Sunday, November 15, 2009

Getir


Ahmad sengaja meluruskan kakinya hingga hampir menyentuh kaki Zuhri. Ia puas-puaskan kakinya berlama-lama tak bersepatu, sekedar mengurangi penat kakinya usai mengajar sejak pagi. Di mushalla ini ia sering bersantai sejenak, sebelum shalat dhuhur bersama-sama dengan teman guru lain juga murid-muridnya.
Ketika dhuhur tiba shalat berjamaah di mushalla seluas sekitar 150m2 itu biasanya dilakukan dua hingga tiga kali gelombang. Bukan karena banyaknya jamaah yang shalat, tapi semata yang datang berkelompok-kelompok. Banyak yang beranggapan lebih simple dilakukan demikian.
Zuhri duduk membelakangi sebuah pilar mushalla. Ia tampak lunglai. Duduk dengan wajah setengah kuyu tatapan wajah lelahnya memancarkan kepasrahan dirinya. Sebagai guru dengan subjek Pendidikan Agama Islam ia sering mondar-mandir mushalla-kelas mulai pagi hingga hampir maghrib. Rasa capai pasti sudah menjadi kebiasaan sehari-harinya.
Seperti sejumlah guru lainnya Zuhri adalah pendatang di kota ini. Bedanya dengan guru pendatang lainnya ia didaulat mengoordinir pembinaan keagamaan murid secara lebih fokus, sesuai alur kebijakan stakeholdernya. Walhasil, jam mengajarnya boleh dibilang sangat padat. Setidaknya itu ditunjukkan dari tiap hari ia selalu di sekolah mulai pagi hingga menjelang maghrib. Apalagi khabarnya ia juga masih memberi kursus privat untuk pelajaran tertentu bagi siswa yang menginginkannya.
“Wah, capai banget nih,” keluhnya pada Ahmad mengawali pembicaraan.
Ahmad memandangnya dengan lembut. Seperti sedang berbagi simpati, sambil tersenyum Ahmad mencoba cari tahu kebiasaannya. “Sampean nggak biasa pijat?”
“Nggak.” Ia terdiam sejenak. “Tapi jika di rumah, ya, pernah. Di sini aku tak tahu dimana pijatnya.”
“Lah, kalau sudah capai seperti sekarang ini?”
“Ya, dikuat-kuatkan. Bagaimana lagi.”
Ahmad hanya mendengarkan penuturan temannya. Ia memahami bagaimana keadaannya, dengan merasakan dirinya saat itu yang juga sama-sama capai. Padahal dirinya tak begitu lebih keras kegiatannya.
Sejurus Ahmad mengalihkan pandangannya ke tempat di sebelah kiri mushalla. Sebuah halaman yang ditumbuhi sejumlah pohon tinggi semacam pohon palm. Tidak terlalu luas, meski juga tak sempit. Lebih pantas dianggap sebagai area parkir. Tampak tak begitu terawat, jika bukan kumuh.
Bosan menatap jauh ke halaman, Ahmad meliuk-liukkan leher kepalanya yang sedikit kaku. Terasa sedikit lebih ringan rasanya. Meski rasa penat di sekujur kakinya menahannya untuk berlama-lama duduk, waktu istirahat yang hampir habis memaksanya berdiri dan bersegera mengambil air wudlu. Demikian halnya Zuhri. Ia masih asyik bersandar di tiang tembok penyangga bangunan. Ia sudah berwudlu, tapi tak juga berdiri. Ujung depan rambutnya dibiarkan basah tergerai tanpa disisir. Shalat jamaah gelombang kedua belum juga dimulai.
“Ini belum yang sore,” tegasnya sebelum beranjak shalat.
Ahmad tak bereaksi mendengar keluhannya. Kembali ia memandang Zuhri. Terbayang oleh dirinya jumlah jam mengajar yang padat yang diterima temannya itu. Terbayang juga bagaimana Zuhri senantiasa stand by di sekolah mulai pagi hingga hampir maghrib. Waktu istirahat seperti ini pasti demikian berarti baginya. Apalagi tugas sekolah di sini bukan cuma mengurusi bagaimana menyiapkan materi dan mengajar dengan baik. Bukan hal yang asing jika hampir setiap guru juga menangani keuangan.
oo0oo
“Apa maksudnya menangani keuangan, Mas?” tanya Izzah suatu saat seperti ingin tahu.
“Ya, biasalah… misalnya, apa yang seharusnya dilakukan guru yang juga wali kelas ketika tahu bahwa anak-didiknya banyak tunggakan bayar sekolah. Atau apa pula maneuver guru ketika sedang bersiap masuk kelas untuk menyampaikan materi tertentu namun tiba-tiba mendapat edaran tagihan dari bagian tata usaha agar menyampaikan kepada siswa saat itu juga.”
“Oh, begitukah? Yang berarti waktu mengajarnya pasti berkurang, kan?”
“Pasti.”
Sebenarnya saat itu Ahmad merasa enggan bercerita tentang hal ini kepada Izzah, temannya yang juga guru, di Johor, Malaysia. Ia merasa malu melihat dirinya seperti itu. Seperti hendak membuka dapur nestapanya. Apalagi tahu Izzah masih belia, tapi sudah melangkah melebihi dirinya. Terlebih jika mendengar bagaimana nasib guru di negeri jiran itu. Tapi background sesama guru, apalagi sudah akrab, akhirnya menghilangkan perasaan enggan itu. Juga, kesahajaan Izzah dengannya membuat Ahmad cukup terbuka.
Uniknya, begitu perasaan enggan itu hilang Ahmad bahkan menceritakan keadaan sekitar dirinya lebih jauh, termasuk teman-temannya.
Saat itu pikiran Ahmad tiba-tiba teringat pada temannya yang seorang kepala sekolah di sebuah sekolah menengah atas. Entahlah, tiba-tiba Ahmad merasa bahwa itu adalah suatu realita yang tak perlu ia tutup-tutupi. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah itulah salah satu cara dirinya memahamkan Izzah agar teman chattingnya itu tak berharap berlama-lama di YM dengannya. Meski tidak semua guru di sekolahnya demikian, Ahmad ingin menyiratkan bahwa dirinya tidaklah jauh dari apa yang ia ceritakan.
Pikiran Ahmad menuju seorang temannya. Namanya Moke, seorang kepala sekolah yang juga guru. Hidupnya sangat bersahaja, jika bukan dibilang tanpa perubahan apapun dari sisi kepemilikan. Ia sudah lebih dari lima belas tahun mengajar, tapi hingga kini untuk kredit motor saja Moke tak mampu. Padahal ia bekerja full time di situ. Ahmad teringat ketika suatu hari Moke bercanda.
Saat itu hampir tiba waktu memperoleh gajian bulanan. Ahmad dan beberapa teman guru lainnya sedang menikmati masa istirahat mengajar. Kongkow bareng dengan duduk-duduk di udara terbuka merupakan kegiatan yang mengasyikkan. Di situ semua level status social setidaknya bisa saling bertegur sapa, mulai dari pemilik atau pimpinan sekolah, guru, wali murid, petugas kebersihan, murid, bahkan penjual makanan sekalipun. Di dekat parkir motor Moke berseloroh, “Wah, sebentar lagi banyak uang bertebaran, nih.”
Ahmad yang berada di sampingnya merasa tertarik dengan ucapannya. Ia belum faham maksudnya. Ia membayangkan bahwa itu tak jauh seperti ramainya orang membagi-bagikan uang atau daya tarik lain saat-saat musim kampanye.
Temannya itu tampak tersenyum lebar. Tapi anehnya raut mukanya tak menampakkan kegembiraan yang sangat, lazimya orang yang akan mendapat rezeki. Dalam benak Ahmad mungkin Moke bakal mendapatkan rizki.
Agak lama terdiam, sambil tersenyum kecut, Moke menunjuk seorang teman guru yang baru datang dari arah parkir sambil setengah berteriak, “Nah, ini dia golongannya,” sergahnya sambil menunjuk seseorang yang mendekatinya.
Belum sempat memperoleh jawaban Ahmad dan sejumlah temannya yang ada di situ segera mengalihkan pandangan ke arah datangnya lelaki itu.
Marzuki yang menjadi bahan pembicaraan uniknya seperti sudah hafal dengan gaya Moke bercanda. Ia memang belum tahu maksud kawannya itu. Tapi agak jauh usai turun dari motor tangan kanannya sudah ia angkat sambil melentikkan ibu jari dan jari tengahnya. “Apa? Pasti fulus, ya? Utang-utangan lagi, ya?” berondongnya sambil tertawa lebar.
Moke kontan terbahak-bahak mendengar jawaban jitu Marzuki. “Betul, kan, kalau sebentar lagi ada uang bertebaran?”
Saat itu Ahmad menangkap suatu ironi dari wajah Moke. Temannya itu memang tampak gembira, tapi bukan rahasia lagi kalau sebenarnya hari-harinya berada dalam kegetiran. Kegetiran karena absennya financial!
“Dimana banyak uang bertebaran?” Asyari yang duduk agak jauh dari Moke agak penasaran. Sepertinya ia terprovokasi dengan istilah yang dipakai Moke.
“Lho, jelas, kan? Sekarang tanggal berapa?”
Semua yang duduk di situ hanya diam. Karena semua tahu bahwa saat itu tanggal 10. Yang berarti beberapa hari lagi saatnya menerima gaji.
“Artinya, orang seperti awak-awakan ini sebentar lagi akan “menebar” uang ke sini sekian, ke sana sekian, dan yang lainnya lagi sekian. Begitu, kan?”
Ahmad baru faham maksud uang bertebaran itu. Bahwa guru semacam Moke harus segera mendistribusikan gajiannya untuk nyahur di sejumlah tempat.
Moke tampak terkekeh-kekeh bisa mengerjai teman-temannya. Anehnya, semua yang ada di situ merasa senang.
“Akh, bisa aja Ente ini,” sahut Asyari terkekeh. “Kukira uang apa yang bertebaran.”
Pagi setengah siang itu seperti perulangan hari-hari sebelumnya. Guru-guru di situ berkumpul untuk saling berbagi joke, sekedar berupaya menepis perasaan getir untuk sementara waktu. Memang hanya guru laki-laki, meski hanya beberapa saja. Tapi percikan-percikan joke itulah yang membuat mereka “betah” kerja di situ. Saling memahami kondisi satu sama lain.
Sebagai sesama guru, apalagi bukan pegawai negeri dengan pangkat strata menengahpun, pastilah banyak yang sudah punya hutang di sana-sini untuk mencukupi kebutuhan primernya. Bantuan tertentu dari pemerintah hingga saat ini hanya sebagai pelipur lara. Masih juh dari mencukupi. Perasaan getir karena belitan ekonomi sehari-hari seperti sudah bagai kudapan harian. Sangat hafal bagaimana cara menyiasatinya. Yaitu dengan ambil dulu, bayar kemudian. Jika bukan begitu, pembayaran dengan system kredit seperti obat mujarab guna pencapaian suatu tujuan. Bahkan untuk barang dengan harga puluhan ribu sekalipun. Dengan kalimat lain, sangatlah sulit bagi mereka dapat merasakan kemewahan dengan mengandalkan hanya dari gaji sebagai guru, bahkan kadang bagi yang sudah punya pekerjaan ekstra sekalipun!
Dan hasilnya bisa diketahui. Gajian mengajar mulai pagi hingga menjelang maghrib hanya untuk kebutuhan sangat dasar. Itupun sering untuk membayar kebutuhan yang sudah dilaluinya: bayar hutang. Akh, guruku, demikian getirnyakah nasibmu?
Mushalla pagi itu masih sepi. Murid-murid masih di kelas. Seperti halnya Moke, Ahmad sudah menginjakkan kakinya di mushalla ini belasan tahun yang lalu. Bersama dengan guru-guru yang lain Ahmad menjalani ritualnya di situ. Namun pagi itu hanya Ahmad yang ada di situ, mengisi waktu senggangnya dengan menyendiri usai shalat dhuha. Ia kembali duduk sambil meluruskan kakinya, tanpa Zuhri di depannya.

