
Ahmad sengaja meluruskan kakinya hingga hampir menyentuh kaki Zuhri. Ia puas-puaskan kakinya berlama-lama tak bersepatu, sekedar mengurangi penat kakinya usai mengajar sejak pagi. Di mushalla ini ia sering bersantai sejenak, sebelum shalat dhuhur bersama-sama dengan teman guru lain juga murid-muridnya.
Ketika dhuhur tiba shalat berjamaah di mushalla seluas sekitar 150m2 itu biasanya dilakukan dua hingga tiga kali gelombang. Bukan karena banyaknya jamaah yang shalat, tapi semata yang datang berkelompok-kelompok. Banyak yang beranggapan lebih simple dilakukan demikian.
Zuhri duduk membelakangi sebuah pilar mushalla. Ia tampak lunglai. Duduk dengan wajah setengah kuyu tatapan wajah lelahnya memancarkan kepasrahan dirinya. Sebagai guru dengan subjek Pendidikan Agama Islam ia sering mondar-mandir mushalla-kelas mulai pagi hingga hampir maghrib. Rasa capai pasti sudah menjadi kebiasaan sehari-harinya.
Seperti sejumlah guru lainnya Zuhri adalah pendatang di kota ini. Bedanya dengan guru pendatang lainnya ia didaulat mengoordinir pembinaan keagamaan murid secara lebih fokus, sesuai alur kebijakan stakeholdernya. Walhasil, jam mengajarnya boleh dibilang sangat padat. Setidaknya itu ditunjukkan dari tiap hari ia selalu di sekolah mulai pagi hingga menjelang maghrib. Apalagi khabarnya ia juga masih memberi kursus privat untuk pelajaran tertentu bagi siswa yang menginginkannya.
“Wah, capai banget nih,” keluhnya pada Ahmad mengawali pembicaraan.
Ahmad memandangnya dengan lembut. Seperti sedang berbagi simpati, sambil tersenyum Ahmad mencoba cari tahu kebiasaannya. “Sampean nggak biasa pijat?”
“Nggak.” Ia terdiam sejenak. “Tapi jika di rumah, ya, pernah. Di sini aku tak tahu dimana pijatnya.”
“Lah, kalau sudah capai seperti sekarang ini?”
“Ya, dikuat-kuatkan. Bagaimana lagi.”
Ahmad hanya mendengarkan penuturan temannya. Ia memahami bagaimana keadaannya, dengan merasakan dirinya saat itu yang juga sama-sama capai. Padahal dirinya tak begitu lebih keras kegiatannya.
Sejurus Ahmad mengalihkan pandangannya ke tempat di sebelah kiri mushalla. Sebuah halaman yang ditumbuhi sejumlah pohon tinggi semacam pohon palm. Tidak terlalu luas, meski juga tak sempit. Lebih pantas dianggap sebagai area parkir. Tampak tak begitu terawat, jika bukan kumuh.
Bosan menatap jauh ke halaman, Ahmad meliuk-liukkan leher kepalanya yang sedikit kaku. Terasa sedikit lebih ringan rasanya. Meski rasa penat di sekujur kakinya menahannya untuk berlama-lama duduk, waktu istirahat yang hampir habis memaksanya berdiri dan bersegera mengambil air wudlu. Demikian halnya Zuhri. Ia masih asyik bersandar di tiang tembok penyangga bangunan. Ia sudah berwudlu, tapi tak juga berdiri. Ujung depan rambutnya dibiarkan basah tergerai tanpa disisir. Shalat jamaah gelombang kedua belum juga dimulai.
“Ini belum yang sore,” tegasnya sebelum beranjak shalat.
Ahmad tak bereaksi mendengar keluhannya. Kembali ia memandang Zuhri. Terbayang oleh dirinya jumlah jam mengajar yang padat yang diterima temannya itu. Terbayang juga bagaimana Zuhri senantiasa stand by di sekolah mulai pagi hingga hampir maghrib. Waktu istirahat seperti ini pasti demikian berarti baginya. Apalagi tugas sekolah di sini bukan cuma mengurusi bagaimana menyiapkan materi dan mengajar dengan baik. Bukan hal yang asing jika hampir setiap guru juga menangani keuangan.
oo0oo
“Apa maksudnya menangani keuangan, Mas?” tanya Izzah suatu saat seperti ingin tahu.
