya nasi bungkus. Semua makanan kemasan plastik juga dilarang dijual di situ. Alasannya sederhana. Siswa tidak bisa mengendalikan sampah. Sudah disediakan tempat sampah tapi seperti hanya jadi hiasan saja. Di sana-sini sampah menyelinap, di luar maupun dalam kelas. Bahkan dalam bangku-bangku!

“Akh, sayang,” gumam Ahmad. Sebenarnya ini adalah karunia bagi istrinya seandainya saja peluang ini bisa dimasuki. Pikiran Ahmad mengunjungi wajah istrinya di rumah. Ia tak menampakkan kecemasan meski dirinya belum menemukan pekerjaan yang memadai seperti sebelumnya. Mungkin Allah masih mengujinya untuk terus mencari karunia itu. Dan Ahmad masih berupaya menemukannya.

Monday, January 5, 2009

Cerpen kelima - Si Gila


Kaki Ahmad berselonjor. Duduk sendirian di beranda depan rumahnya. Sore hari di atas tikar beranyam daun. Di sebelahnya segelas besar teh menemaninya. Dipandanginya hijau daun-daun bunga pada sepetak tanah.

Sungguh tenang hidup bunga-bunga ini, pikir Ahmad. Ia coba dekati satu pohon bunga. Ia amati struktur daunnya. Batangnya memanjang seperti padi. Demikian juga daunnya. Meski serupa tapi ia tak kasar seperti yang tadi. Subhanallah! Maha Suci Sang Pencipta demikian beraneka ragam tumbuhan. Ahmad menatapnya. “Kenapa aku tak tahu namanya? Bukankah ia sudah lama berada di sini, di dekatku?”

Agak lama ia tercenung, pandangan matanya nanar. Pikirannya tak fokus pada bunga tadi. Mata Ahmad bergeser ke pohon bunga di sebelahnya. Daunnya lebar menyerupai waru yang terbalik. Hijau bertabur bintik-bintik putih. Tulang daunnya berwarna merah. Lagi ia bertanya kenapa pula ia tak tahu nama pohon ini? Segera matanya menebar ke beberapa pohon yang lain. Lekuk daunnya berbagai-bagai. Juga batang serta bunganya. Akh, ternyata begitu banyak dirinya yang tak kenal mereka.

Berhenti memandangi pohon bunga berukuran setengah hingga satu meter ia lempar pandangannya ke sejumlah rerumputan di sekitarnya. Lagi-lagi ia tak tahu namanya. Hatinya tersenyum. Selama ini ia cuma menamainya rumput. Ya, semua yang tumbuh kecil-kecil ia namainya rumput. Tapi lagi-lagi pandangannya nanar. Pikirannya mulai galau.

Ahmad kembali duduk berselonjor di atas tikar. Hatinya mulai merasa tak menentu. Tatapan matanya ke arah anyaman tikar. Ia perhatikan salah satu baris anyaman yang muncul-tenggelam bergantian. Seolah gambaran dirinya yang juga muncul-tenggelam akhir-akhir ini. Sejenak kemudian tangan kanannya mengangkat gelas, menyeruput beberapa teguk teh di sampingnya. “Akh, nikmatnya,” gumam Ahmad. Kembali hatinya tersenyum.

Tiba-tiba ia teringat pohon bunga milik adiknya, Liza. Pikirannya melayang ke salah satu gambar kebun bunga yang dikirim Liza, yang hingga kini belum pernah ia temui. Liza pernah bercerita, dulu kegiatan sehari-harinya adalah merawat bunga di samping rumah. Ia juga bercerita punya sejumlah pohon yang buahnya besar-besar.

Tapi ada yang dirasa aneh olehnya, kenapa musti adiknya ini yang sering ia ingat? Bukankah dirinya seperti tak berdaya untuk menemuinya?

Belum mendapat jawaban ia teringat perbincangan dengannya tentang kutang. Byuh! Malu rasanya jika ingat itu. Tapi anehnya kadang ia malah senang bukan main. Senang karena ingat bahwa ia telah membuat adiknya merasa senang. Tapi malu karena ia merasa seperti sudah gila. Bagaimana tidak dikatakan gila, sama sekali belum pernah ia jumpa dengannya. Apalagi menatap atau sekedar berjabat tangan dengannya. Tapi guyonannya sudah sampai ke cerita barang “syubhat” macam kutang.

oo0oo

“Mas sudah pernah ke Bromo?” Ahmad teringat pertanyaan Liza.

“Tapi sudah lama sekali. Sudah puluhan tahun lalu.” Pikiran Ahmad melayang ke masa ketika ia masih muda. “Masih belum kawin dulu. Waktu itu lewat Probolinggo, bukan lewat Pasuruan.”

“Mau dengar share tentang pengalaman ketika di Bromo dulu?” Ahmad memancing pembicaraan lebih lanjut.

“Boleh.”

Tiba-tiba senyum Ahmad tak mampu ia sembunyikan. Sejenak kemudian malah ia tertawa ngakak mengingat peristiwa di sana.