Wednesday, August 26, 2009

Honeymoon


Ahmad baru saja memasuki kamar hotel tempatnya menginap. Istrinya sedang rebahan di pinggir kasur dengan posisi agak miring ke kanan. Sepertinya hanya tidur melepas penat, setelah perjalanan beberapa jam dari rumah. Raut wajahnya pun tak tampak bahwa ia sedang tidur lelap.

Sebenarnya ia agak enggan hendak membangunkannya. Hatinya bertanya, adakah istrinya sedang menggoda dirinya dengan berpura-pura tidur? Seperti pernah dilakukannya di rumah? Sejurus kemudian Ahmad meyakin dirinya bahwa istrinya tidak benar-benar tidur. Ia melihat mata istrinya yang terpejam, tapi kulum sekilas sempat tak mampu disembunyikan. Bahwa istrinya memang hanya tidur bercanda.

“Dek.” Ahmad menyapa Liza perlahan, duduk di sebelah kaki kiri sambil memusatkan pandangan ke wajah istrinya. Menunggu jawaban. Tapi Liza seperti sengaja belum mau menjawab. Sengaja membiarkan Ahmad memanjakan dirinya dengan pura-pura tidur.

Memang Liza senang jika dimanjakan oleh Ahmad. Terasa dirinya begitu disayangi dan dicintai. Bibirnya hanya tampak sedikit mengembang tertahan. Sejurus Ahmad tersenyum, memikirkan sesuatu. Ia menanggalkan bajunya, berdiri dan memasukkannya dalam lemari . Kembali ia pandangi wajah istrinya dari kejauhan. “Dek, Sayang…”

“Hhm…” suara perlahan meluncur dari mulut Liza. Sejenak tampak mata istrinya sedikit terbuka, tapi segera tertutup kembali. Ahmad mendekat dan kembali duduk di sebelah kaki kiri istrinya. Ia pandangi pipi istrinya yang agak oval, terus ke dada, pinggul hingga kaki. Tapi tak hendak membangunkannya. Sebersit hatinya gemas dengan sifat manja istrinya. Sialan juga orang ini, pikirnya. Dipanggil “Dek”, tak menyahut. Eh, ditambahi “Sayang” baru bunyi.

Dengan manja Liza menjawab, “Ada apa, Mas?” Mata Liza saat itu benar-benar terbuka.

Melihat istrinya mulai bereaksi, Ahmad merapatkan posisi duduknya. Tangan Ahmad mengelus-elus lembut betis Liza hingga sedikit ke paha. Tubuh Liza berangsur menengadah, mulai penuh memandangi suaminya duduk di dekat kakinya. Kulum senyum Liza terpancar, seolah ingin meyakinkan bahwa ia telah mendengar sapaan suaminya. “Ada yang ingin dishare?”

Ganti Ahmad yang mengulumkan senyum pada istrinya. Dilihatnya wajah istrinya dengan sedikit nakal, seakan ingin menggodanya. “Ya.” Ahmad mengangguk pendek. Tapi senyum nakalnya tetap ia pertahankan. Sejurus Ahmad merebahkan dirinya, miring di sebelah Liza. Liza kembali memiringkan posisi tidurnya. Ahmad merapatkan dirinya sambil mendekapnya lebih hangat. Tangannya membelai-belai lembut rambutnya, juga ke pipi.