“Ya, biasalah… misalnya, apa yang seharusnya dilakukan guru yang juga wali kelas ketika tahu bahwa anak-didiknya banyak tunggakan bayar sekolah. Atau apa pula maneuver guru ketika sedang bersiap masuk kelas untuk menyampaikan materi tertentu namun tiba-tiba mendapat edaran tagihan dari bagian tata usaha agar menyampaikan kepada siswa saat itu juga.”
“Oh, begitukah? Yang berarti waktu mengajarnya pasti berkurang, kan?”
“Pasti.”
Sebenarnya saat itu Ahmad merasa enggan bercerita tentang hal ini kepada Izzah, temannya yang juga guru, di Johor, Malaysia. Ia merasa malu melihat dirinya seperti itu. Seperti hendak membuka dapur nestapanya. Apalagi tahu Izzah masih belia, tapi sudah melangkah melebihi dirinya. Terlebih jika mendengar bagaimana nasib guru di negeri jiran itu. Tapi background sesama guru, apalagi sudah akrab, akhirnya menghilangkan perasaan enggan itu. Juga, kesahajaan Izzah dengannya membuat Ahmad cukup terbuka.
Uniknya, begitu perasaan enggan itu hilang Ahmad bahkan menceritakan keadaan sekitar dirinya lebih jauh, termasuk teman-temannya.
Saat itu pikiran Ahmad tiba-tiba teringat pada temannya yang seorang kepala sekolah di sebuah sekolah menengah atas. Entahlah, tiba-tiba Ahmad merasa bahwa itu adalah suatu realita yang tak perlu ia tutup-tutupi. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah itulah salah satu cara dirinya memahamkan Izzah agar teman chattingnya itu tak berharap berlama-lama di YM dengannya. Meski tidak semua guru di sekolahnya demikian, Ahmad ingin menyiratkan bahwa dirinya tidaklah jauh dari apa yang ia ceritakan.
Pikiran Ahmad menuju seorang temannya. Namanya Moke, seorang kepala sekolah yang juga guru. Hidupnya sangat bersahaja, jika bukan dibilang tanpa perubahan apapun dari sisi kepemilikan. Ia sudah lebih dari lima belas tahun mengajar, tapi hingga kini untuk kredit motor saja Moke tak mampu. Padahal ia bekerja full time di situ. Ahmad teringat ketika suatu hari Moke bercanda.
Saat itu hampir tiba waktu memperoleh gajian bulanan. Ahmad dan beberapa teman guru lainnya sedang menikmati masa istirahat mengajar. Kongkow bareng dengan duduk-duduk di udara terbuka merupakan kegiatan yang mengasyikkan. Di situ semua level status social setidaknya bisa saling bertegur sapa, mulai dari pemilik atau pimpinan sekolah, guru, wali murid, petugas kebersihan, murid, bahkan penjual makanan sekalipun. Di dekat parkir motor Moke berseloroh, “Wah, sebentar lagi banyak uang bertebaran, nih.”
Ahmad yang berada di sampingnya merasa tertarik dengan ucapannya. Ia belum faham maksudnya. Ia membayangkan bahwa itu tak jauh seperti ramainya orang membagi-bagikan uang atau daya tarik lain saat-saat musim kampanye.
Temannya itu tampak tersenyum lebar. Tapi anehnya raut mukanya tak menampakkan kegembiraan yang sangat, lazimya orang yang akan mendapat rezeki. Dalam benak Ahmad mungkin Moke bakal mendapatkan rizki.
Agak lama terdiam, sambil tersenyum kecut, Moke menunjuk seorang teman guru yang baru datang dari arah parkir sambil setengah berteriak, “Nah, ini dia golongannya,” sergahnya sambil menunjuk seseorang yang mendekatinya.
Belum sempat memperoleh jawaban Ahmad dan sejumlah temannya yang ada di situ segera mengalihkan pandangan ke arah datangnya lelaki itu.