Liza yang mendengar via handphone di seberang jadi terbahak mendengarnya. “Lho, koq ketawanya dahulu,” derainya juga tak kuasa menahan tawa.

“Ha… ha..” Ahmad tak kuat menahan tawa mengingat peristiwa itu. “Kamu tahu kenapa aku tak kuat menahan ketawa?”

“Enggak.”

“Dengar, ya.” Tawa Ahmad mulai reda. Handphone di tangan kiri ia pindah di sebelah kanan. Terasa sedikit pekak telinganya. Tapi senyumnya masih terlihat menyungging.

“OK.”

“Waktu itu Mas dengan beberapa teman. Kami sekelompok berempat. Di lautan pasir di kaki Gunung Bromo sudah demikian ramai orang. Tenda-tenda sejumlah kelompok orang sudah banyak yang berdiri. Tapi lebih banyak yang berlalu-lalang. Udara sangat dingin waktu itu, apalagi untuk ukuran kami yang biasa hidup di daerah panas macam Bangil atau Surabaya. Rata-rata mereka juga kedinginan. Suasana masih gelap. Yang terlihat cuma samar-samar, seperti hanya bayangan. Dalam jarak beberapa meter pun tak mampu kami melihat dengan jelas wajah satu dengan yang lain. Apalagi kabut tebal waktu itu datang silih berganti menyelimuti suasana pagi.

“Puncak Bromo tempat dilangsungkannya ritual lumayan jauh ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu itu tak ada kendaraan bermotor. Hanya kuda sewa. Itupun hanya sampai di kaki tangga pendakian. Sebagai orang yang baru datang tentu kami ingin tahu ada apa di situ. Tapi hanya hamparan pasir dan sejumlah tenda atau kerumunan orang yang lalu-lalang. Hanya beberapa orang yang membawa lampu senter, itupun tak dinyalakan terus-menerus.

“Waktu itu kami agak bingung mau apa dengan keadaan di situ. Tenda kami belum lagi berdiri. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara seseorang yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Suaranya keras meski segera termakan suasana lautan pasir yang dingin menggingit.

“Jiangkriiik… mosok sak mene akehe gak onok wedoakene blas!”

“Hua ha..ha..ha…” Terdengar hampir semua orang di sekitar kami tertawa ngakak mendengarnya. Termasuk kami yang mendengar jelas orang tersebut.

Ahmad tak kuat menahan ledakan tawanya. Liza yang mendengarnya di seberang seperti hanya ikut-ikutan tertawa. Tapi tak tahu maksudnya. Setelah berhenti tertawa, baru Ahmad menjelaskan makna ucapan orang tersebut.

“Ya, Allah. Ada-ada saja orang itu.” Liza juga tak kuasa menahan ketawa yang ditahannya. Sebaliknya Ahmad masih terkekeh karenanya. Seperti biasanya, matanya bahkan mengucurkan air mata karena merasa lucu.

“Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan padamu, Dik?”

“Oh, ya?”

“Ada yang lucu lagi. Mau mendengarnya?”

“Baik.”

“Tapi, maaf ya. Hampir sama dengan yang tadi. Maksudku, agak ngacau. Tapi memang di situlah letak kelucuannya.”

Liza hanya terdengar sedikit tertawa. Seperti bilang setuju.

“Eee… suatu ketika salah satu temanku, Holis, seperti usil. Udara dingin membuatnya ingin menggerakkan tubuhnya agar tak kedinginan. Lama keluar dari tenda tahu-tahu ia kembali sambil ketawa ngakak. Tentu saja kami yang ditinggal sempat bengong melihatnya.”

Datang agak tergopoh-gopoh ia masuk tenda. Tangan kanannya mengepal sambil ia pukulkan ke tangan kirinya yang terbuka. Wajahnya tertawa riang ketika melihat kami asyik duduk bersila sambil cerita.

“Laopo koen nggegekae, Jal” tanya Sa’ad kepadanya.

“Cok, awak mari oleh kharim maeng, rek. Timbang gak onok maneh, masio rodok-rodok tusus tak wed-ae.”

“Ha..ha..” kami tertawa hampir bersamaan. “Asyik?” selidik Sa’ad.

“Dapake,” Holis sedikit menjelaskan. “Tapi gak ngurus, sing penting oleh sebetan thithik-thithik he..he..”

“Terus.” Sa’ad tak sabar mendengar cerita lanjutan Holis. Ahmad merapatkan duduk silanya, juga tampak antusias. Awad segera menaruh gitarnya, seperti juga ingin segera mendengar berita Holis.

“Tadi aku jalan-jalan. Ee… mlasak mrono-mrene, gak ketemu kharim blas. Onok siji. Rodok tusus, sewek’an pisan. Tak pikir, timbang kademen, tak cedeki. Mari ngomong ngalor-ngidul, akhirnya kena juga dirembug dia.

“Ha..ha.., terus.” Awad berbinar wajahnya.

“Singkat cerita, akhirnya aku bisa mepet dia. Lumayan, gawe tombo adem. Nah, kemudian tangan kumasukkan ke bajunya. Biasa, gerilya,” ceritanya sambil ngakak.