Liza jadi agak berdebar. Matanya kembali terkatup. Pikirannya kembali ke rumah, ingat saat-saat pertama bersama suaminya usai menikah. Tiba-tiba ia punya firasat, akh, jangan-jangan…

Tapi agaknya Ahmad hanya berhenti sampai di situ. Tak ada perlakuan lanjutan yang menambah “kekhawatiran”Liza. Kembali ia merasa agak heran, apa yang akan dishare dari suaminya itu. Apalagi ia tak juga segera bincang. Tapi segera Liza bisa menguasai diri, karena tahu bagaimana suaminya sering memperlakukan dirinya seperti itu. Ia jadi teringat selama merajut cinta dengan suaminya. Ia sudah kenal dengan perangai suaminya yang suka menggoda itu. Malah Liza mengakui, dengan sikap suaminya itulah akhirnya dirinya jatuh cinta padanya.

Liza membuka matanya, sambil menguatkan bertanya. “Pasti mau ngusik, ya?” Seolah hafal apa yang akan dilakukan suaminya padanya.

Ahmad hanya tersenyum mendengar istrinya langsung menerka seperti itu. Pura-pura tak berniat demikian. “Akh, nggak juga. Tadi malam Mas ketemu lagi dengan Izzah.”

“Oh, ya? Bagaimana khabar dia? Baikkah?”

“Masih sama.”

“Maksudnya?”

“Tidak ada hal yang istimewa.” Ahmad menatap wajah istrinya untuk meyakinkannya. Sedikit senyum ia berikan, seolah menyampaikan agar istrinya tak perlu kuatir. Dan Liza menangkap makna senyum itu.

Beberapa saat kemudian Ahmad mengalihkan pandangan ke luar kamar. Pemandangan alam yang indah dengan tebaran warna hijau bertabur warna-warni bunga sore itu seperti membangkitkan dirinya menelusuri keterpesonaannya. Pikiran Ahmad saat itu tiba-tiba ingin mengajak istrinya jalan-jalan menikmatinya. Berjalan bersama dan bermesraan. Tapi ia merasa harus menjawab lebih lagi pertanyaan istrinya. Ia tak ingin menyimpan sesuatu darinya.

“Ia tak berputus asa sepertinya.” Tatapan Ahmad masih keluar kamar. Beberapa saat kemudian ia alihkan kembali pandangannya ke Liza. Ahmad mengecup lembut kening Liza, sambil mengucap datar. “Ia masih maukan Mas.”

“Oh ya, begitukah?” Seolah hal yang biasa, wajah Liza hampir tak banyak berubah. Lebih tepat dikatakan sebagai suatu ucapan yang muncul begitu saja. Senyumnya masih tersisa.

Ahmad tambah sayang melihat respon bersahaja dari istrinya itu. Tangan Ahmad kembali membelai dan mengusap Liza dengan penuh sayang seraya mendekapnya. Sesekali diciumnya pipi yang agak seperti bakpao itu. Liza merengek manja, membiarkan suaminya memperlakukan dirinya seperti itu.

“Mas sendiri tak habis fikir, kenapa dia seperti itu.” Tampak sedikit menggelengkan kepalanya sebagai tanda keheranan. Ahmad menebarkan senyum penuh arti ke istrinya.

Ahmad segera menguasai perasaannya. “Akh, sudahlah. Yuk, kita jalan-jalan keluar. Sayang pemandangan petang yang indah ini disia-siakan dengan rebahan saja.”

“OK, sekejap ya.”

oo0oo

Lengan Liza menggamit lengan Ahmad sepanjang jalan melihat pemandangan. Sesekali tampak Liza melepaskan tangannya, menghampiri satu bunga ke bunga yang lain. Wajah Liza berbinar, tak mampu menyembunyikan betapa bahagianya saat itu. Suasana honeymoon begitu kental bagi keduanya. Ditambah lagi pemandangan dengan tebaran pesona berbagai bunga berwarna-warni menyelimuti petang indah itu. Kesukaan Liza akan bunga seperti dimanjakan dengan banyaknya warna serta macam bunga di situ.

Udara yang sejuk seperti tak membuat Liza terpengaruh karena bisa berduaan dengan suaminya. Bahkan keceriaannya seperti menepis sejuknya hawa dingin petang itu, dengan merapatkan badan pada suaminya. Sesekali tampak Liza mendekat sambil berjongkok, seolah hendak memetik satu-dua bunga yang membuatnya terkesima. Kicau burung di sana-sini turut menyegarkan suasana taman bunga.

“Mas tahu nama bunga ini?”

Ahmad hanya tersenyum melihat tingkah istrinya menghampiri sekumpulan bunga. “Nggak.” Tangannya bersedekap sambil memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan istrinya. Masih dengan senyumnya yang mengembang Liza terkadang menatap suaminya. Seolah mengerti apa yang dipikirkan Ahmad, Liza berdiri meneruskan jalan-jalan petangnya.

“Duduk di sana, yuk!” Ahmad menunjuk tempat duduk permanen yang tak jauh dari dirinya berdiri. Sebuah tempat duduk melingkar dari batu berukir, dengan atap berbentuk payung.

“Ada apa, Mas?”

“Nggak ada apa-apa, duduk saja.” Wajah Ahmad memang tak tampak seceria Liza. Tapi ia juga tak sedih. Sebagai lelaki, apalagi tak banyak faham tentang bunga pasti tak banyak juga yang ia jawab dari pertanyaan istrinya.

Ahmad segera beranjak dari lokasi bunga diikuti istrinya. Lengan Liza segera kembali menggamit lengan suaminya. Ahmad membiarkan saja apa yang dilakukan istrinya, meski kadang-kadang ia merasa agak kikuk jika ada orang yang berpapasan dengannya melihatnya demikian. Namun Liza tak hirau dengan pandangan orang terhadap mereka, malah tambah merapatkan dirinya ke Ahmad.

“Tahu kenapa, mengapa Mas ajak duduk di sini?” Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulut Ahmad setelah duduk. Mata Ahmad menatap wajah istrinya dengan tajam.

“Nggak. Memangnya ada apa?” Raut muka Liza sedikit berubah serius.

Ahmad tak kalah serius wajahnya. Cukup lama ia diam. Napasnya agak tertahan. “Agar adek tak tanya macam-macam tentang bunga.” Ahmad tiba-tiba tertawa kecil menggoda istrinya. Matanya melebar meyakinkan godaannya.

“mMaas…. Nakal.”

“Kan, benar. Jika nanti adek tanya ini atau itu dan Mas tak bisa jawab, lama-lama kan malu juga.”

“Iya… tapi tadi adek sempat kuatir. Kenapa tiba-tiba Mas seperti tampak marah.”

“Oh, ya…” Tawa Ahmad makin lebar mendengar pengakuan istrinya.

Sore itu keduanya tampak bahagia. Bahagia menikmati suasana honeymoon mereka yang begitu indah setelah perjalanan cinta mereka berakhir dengan perkawinan. Di bawah bangunan berbentuk payung dari kejauhan tawa keduanya terdengar tak henti-henti. Nyanyian burung yang bersahut-sahutan menambah ceria petang itu. Bunga-bunga di sekitarnya begitu indah, melengkapi kebahagiaan mereka bercengkerama. Entah, apakah ada dalam fikiran Ahmad tentang Izzah saat itu. Yang pasti keduanya tampak sangat menikmati saat-saat indah itu.

Wednesday, February 18, 2009

Sudah cukup lama…

Sudah cukup lama tak kukunjungi blog itu…

Alhamdulillah, begitu banyak yang berubah

Seperti diisi oleh dua hati…


Sudah cukup lama tak terdengar "suara" itu…

Alhamdulillah, usai ada mesej sore tadi (ketika paket diterima)

Kembali hatiku bergairah


Aku tahu hatinya boleh sangat dingin beku…

Aku tahu dia boleh marah dalam diam mencekam…

Tapi tak mungkin tanpa terusik walau barang sedikit

Jika tahu aku sama sekali tak memendam kesumat


Aku juga tak percaya…

Dia pasti juga akan ketawa, suatu masa…


Sudah cukup lama…

So… kenapa tidak ha.. ha.. ha..