Marzuki yang menjadi bahan pembicaraan uniknya seperti sudah hafal dengan gaya Moke bercanda. Ia memang belum tahu maksud kawannya itu. Tapi agak jauh usai turun dari motor tangan kanannya sudah ia angkat sambil melentikkan ibu jari dan jari tengahnya. “Apa? Pasti fulus, ya? Utang-utangan lagi, ya?” berondongnya sambil tertawa lebar.
Moke kontan terbahak-bahak mendengar jawaban jitu Marzuki. “Betul, kan, kalau sebentar lagi ada uang bertebaran?”
Saat itu Ahmad menangkap suatu ironi dari wajah Moke. Temannya itu memang tampak gembira, tapi bukan rahasia lagi kalau sebenarnya hari-harinya berada dalam kegetiran. Kegetiran karena absennya financial!
“Dimana banyak uang bertebaran?” Asyari yang duduk agak jauh dari Moke agak penasaran. Sepertinya ia terprovokasi dengan istilah yang dipakai Moke.
“Lho, jelas, kan? Sekarang tanggal berapa?”
Semua yang duduk di situ hanya diam. Karena semua tahu bahwa saat itu tanggal 10. Yang berarti beberapa hari lagi saatnya menerima gaji.
“Artinya, orang seperti awak-awakan ini sebentar lagi akan “menebar” uang ke sini sekian, ke sana sekian, dan yang lainnya lagi sekian. Begitu, kan?”
Ahmad baru faham maksud uang bertebaran itu. Bahwa guru semacam Moke harus segera mendistribusikan gajiannya untuk nyahur di sejumlah tempat.
Moke tampak terkekeh-kekeh bisa mengerjai teman-temannya. Anehnya, semua yang ada di situ merasa senang.
“Akh, bisa aja Ente ini,” sahut Asyari terkekeh. “Kukira uang apa yang bertebaran.”
Pagi setengah siang itu seperti perulangan hari-hari sebelumnya. Guru-guru di situ berkumpul untuk saling berbagi joke, sekedar berupaya menepis perasaan getir untuk sementara waktu. Memang hanya guru laki-laki, meski hanya beberapa saja. Tapi percikan-percikan joke itulah yang membuat mereka “betah” kerja di situ. Saling memahami kondisi satu sama lain.
Sebagai sesama guru, apalagi bukan pegawai negeri dengan pangkat strata menengahpun, pastilah banyak yang sudah punya hutang di sana-sini untuk mencukupi kebutuhan primernya. Bantuan tertentu dari pemerintah hingga saat ini hanya sebagai pelipur lara. Masih juh dari mencukupi. Perasaan getir karena belitan ekonomi sehari-hari seperti sudah bagai kudapan harian. Sangat hafal bagaimana cara menyiasatinya. Yaitu dengan ambil dulu, bayar kemudian. Jika bukan begitu, pembayaran dengan system kredit seperti obat mujarab guna pencapaian suatu tujuan. Bahkan untuk barang dengan harga puluhan ribu sekalipun. Dengan kalimat lain, sangatlah sulit bagi mereka dapat merasakan kemewahan dengan mengandalkan hanya dari gaji sebagai guru, bahkan kadang bagi yang sudah punya pekerjaan ekstra sekalipun!
Dan hasilnya bisa diketahui. Gajian mengajar mulai pagi hingga menjelang maghrib hanya untuk kebutuhan sangat dasar. Itupun sering untuk membayar kebutuhan yang sudah dilaluinya: bayar hutang. Akh, guruku, demikian getirnyakah nasibmu?
Mushalla pagi itu masih sepi. Murid-murid masih di kelas. Seperti halnya Moke, Ahmad sudah menginjakkan kakinya di mushalla ini belasan tahun yang lalu. Bersama dengan guru-guru yang lain Ahmad menjalani ritualnya di situ. Namun pagi itu hanya Ahmad yang ada di situ, mengisi waktu senggangnya dengan menyendiri usai shalat dhuha. Ia kembali duduk sambil meluruskan kakinya, tanpa Zuhri di depannya.