“Ha..ha.. diapakano-ae, rek” timpal Sa’ad seperti konfirmasi.

“Iki, menengae ta…” celetuk Ahmad kepada Sa’ad seolah mencegah agar cerita tak terputus lama-lama.

“Bareng tangan mlebes… hua..ha..ha..atos!”

“Ha..ha.. apanya yang atos?” Haris seperti pura-pura tak mengerti. Yang lain terkekeh tak tahan menahan geli.

“Dususe kayak terpal. Tak resem dari depan gak kenek. Lewat bagian bawah ketat, gak kenek. Sudah gitu belakangnya pakai ping-pingan pisan.”

“Hua..ha..ha...” Semua tak tahan menahan tawa.

Udara dalam tenda yang semula terasa dingin waktu itu serasa kontan hangat. Sa’ad yang duduk di samping Awad sempat terjengkang. Seperti sedang histeris, kakinya menjejak kaki Haris. Tubuhnya yang mundur beberapa senti malah menghantam gitar di sebelah Awad. “Brak!” Sialnya, gitar menyenggol tiang penyangga tenda, hingga hampir roboh.

oo0oo

Ahmad senyum-senyum ingat cerita itu. Kepada Liza ia memang sudah bukan seperti dengan orang lain. Bahkan pada waktu yang lain Ahmad membuat ia dan dirinya terpingkal-pingkal.

“Punya kamu pasti ping-pingan juga, kan?” goda Ahmad kepada Liza. Tawa kecilnya tak berhenti terdengar dari balik telepon.

“Mas tahu saja.” Seolah tak mau menghentikan suasana ceria Liza mengiyakan saja apa yang dikatakan Ahmad. Derai tawa Liza juga terdengar.

“Dan talinya guna rafia, kan?” Ahmad mendramatisir sambil tertawa keras. Air matanya keluar deras. Sesekali tangan kanannya menyeka tak mampu menahan laju air matanya.

“Ha..ha.. Ya, Allah. Mas ini ada-ada saja.”

“Tapi bilang, iya, kan?”

“Ya, Allah… Mas ngacau.“

“Alaa, jangan pura-pura gitu, Dik. Malah mungkin keadaanmu lebih kacau lagi pastinya.”

“Ha..ha.. Maksud, Mas?”

“Pasti talinya warnanya kontras, kan? Jika BH-nya hijau, pasti talinya merah. Gitu, kan?”

“Ha..ha..” Ledakan tawa Liza tak kunjung berhenti. Ia tak mampu berkata kecuali tertawa.

oo0oo

Sore itu Ahmad sebenarnya merasa malu karena ingat cerita tentang barang “syubhat” itu. Ia merasa malu melihat dirinya sendiri. Seperti sudah benar-benar gila. “Bagaimana aku ini, kenal dia saja tak begitu lama. Tak pernah bertemu orangnya tapi omongannya sudah ngalor-ngidul.”

Malu jika teringat bagaimana Liza memperlakukan dirinya. Membandingkan Liza yang sering mengiriminya SMS. Tentang renungan yang dinukilkan dari ayat-ayat Al-Quran. Jika tidak begitu diambilkan dari hadits-hadits Nabi. Atau setidaknya kata-kata berisi motivasi selalu mengisi hari-hari selama kontak dengannya.

Dalam beberapa kesempatan Liza mengiriminya hadiah berupa pakaian untuk keluarganya. Ia juga pernah memberi souvenir, menghadiahi obat-obatan, juga buku-buku yang dibutuhkannya. Bukan cuma itu. Liza bahkan sudah sangat percaya padanya dengan mentransfer sejumlah uang. Meski uang pinjaman ia memperlakukannya seperti pinjaman seumur hidup. Tanpa jaminan. Bukankah ini sudah “gila”?

Sementara ia sekedar menemaninya share ringan tentang berbagai hal. Jika bukan itu, ujung-ujungnya, ya, guyonan alias joke saja. Dirinya merasa sebagai lelaki biasa yang merasa tak bisa membalas jasa. Seperti tak berharga. Tak ada keseimbangan dalam hidup bagaimana ia seharusnya. Seolah tanpa makna. Gila!

Yang dirasanya tambah gila adalah bagaimana sikapnya selama ini padanya. Meski tak persis, yang ia inginkan dirinya bisa berbuat sesuatu untuk adiknya. Membuat adiknya bahagia dari kejauhan. Tapi yang ia lakukan sepertinya sudah kelewatan. Di luar batas. Muncul perasaan sangat suka padanya, seolah sebagai istri! Menyatakan sayang, juga cinta. To say love and to be loved. Bukankah itu sudah gila? Kaki Ahmad kembali berselonjor. Duduk sendirian di beranda depan rumahnya, di sore hari di atas tikar beranyam daun. Dipandanginya salah satu baris anyaman tikar yang muncul-tenggelam. Pikirannya melayang ke sebuah negeri tempat adiknya. Mungkinkah ia juga berangan-angan gila sepertinya? Akh, semoga ia tak seperti si gila!