(pasti aku boleh menunggu…)

Monday, February 9, 2009

Berbuat Baiklah Kepada Manusia, maka Allah akan Baik Kepadamu

Muamalah (hubungan) Allah Terhadapmu Sesuai Dengan Muamalahmu Terhadap Hamba-Nya

Di dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah ta'ala hanya merahmati hamba-hambaNya yang pengasih." (HR. Bukhari).

Bukankah perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan?, barang siapa yang mengasihi makhluk, maka ia akan dikasihi al-Kholiq (pencipta), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang yang pengasih akan di kasihi Dzat yang Maha Pengasih, kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu." (HR. Tirmidzi).

Balasan suatu perbuatan sesuai dengan perbuatan tersebut.

Allah ta'ala bermuamalah dengan hamba sesuai muamalah hamba terhadap sesamanya, maka bermuamalah-lah dengan hamba Allah ta'ala dengan muamalah yang mana engkau mengharapkan Allah ta'ala bermuamalah seperti itu terhadapmu.

Allah ta'ala berfirman: "Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah ta'ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. at-Taghobun: 14). firman Allah ta'ala: "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin jika Allah ta'ala mengampunimu." (QS. an-Nuur: 22).

Hendaklah engkau senantiasa meringankan beban orang lain supaya Allah ta'ala meringankan bebanmu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang menolong kesusahan orang muslim, maka Allah ta'ala akan menolongnya dari kesusahan pada hari kiamat." (HR. Bukhari).

Beliau juga bersabda: "Barang siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah ta'ala akan menyelamatkannya dari kesusahan pada hari kiamat." (HR. Ahmad).

Tolonglah orang yang membutuhkan pertolongan, maka kamu akan ditolong Allah ta'ala.

Rasulullah ta'ala bersabda: "Allah ta'ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong sesamanya."

Beliau juga bersabda: "Barang siapa menolong saudaranya yang membutuhkan maka Allah ta'ala akan menolongnya." (HR. Muslim).

Jadilah engkau orang yang mempermudah kesulitan orang lain.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta'ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda: "Terdapat pada umat sebelummu seorang pedagang yang sering memberi pinjaman kepada orang lain, jika dia melihat si peminjam dalam kesulitan dia berkata kepada anak-anaknya: 'Maafkan dia (jangan ditagih hutangnya)mudah-mudahan Allah ta'ala mengampuni kita', maka Allah ta'ala pun mengampuninya." (HR. Bukhari).

Berlemah-lembutlah terhadap hamba Allah ta'ala maka kamu akan termasuk orang yang didoakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

"YaAllah, barang siapa yang berlemah-lembut terhadap umatku maka berlemah-lembutlah terhadapnya, dan barang siapa yang mempersulit umatku maka persulitlah ia." (HR. Ahmad).

Beliau juga bersabda: "Sesungguhnya Allah ta'ala adalah Dzat yang maha lemah lembut mencintai kelembutan dan memberi pada kelembutan suatu kebaikan yang tidak pernah diberikan pada kekerasan." (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda: "Barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka ia kehilangan suatu kebaikan." (HR. Muslim).

Tutupilah kejelekan (aib) orang lain maka Allah ta'ala akan menutupi kejelekan (aib) mu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang menutupi kejelekan (aib) seorang muslim maka Allah ta'ala akan menutupi kejelekan (aib) nya." (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda: "Barang siapa yang menutupi aurat (aib) saudaranya (muslim) maka Allah ta'ala akan menutupi aurat (aib) nya pada hari kiamat." (HR. Ibnu Majah).

Pandanglah sedikit kesalahan saudaramu, maka Allah ta'ala akan memandang sedikit pula kesalahan mu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang memandang sedikit kesalahan seorang muslim maka Allah ta'ala akan memandang sedikit kesalahannya." (HR. Abu Dawud).

Berilah makan faqir miskin, maka Allah ta'ala akan memberimu makan pula.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi makan mukmin yang lapar, maka Allah ta'ala akan memberinya makan dari buah-buahan Surga." (HR. Tirmidzi).

Berilah minum orang yang kehausan, maka Allah ta'ala akan memberimu minum pula.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi minum mukmin lainnya yang kehausan, maka Allah ta'ala akan memberinya minum pada hari kiamat dari khamar murni yang dilak (tempatnya)." (HR. Tirmidzi).

Berilah pakaian kepada kaum muslimin maka Allah ta'ala akan memberimu pakaian.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi pakaian orang yang telanjang maka Allah ta'ala akan memberinya pakaian hijau dari surga." (HR. Tirmidzi).

Muamalah(hubungan) Allah ta'ala terhadapmu sebagaimana hubunganmu terhadap hamba-Nya, maka pilihlah muamalah yang kau sukai yang mana Allah ta'ala akan me-muamalahimu dengannya, dan pergaulilah hamba-hamba-Nya dengan(pilihanmu) itu maka kamu akan mendapat ganjarannya.

Jauhilah menyakiti sesama (Jika kamu melakukannya) maka Allah ta'ala akan menyiksamu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah ta'ala akan menyiksa orang-orang yang menyakiti manusia." (HR. Muslim).

Allah shallallahu 'alaihi wa sallam berfirman: "Dan(ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya mereka menimpa kepadamu siksaan yang seberat-beratnya." (QS. al-Baqarah: 49).

"Dan pada hari terjadinya kiamat dikatakan kepada malaikat, 'masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat pedih." (QS. Ghofir: 46).

Janganlah menyusahkan hamba-hamba Allah ta'ala (Jika kamu melakukannya), maka engkau akan terkena doa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "YaAllah, barang siapa yang mengurus perkara umatku lalu mempersulit mereka maka persulitlah dia dan barang siapa yang mempermudah mereka maka permudahkanlah dia." (HR. Muslim).

Janganlah engkau mencari-cari kesalahan kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang senantiasa mencari kesalahan seorang muslim, maka Allah ta'ala akan senantiasa mencari kesalahannya pula, sehingga akan terbuka kesalahannya meskipun (tersembunyi) di dalam mulut unta (kendaraan)nya." (HR. Tirmidzi).

Beliau juga bersabda: "Barang siapa yang membuka aib saudaranya maka Allah ta'ala akan membuka aibnya sampai diperlihatkan kepada keluarganya." (HR. Ibnu Majah).

Janganlah engkau berhati batu (tidak punya belas kasihan).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang tidak menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah ta'ala tidak akan mengasihinya." (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda: "Tidaklah dicabut rasa belas kasihan itu kecuali dari hati orang-orang yang celaka." (HR. Tirmidzi).

Apapun muamalah yang engkau suguhkan terhadap manusia, maka kamu akan mendapatkan balasan yang sama di sisi Allah ta'ala.

Ibnul Qoyyim berkata: "Sesungguhnya Allah ta'ala adalah Dzat yang Maha mulia, mencintai yang mulia dari hamba-hamba-Nya. Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui, mencintai orang-orang yang berilmu. Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa, mencintai yang gagah berani. Dia adalah Dzat yang Maha Indah, mencintai keindahan. Dia adalah Dzat yang Maha Pengasih, mencintai orang yang pengasih. Dia adalah Dzat yang Maha Menutupi, mencintai orang yang menutupi aib hamba-hamba-Nya. Maha Pemaaf, mencintai yang memaafkan hamba-hamba-Nya. Maha Pengampun, mencintai yang suka mengampuni hamba-Nya. Maha lemah lembut, mencintai yang lemah lembut dari hamba-hamba-Nya serta membenci yang keras perangainya. Dia adalah Dzat yang Maha Penyantun, mencintai sifat penyantun. Dzat yang Melimpahkan kebaikan, mencintai perbuatan baik serta pelakunya. Dzat yang Maha Adil, mencintai keadilan. Dzat yang Menerima uzur, mencintai orang yang menerima uzur hamba-hamba-Nya. membalas hamba sesuai dengan ada atau tidak adanya sifat-sifat tersebut pada diri seorang hamba...maka (sesungguhnya) muamalah Allah ta'ala terhadap hambanya sesuai dengan muamalah hamba terhadap sesamanya... berbuatlah semaumu maka Allah ta'ala akan membalasmu sesuai dengan perbuatanmu terhadap-Nya dan terhadap hamba-hamba-Nya.

Maka hendaklah engkau senantiasa memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah ta'ala.

Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Barang siapa yang mampu memberikan kemanfaatan kepada saudaranya hendaklah ia lakukan." (HR. Muslim).

Berbuat baiklah terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah ta'ala mencintai hamba yang berbuat baik.

Jadilah engkau orang yang senantiasa mempermudah urusan hamba Allah ta'ala serta berlemah-lembut terhadap mereka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Diharamkan masuk Neraka setiap orang yang pemudah, lemah lembut, dekat dengan manusia." (HR. Ahmad).

Maafkanlah mereka, mudah-mudahan Allah ta'ala mengampuni dosa-dosamu, sesungguhnya Allah ta'ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Doa Penawar Hati Yang Duka

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

"Ya Allah! Sesungguhnya aku ada-lah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Eng-kau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khusus-kan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur'an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku." (HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih.)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

"Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang." (HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih.)

Sunday, February 8, 2009

Nasihat Imam Syafie "tips mencari sahabat"

TEMAN ketawa memang mudah dicari, tetapi teman menangis tiada siapa yang sudi.

Memang benar sukar mencari erti persahabatan sejati. Hanya mereka yang benar-benar bersahabat dengan hati tulus dan ikhlas dapat mencari erti persahabatan tulen.

Dalam hal ini, Imam al-Syafie ada memberikan nasihat dalam soal persahabatan.
"Aku mencintai sahabatku dengan segenap jiwa ragaku, seakan-akan aku mencintai sanak saudaraku."

Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganku dan yang menjaga nama baikku ketika aku hidup atau selepas aku mati.

Aku selalu berharap mendapatkan sahabat sejati yang tidak luntur baik dalam keadaan suka atau duka. Jika itu aku dapatkan, aku berjanji akan selalu setia padanya.

Kuhulurkan tangan kepada sahabatku untuk berkenalan kerana aku akan berasa senang. Semakin ramai aku peroleh sahabat, aku semakin percayadiri.

Mencari sahabat pada waktu susah.

Belum pernah kutemukan di dunia ini seorang sahabat yang setia dalam duka. Pada hal hidupku sentiasa berputar-putar antara suka dan duka.

Jika suka melanda, aku sering bertanya: "Siapakah yang sudi menjadi sahabatku?"

Pada waktu aku senang, sudah biasa ramai yang akan iri hati, namun apabila giliran aku susah mereka pun bertepuk tangan.

Pasang surut persahabatan.

Aku dapat bergaul secara bebas dengan orang lain ketika nasibku sedang baik.

Namun, ketika musibah menimpaku, kudapati mereka tidak ubahnya roda zaman yang tidak mahu bersahabat dengan keadaan.

Jika aku menjauhkan diri daripada mereka, mereka mencemuh dan jika aku sakit, tidak seorang pun yang menjengukku.

Jika hidupku berlumur kebahagiaan, banyak orang iri hati, jika hidupku berselimut derita mereka bersorak sorai.

Mengasingkan diri lebih baik daripada bergaul dengan orang jahat.

Apabila tidak ketemui sahabat yang bertakwa, lebih baik aku hidup menyendiri daripada aku harus bergaul dengan orang jahat.

Friday, January 23, 2009

Cerpen keenam - Mencari Karunia Baru


Hari sudah sore menjelang petang. Tapi Jizah masih terus sibuk mengiris sayur untuk nasi bungkusnya esok. Suaminya Ahmad juga tampak menemaninya. Akhir-akhir ini jika ada hari libur atau tanggal merah Jizah harus lebih lama di dapur. Sayang jika jadwal jualan yang cuma sesekali dalam seminggu diabaikan begitu saja.

Jizah merasa berat jika harus keluar rumah dengan tujuan tidak yang sangat penting. Meski hanya beberapa ribu rupiah dirinya merasa telah berbuat sesuatu untuk keluarganya. Yang ia pikirkan adalah anak-anaknya yang sangat suka dengan lauk-pauk yang kebetulan juga untuk nasi jualannya. Ia juga ingat penghasilan suaminya yang kini berkurang sangat drastis, semenjak berhenti bekerja di sebuah perusahaan jasa.

Sayur kentang yang belum teriris tapi sudah terkupas kulitnya disendirikan di sebelah kiri bersama sayur ucet. Dulu sebelum pernah jualan nasi Jizah menganggap sayur ini sebagai menu tambahan. Kini tuntutan pasar kelas nasi bungkus mengharuskan sayur ini atau penggantinya sebagai menu wajib ada di dalamnya. Belum pernah sebelum ini terpikirkan olehnya gara-gara nasinya yang pernah diijualnya kurang ramai isinya akhirnya berbuah “complain”. Akh, nasi bungkus pun bisa ‘berbunyi’.

Duduk di depan sedikit ke kanan Ahmad sedang menggerus lombok dan sejumlah bumbu dalam cobek. Ia tidak menggunakan blender karena lomboknya cuma sedikit. Keduanya tampak serius dengan pekerjaannya meski dua anak lelakinya yang masih di Sekolah Dasar kadang berlari-lari kecil keluar masuk rumah. Sesekali pergelangan tangan Ahmad ia angkat kemudian mengusap matanya. Ia tampak memicingkan matanya yang terkena efek pedas lombok. Jizah yang dekat dengannya tersenyum karena geli ketika melihat mata suaminya kepedasan. Obrolan yang ditingkahi guyonan akhirnya tak luput memecah keseriusan kerja mereka.

“Kalau nggak begini Sampean nggak nggulek, kan?” Jizah menggoda suaminya.

“Hus, jangan dikira aku dulu nggak sering nggulek seperti ini.” Ahmad mengenang dirinya ketika masih berusia belasan tahun belajar di pesantren. “Sewaktu dulu di pesantren aku hampir tiap hari nggulek, lho.”

Teringat olehnya beberapa wajah temannya. Teringat perilaku lucu ketika berebut cobek. Jika sudah dapat cobek bukan berarti selesai masalahnya. Kendil untuk memasak harus antri juga. Parahnya, kendil untuk menanak nasi sering juga berfungsi sebagai merebus air. Yang berarti, bisa dibayangkan berapa waktu dihabiskan untuk bisa makan dengan lahap.

“Untung dulu urusan beli bumbu sudah ada yang mengurusi,” Ahmad membuka cerita pada istrinya. “Aku jadi ingat jasa Wak Shomad dan Bu Sapik yang berjualan bumbu masak. Yang paling kuingat waktu itu adalah penyedap rasa yang selalu kumasukkan semua dalam cobek setiap beli bumbu.” Pikirannya menerawang ke sebuah warung dekat pesantren di kotanya.

“Hah, semua?”

“Ya, itu konyolnya. Makanya yang kurasa waktu itu masakannya pasti enak.”

“Enak bagaimana?” Jizah merasa heran.

“Maksudku karena penyedapnya banyak, pasti rasanya gurih, kan? Dan waktu itu aku nggak bisa membedakan antara enak yang sesungguhnya dengan enak karena kebanyakan penyedap rasa. Mungkin karena sudah lapar, ya… enak jadinya makannya ha.. ha…”

Ya, dulu pesantren itu suasananya masih tradisional, khususnya dapur yang digunakan untuk memasak. Meski tidak jauh dari kota banyak pohon rimbun di sekitarnya. Dapurnya dipakai bersama-sama. Karena santrinya tidak terlalu banyak dapur berukuran sekitar 30m2 itu menjadi mengesankan untuk dikenang. Terutama suasana gelap interiornya akibat pekatnya jelaga. Khas suasana rumah-rumah di pedesaan jaman dulu. Tungkunya dibuat dari bata merah yang dibalut semen. Atap dapur hanya ada genteng tanpa eternit. Tembok keliling dapur masih dibuat dari gedhek sehingga asap buangan memasak langsung menyelinap ke sela-sela gedhek dan genteng. Kayu bakar untuk masak nasi bisa diambil dari sekitar pesantren yang memang banyak belukar di situ. Tapi ada juga yang mengunakan minyak tanah dan kompor. Di sebelah pesantren tersebut terdapat sungai besar sehingga jika sore banyak santri yang rileks dan nyantai di pinggiran sungai. Ingin rasanya mengulang pengalaman indah masa itu.

oo0oo

Hari-hari di dapur seperti ini dilakukan Ahmad agar lebih meringankan pekerjaan istrinya. Sebenarnya bagi Jizah semuanya bisa ia atasi sendiri. Tapi Ahmad sengaja ingin melakukannya karena ia juga merasa tak ada sesuatu yang dikerjakan di rumahnya. Rasa shock sebagai pengangguran masih kental menyelimutinya. Makanya waktu yang terasa panjang ia sibukkan dengan membantu istrinya di dapur, sambil memikirkan pekerjaan pengganti.

Kalau boleh memilih tentu ia ingin keluar rumah dan mengerjakan apa saja yang pas bagi dirinya sehingga memperoleh penghasilan. Terbayang oleh Ahmad wajah-wajah temannya yang juga sama-sama terkena PHK, dan kini mungkin juga sama-sama masih bingung akan bekerja apa. Membantu istrinya jualan nasi bungkus inipun hanya sesekali. Tidak setiap hari. Ia sudah berkeliling mencari peluang bisa mengisi jualan nasi bungkus tapi seperti tak juga mendapat tempat yang pas.

Dunia nasi bungkus telah diisi pesaing lama yang sudah exist dari dulu. Kalaupun ada peluang lokasinya kurang menjanjikan dan biasanya berakhir dengan kerugian. Pernah Ahmad mencoba di sebuah sekolah. Dibayangkannya, dengan jumlah siswa yang ratusan setidaknya sepuluh atau dua puluh bungkus akan dengan cepat ludes dibeli mereka. Tapi fakta berbicara tidak seperti yang dibayangkan. Memang pernah habis, tapi kerugiannya lebih banyak daripada keuntungannya. Akhirnya Ahmad mundur mengisi nasi bungkus di sekolah itu.

Meski belum puas dengan upayanya menemukan peluang tempat mengisi nasi bungkus Ahmad juga berfikir untuk menjadi guru lagi seperti dulu. Selama ini, sebelum terkena PHK selain sebagai pekerja jasa meski sedikit ia juga masih mengajar. Tapi hanya Sabtu dan Minggu. Beberapa hari terakhir ini setiap ada info peluang mengajar di suatu sekolah Ahmad langsung merespons, dan esoknya ia mengirimkan proposal lamaran. Tapi khabar peluang itu rata-rata sebatas dugaan dari pemberi info. Sudah tiga lembaga Ahmad masuki, dan ketiga-tiganya hampir selalu menjawab nihil jika tidak fifty-fifty.

Namun di sela rasa stress berkepanjangan karunia Allah masih diperoleh keluarganya. Ia mendapat kesempatan mengisi nasi bungkus setiap hari libur. Di rumah yang juga warung kakak perempuannya. Yang berarti sudah tidak perlu lagi perlu waktu untuk beradaptasi dengan pemiliknya. Sudah berjalan beberapa bulan setiap pengiriman nasi bungkus di situ tidak pernah tidak habis. Dari sisi harga penjualan di sini juga lebih baik.

Karunia Allah tampaknya tidak berhenti hingga di situ. Sebelumnya ia hampir putus asa mengingat pengeluaran untuk keluarganya tak mungkin dihentikan, sementara pekerjaan yang jelas belum juga ia temukan. Mengharapkan hasil nasi bungkus yang cuma sehari seminggu pasti harapan yang sia-sia. Beberapa minggu lalu Ahmad mencoba memasukkan lamaran mengajar lagi. Kebetulan kepala sekolahnya sudah ia kenal. Entahlah, padahal selama ini bukan tidak ada pikiran ke tempat ini. Dan alhamdulillah, keterbukaan kepala sekolahnya menjelaskan ada kemungkinan peluang untuk mengisi kekosongan di sekolahnya.

Keluar dari rumah temannya itu hati Ahmad sangat berbunga-bunga. Meski masih perlu konfirmasi pada pimpinan lembaganya jawaban sementara itu sudah seperti hujan di musim kemarau. Sejuk hatinya saat itu.

Esoknya, ketika bersantai menggunakan sepeda Ahmad mampir di temannya yang lain. Kebetulan ia juga salah satu guru di tempat bakal ia mengajar. Ada info bahwa posisi yang akan dimasukinya gurunya kini hendak keluar karena pindah kerja di kota lain. “Ya Allah, inikah pertanda baik bagi hambaMu ini? Inikah karunia yang tertahan untukku selama ini?”

oo0oo

Ahmad sudah mengamati jalan sepanjang menuju sekolah. Dicarinya peluang agar bisa menaruh nasi bungkus istrinya di sepanjang jalan menuju sekolahannya. Hanya ada satu titik, tapi seperti sulit untuk dimasuki. Beberapa hari lalu ketika ngobrol-ngobrol Muhdi, temannya, mengeluh akibat sulitnya menemukan nasi bungkus dengan harga yang terjangkau siswa.

“Sebenarnya istriku sekarang berbisnis nasi seperti yang kamu ceritakan.”

“Akh, yang benar, Mad?”

“Memang tidak cuma nasi bungkus. Tepatnya catering, juga nasi kotak. Yang berarti termasuk nasi bungkus, kan?”

“Kalau begitu kebetulan, Mad. Ya, dikirim saja anak-anak tiap hari kalau begitu.” Tapi wajah Muhdi seperti masih belum begitu gembira.

“Kemana?”

“Tapi bagaimana caranya, ya?“ Alis Muhdi tampak mengernyit. Muhdi mencoba menyeruak sekat permasalahan konsumsi siswanya selama ini. Bayangan bengkel tempat para siswanya bekerja di sekolah menampakkan situasi kecemasan karena lapar yang ditahan-tahan. Tak ditemukan makanan murah di sekitarnya. Kalaupun ada biasanya sekedar makanan penawar sementara semacam cilok, yang pasti tidak mengenyangkan.

“Dimana?”

“Di bengkel kan tak ada makanan. Tapi bos pasti marah jika ada guru atau orang lain yang berjualan di situ. Maksudku, cobalah menggunakan orang lain yang mengantarnya. Yang penting bukan guru disini.”

“Ngisruh kamu, Di. Bagaimana mungkin menggunakan orang lain yang jualan di situ sementara yang dijual hanya nasi bungkus. Apalagi kamu bilang tadi tidak mungkin orang lain berjualan di situ. Dan lagi, memangnya keuntungan nasi bungkus itu ratusan ribu sehingga pakai orang lain?”

“Ya itu masalahnya,” sergah Muhdi masih tak menampakkan bahagia. “Saya itu kasihan dengan anak-anak. Di tengah menyelesaikan pekerjaan ketika istirahat mereka pasti mencari makanan. Ada di dekat situ tapi harganya nggak kuat mereka.”

“Kalau dengan cara kukirim bagimana? Maksudku asal ada yang mengkoordinir. Jadi nanti aku cukup berhubungan dengan koordinatornya saja.”

Muhdi tak segera menjawab. Ia masih berupaya meyakinkan Ahmad agar ada orang lain yang setiap hari datang di bengkel. Sebaliknya Ahmad mulai kehilangan kesabaran dengan jawaban Muhdi. Seperti masih ada yang disembunyikan.

“Tak tahulah, Mad. Di sini seperti serba repot.”

Belakangan diketahui, dari pengakuan satpam penjaga sekolah di situ memang tidak dibolehkan dijual nasi bungkus. Bukan hanya nasi bungkus. Semua makanan kemasan plastik juga dilarang dijual di situ. Alasannya sederhana. Siswa tidak bisa mengendalikan sampah. Sudah disediakan tempat sampah tapi seperti hanya jadi hiasan saja. Di sana-sini sampah menyelinap, di luar maupun dalam kelas. Bahkan dalam bangku-bangku!

“Akh, sayang,” gumam Ahmad. Sebenarnya ini adalah karunia bagi istrinya seandainya saja peluang ini bisa dimasuki. Pikiran Ahmad mengunjungi wajah istrinya di rumah. Ia tak menampakkan kecemasan meski dirinya belum menemukan pekerjaan yang memadai seperti sebelumnya. Mungkin Allah masih mengujinya untuk terus mencari karunia itu. Dan Ahmad masih berupaya menemukannya.

Monday, January 5, 2009

Cerpen kelima - Si Gila


Kaki Ahmad berselonjor. Duduk sendirian di beranda depan rumahnya. Sore hari di atas tikar beranyam daun. Di sebelahnya segelas besar teh menemaninya. Dipandanginya hijau daun-daun bunga pada sepetak tanah.

Sungguh tenang hidup bunga-bunga ini, pikir Ahmad. Ia coba dekati satu pohon bunga. Ia amati struktur daunnya. Batangnya memanjang seperti padi. Demikian juga daunnya. Meski serupa tapi ia tak kasar seperti yang tadi. Subhanallah! Maha Suci Sang Pencipta demikian beraneka ragam tumbuhan. Ahmad menatapnya. “Kenapa aku tak tahu namanya? Bukankah ia sudah lama berada di sini, di dekatku?”

Agak lama ia tercenung, pandangan matanya nanar. Pikirannya tak fokus pada bunga tadi. Mata Ahmad bergeser ke pohon bunga di sebelahnya. Daunnya lebar menyerupai waru yang terbalik. Hijau bertabur bintik-bintik putih. Tulang daunnya berwarna merah. Lagi ia bertanya kenapa pula ia tak tahu nama pohon ini? Segera matanya menebar ke beberapa pohon yang lain. Lekuk daunnya berbagai-bagai. Juga batang serta bunganya. Akh, ternyata begitu banyak dirinya yang tak kenal mereka.

Berhenti memandangi pohon bunga berukuran setengah hingga satu meter ia lempar pandangannya ke sejumlah rerumputan di sekitarnya. Lagi-lagi ia tak tahu namanya. Hatinya tersenyum. Selama ini ia cuma menamainya rumput. Ya, semua yang tumbuh kecil-kecil ia namainya rumput. Tapi lagi-lagi pandangannya nanar. Pikirannya mulai galau.

Ahmad kembali duduk berselonjor di atas tikar. Hatinya mulai merasa tak menentu. Tatapan matanya ke arah anyaman tikar. Ia perhatikan salah satu baris anyaman yang muncul-tenggelam bergantian. Seolah gambaran dirinya yang juga muncul-tenggelam akhir-akhir ini. Sejenak kemudian tangan kanannya mengangkat gelas, menyeruput beberapa teguk teh di sampingnya. “Akh, nikmatnya,” gumam Ahmad. Kembali hatinya tersenyum.

Tiba-tiba ia teringat pohon bunga milik adiknya, Liza. Pikirannya melayang ke salah satu gambar kebun bunga yang dikirim Liza, yang hingga kini belum pernah ia temui. Liza pernah bercerita, dulu kegiatan sehari-harinya adalah merawat bunga di samping rumah. Ia juga bercerita punya sejumlah pohon yang buahnya besar-besar.

Tapi ada yang dirasa aneh olehnya, kenapa musti adiknya ini yang sering ia ingat? Bukankah dirinya seperti tak berdaya untuk menemuinya?

Belum mendapat jawaban ia teringat perbincangan dengannya tentang kutang. Byuh! Malu rasanya jika ingat itu. Tapi anehnya kadang ia malah senang bukan main. Senang karena ingat bahwa ia telah membuat adiknya merasa senang. Tapi malu karena ia merasa seperti sudah gila. Bagaimana tidak dikatakan gila, sama sekali belum pernah ia jumpa dengannya. Apalagi menatap atau sekedar berjabat tangan dengannya. Tapi guyonannya sudah sampai ke cerita barang “syubhat” macam kutang.

oo0oo

“Mas sudah pernah ke Bromo?” Ahmad teringat pertanyaan Liza.

“Tapi sudah lama sekali. Sudah puluhan tahun lalu.” Pikiran Ahmad melayang ke masa ketika ia masih muda. “Masih belum kawin dulu. Waktu itu lewat Probolinggo, bukan lewat Pasuruan.”

“Mau dengar share tentang pengalaman ketika di Bromo dulu?” Ahmad memancing pembicaraan lebih lanjut.

“Boleh.”

Tiba-tiba senyum Ahmad tak mampu ia sembunyikan. Sejenak kemudian malah ia tertawa ngakak mengingat peristiwa di sana.

Liza yang mendengar via handphone di seberang jadi terbahak mendengarnya. “Lho, koq ketawanya dahulu,” derainya juga tak kuasa menahan tawa.

“Ha… ha..” Ahmad tak kuat menahan tawa mengingat peristiwa itu. “Kamu tahu kenapa aku tak kuat menahan ketawa?”

“Enggak.”

“Dengar, ya.” Tawa Ahmad mulai reda. Handphone di tangan kiri ia pindah di sebelah kanan. Terasa sedikit pekak telinganya. Tapi senyumnya masih terlihat menyungging.

“OK.”

“Waktu itu Mas dengan beberapa teman. Kami sekelompok berempat. Di lautan pasir di kaki Gunung Bromo sudah demikian ramai orang. Tenda-tenda sejumlah kelompok orang sudah banyak yang berdiri. Tapi lebih banyak yang berlalu-lalang. Udara sangat dingin waktu itu, apalagi untuk ukuran kami yang biasa hidup di daerah panas macam Bangil atau Surabaya. Rata-rata mereka juga kedinginan. Suasana masih gelap. Yang terlihat cuma samar-samar, seperti hanya bayangan. Dalam jarak beberapa meter pun tak mampu kami melihat dengan jelas wajah satu dengan yang lain. Apalagi kabut tebal waktu itu datang silih berganti menyelimuti suasana pagi.

“Puncak Bromo tempat dilangsungkannya ritual lumayan jauh ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu itu tak ada kendaraan bermotor. Hanya kuda sewa. Itupun hanya sampai di kaki tangga pendakian. Sebagai orang yang baru datang tentu kami ingin tahu ada apa di situ. Tapi hanya hamparan pasir dan sejumlah tenda atau kerumunan orang yang lalu-lalang. Hanya beberapa orang yang membawa lampu senter, itupun tak dinyalakan terus-menerus.

“Waktu itu kami agak bingung mau apa dengan keadaan di situ. Tenda kami belum lagi berdiri. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara seseorang yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Suaranya keras meski segera termakan suasana lautan pasir yang dingin menggingit.

“Jiangkriiik… mosok sak mene akehe gak onok wedoakene blas!”

“Hua ha..ha..ha…” Terdengar hampir semua orang di sekitar kami tertawa ngakak mendengarnya. Termasuk kami yang mendengar jelas orang tersebut.

Ahmad tak kuat menahan ledakan tawanya. Liza yang mendengarnya di seberang seperti hanya ikut-ikutan tertawa. Tapi tak tahu maksudnya. Setelah berhenti tertawa, baru Ahmad menjelaskan makna ucapan orang tersebut.

“Ya, Allah. Ada-ada saja orang itu.” Liza juga tak kuasa menahan ketawa yang ditahannya. Sebaliknya Ahmad masih terkekeh karenanya. Seperti biasanya, matanya bahkan mengucurkan air mata karena merasa lucu.

“Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan padamu, Dik?”

“Oh, ya?”

“Ada yang lucu lagi. Mau mendengarnya?”

“Baik.”

“Tapi, maaf ya. Hampir sama dengan yang tadi. Maksudku, agak ngacau. Tapi memang di situlah letak kelucuannya.”

Liza hanya terdengar sedikit tertawa. Seperti bilang setuju.

“Eee… suatu ketika salah satu temanku, Holis, seperti usil. Udara dingin membuatnya ingin menggerakkan tubuhnya agar tak kedinginan. Lama keluar dari tenda tahu-tahu ia kembali sambil ketawa ngakak. Tentu saja kami yang ditinggal sempat bengong melihatnya.”

Datang agak tergopoh-gopoh ia masuk tenda. Tangan kanannya mengepal sambil ia pukulkan ke tangan kirinya yang terbuka. Wajahnya tertawa riang ketika melihat kami asyik duduk bersila sambil cerita.

“Laopo koen nggegekae, Jal” tanya Sa’ad kepadanya.

“Cok, awak mari oleh kharim maeng, rek. Timbang gak onok maneh, masio rodok-rodok tusus tak wed-ae.”

“Ha..ha..” kami tertawa hampir bersamaan. “Asyik?” selidik Sa’ad.

“Dapake,” Holis sedikit menjelaskan. “Tapi gak ngurus, sing penting oleh sebetan thithik-thithik he..he..”

“Terus.” Sa’ad tak sabar mendengar cerita lanjutan Holis. Ahmad merapatkan duduk silanya, juga tampak antusias. Awad segera menaruh gitarnya, seperti juga ingin segera mendengar berita Holis.

“Tadi aku jalan-jalan. Ee… mlasak mrono-mrene, gak ketemu kharim blas. Onok siji. Rodok tusus, sewek’an pisan. Tak pikir, timbang kademen, tak cedeki. Mari ngomong ngalor-ngidul, akhirnya kena juga dirembug dia.

“Ha..ha.., terus.” Awad berbinar wajahnya.

“Singkat cerita, akhirnya aku bisa mepet dia. Lumayan, gawe tombo adem. Nah, kemudian tangan kumasukkan ke bajunya. Biasa, gerilya,” ceritanya sambil ngakak.

“Ha..ha.. diapakano-ae, rek” timpal Sa’ad seperti konfirmasi.

“Iki, menengae ta…” celetuk Ahmad kepada Sa’ad seolah mencegah agar cerita tak terputus lama-lama.

“Bareng tangan mlebes… hua..ha..ha..atos!”

“Ha..ha.. apanya yang atos?” Haris seperti pura-pura tak mengerti. Yang lain terkekeh tak tahan menahan geli.

“Dususe kayak terpal. Tak resem dari depan gak kenek. Lewat bagian bawah ketat, gak kenek. Sudah gitu belakangnya pakai ping-pingan pisan.”

“Hua..ha..ha...” Semua tak tahan menahan tawa.

Udara dalam tenda yang semula terasa dingin waktu itu serasa kontan hangat. Sa’ad yang duduk di samping Awad sempat terjengkang. Seperti sedang histeris, kakinya menjejak kaki Haris. Tubuhnya yang mundur beberapa senti malah menghantam gitar di sebelah Awad. “Brak!” Sialnya, gitar menyenggol tiang penyangga tenda, hingga hampir roboh.

oo0oo

Ahmad senyum-senyum ingat cerita itu. Kepada Liza ia memang sudah bukan seperti dengan orang lain. Bahkan pada waktu yang lain Ahmad membuat ia dan dirinya terpingkal-pingkal.

“Punya kamu pasti ping-pingan juga, kan?” goda Ahmad kepada Liza. Tawa kecilnya tak berhenti terdengar dari balik telepon.

“Mas tahu saja.” Seolah tak mau menghentikan suasana ceria Liza mengiyakan saja apa yang dikatakan Ahmad. Derai tawa Liza juga terdengar.

“Dan talinya guna rafia, kan?” Ahmad mendramatisir sambil tertawa keras. Air matanya keluar deras. Sesekali tangan kanannya menyeka tak mampu menahan laju air matanya.

“Ha..ha.. Ya, Allah. Mas ini ada-ada saja.”

“Tapi bilang, iya, kan?”

“Ya, Allah… Mas ngacau.“

“Alaa, jangan pura-pura gitu, Dik. Malah mungkin keadaanmu lebih kacau lagi pastinya.”

“Ha..ha.. Maksud, Mas?”

“Pasti talinya warnanya kontras, kan? Jika BH-nya hijau, pasti talinya merah. Gitu, kan?”

“Ha..ha..” Ledakan tawa Liza tak kunjung berhenti. Ia tak mampu berkata kecuali tertawa.

oo0oo

Sore itu Ahmad sebenarnya merasa malu karena ingat cerita tentang barang “syubhat” itu. Ia merasa malu melihat dirinya sendiri. Seperti sudah benar-benar gila. “Bagaimana aku ini, kenal dia saja tak begitu lama. Tak pernah bertemu orangnya tapi omongannya sudah ngalor-ngidul.”

Malu jika teringat bagaimana Liza memperlakukan dirinya. Membandingkan Liza yang sering mengiriminya SMS. Tentang renungan yang dinukilkan dari ayat-ayat Al-Quran. Jika tidak begitu diambilkan dari hadits-hadits Nabi. Atau setidaknya kata-kata berisi motivasi selalu mengisi hari-hari selama kontak dengannya.

Dalam beberapa kesempatan Liza mengiriminya hadiah berupa pakaian untuk keluarganya. Ia juga pernah memberi souvenir, menghadiahi obat-obatan, juga buku-buku yang dibutuhkannya. Bukan cuma itu. Liza bahkan sudah sangat percaya padanya dengan mentransfer sejumlah uang. Meski uang pinjaman ia memperlakukannya seperti pinjaman seumur hidup. Tanpa jaminan. Bukankah ini sudah “gila”?

Sementara ia sekedar menemaninya share ringan tentang berbagai hal. Jika bukan itu, ujung-ujungnya, ya, guyonan alias joke saja. Dirinya merasa sebagai lelaki biasa yang merasa tak bisa membalas jasa. Seperti tak berharga. Tak ada keseimbangan dalam hidup bagaimana ia seharusnya. Seolah tanpa makna. Gila!

Yang dirasanya tambah gila adalah bagaimana sikapnya selama ini padanya. Meski tak persis, yang ia inginkan dirinya bisa berbuat sesuatu untuk adiknya. Membuat adiknya bahagia dari kejauhan. Tapi yang ia lakukan sepertinya sudah kelewatan. Di luar batas. Muncul perasaan sangat suka padanya, seolah sebagai istri! Menyatakan sayang, juga cinta. To say love and to be loved. Bukankah itu sudah gila? Kaki Ahmad kembali berselonjor. Duduk sendirian di beranda depan rumahnya, di sore hari di atas tikar beranyam daun. Dipandanginya salah satu baris anyaman tikar yang muncul-tenggelam. Pikirannya melayang ke sebuah negeri tempat adiknya. Mungkinkah ia juga berangan-angan gila sepertinya? Akh, semoga ia tak seperti si gila!