
Ahmad baru saja memasuki kamar hotel tempatnya menginap. Istrinya sedang rebahan di pinggir kasur dengan posisi agak miring ke kanan. Sepertinya hanya tidur melepas penat, setelah perjalanan beberapa jam dari rumah. Raut wajahnya pun tak tampak bahwa ia sedang tidur lelap.
Sebenarnya ia agak enggan hendak membangunkannya. Hatinya bertanya, adakah istrinya sedang menggoda dirinya dengan berpura-pura tidur? Seperti pernah dilakukannya di rumah? Sejurus kemudian Ahmad meyakin dirinya bahwa istrinya tidak benar-benar tidur. Ia melihat mata istrinya yang terpejam, tapi kulum sekilas sempat tak mampu disembunyikan. Bahwa istrinya memang hanya tidur bercanda.
“Dek.” Ahmad menyapa Liza perlahan, duduk di sebelah kaki kiri sambil memusatkan pandangan ke wajah istrinya. Menunggu jawaban. Tapi Liza seperti sengaja belum mau menjawab. Sengaja membiarkan Ahmad memanjakan dirinya dengan pura-pura tidur.
Memang Liza senang jika dimanjakan oleh Ahmad. Terasa dirinya begitu disayangi dan dicintai. Bibirnya hanya tampak sedikit mengembang tertahan. Sejurus Ahmad tersenyum, memikirkan sesuatu. Ia menanggalkan bajunya, berdiri dan memasukkannya dalam lemari . Kembali ia pandangi wajah istrinya dari kejauhan. “Dek, Sayang…”
“Hhm…” suara perlahan meluncur dari mulut Liza. Sejenak tampak mata istrinya sedikit terbuka, tapi segera tertutup kembali. Ahmad mendekat dan kembali duduk di sebelah kaki kiri istrinya. Ia pandangi pipi istrinya yang agak oval, terus ke dada, pinggul hingga kaki. Tapi tak hendak membangunkannya. Sebersit hatinya gemas dengan sifat manja istrinya. Sialan juga orang ini, pikirnya. Dipanggil “Dek”, tak menyahut. Eh, ditambahi “Sayang” baru bunyi.
Dengan manja Liza menjawab, “Ada apa, Mas?” Mata Liza saat itu benar-benar terbuka.
Melihat istrinya mulai bereaksi, Ahmad merapatkan posisi duduknya. Tangan Ahmad mengelus-elus lembut betis Liza hingga sedikit ke paha. Tubuh Liza berangsur menengadah, mulai penuh memandangi suaminya duduk di dekat kakinya. Kulum senyum Liza terpancar, seolah ingin meyakinkan bahwa ia telah mendengar sapaan suaminya. “Ada yang ingin dishare?”
Ganti Ahmad yang mengulumkan senyum pada istrinya. Dilihatnya wajah istrinya dengan sedikit nakal, seakan ingin menggodanya. “Ya.” Ahmad mengangguk pendek. Tapi senyum nakalnya tetap ia pertahankan. Sejurus Ahmad merebahkan dirinya, miring di sebelah Liza. Liza kembali memiringkan posisi tidurnya. Ahmad merapatkan dirinya sambil mendekapnya lebih hangat. Tangannya membelai-belai lembut rambutnya, juga ke pipi.
Liza jadi agak berdebar. Matanya kembali terkatup. Pikirannya kembali ke rumah, ingat saat-saat pertama bersama suaminya usai menikah. Tiba-tiba ia punya firasat, akh, jangan-jangan…
Tapi agaknya Ahmad hanya berhenti sampai di situ. Tak ada perlakuan lanjutan yang menambah “kekhawatiran”Liza. Kembali ia merasa agak heran, apa yang akan dishare dari suaminya itu. Apalagi ia tak juga segera bincang. Tapi segera Liza bisa menguasai diri, karena tahu bagaimana suaminya sering memperlakukan dirinya seperti itu. Ia jadi teringat selama merajut cinta dengan suaminya. Ia sudah kenal dengan perangai suaminya yang suka menggoda itu. Malah Liza mengakui, dengan sikap suaminya itulah akhirnya dirinya jatuh cinta padanya.
Liza membuka matanya, sambil menguatkan bertanya. “Pasti mau ngusik, ya?” Seolah hafal apa yang akan dilakukan suaminya padanya.
Ahmad hanya tersenyum mendengar istrinya langsung menerka seperti itu. Pura-pura tak berniat demikian. “Akh, nggak juga. Tadi malam Mas ketemu lagi dengan Izzah.”
“Oh, ya? Bagaimana khabar dia? Baikkah?”
“Masih sama.”
“Maksudnya?”
“Tidak ada hal yang istimewa.” Ahmad menatap wajah istrinya untuk meyakinkannya. Sedikit senyum ia berikan, seolah menyampaikan agar istrinya tak perlu kuatir. Dan Liza menangkap makna senyum itu.
Beberapa saat kemudian Ahmad mengalihkan pandangan ke luar kamar. Pemandangan alam yang indah dengan tebaran warna hijau bertabur warna-warni bunga sore itu seperti membangkitkan dirinya menelusuri keterpesonaannya. Pikiran Ahmad saat itu tiba-tiba ingin mengajak istrinya jalan-jalan menikmatinya. Berjalan bersama dan bermesraan. Tapi ia merasa harus menjawab lebih lagi pertanyaan istrinya. Ia tak ingin menyimpan sesuatu darinya.
“Ia tak berputus asa sepertinya.” Tatapan Ahmad masih keluar kamar. Beberapa saat kemudian ia alihkan kembali pandangannya ke Liza. Ahmad mengecup lembut kening Liza, sambil mengucap datar. “Ia masih maukan Mas.”
“Oh ya, begitukah?” Seolah hal yang biasa, wajah Liza hampir tak banyak berubah. Lebih tepat dikatakan sebagai suatu ucapan yang muncul begitu saja. Senyumnya masih tersisa.
Ahmad tambah sayang melihat respon bersahaja dari istrinya itu. Tangan Ahmad kembali membelai dan mengusap Liza dengan penuh sayang seraya mendekapnya. Sesekali diciumnya pipi yang agak seperti bakpao itu. Liza merengek manja, membiarkan suaminya memperlakukan dirinya seperti itu.
“Mas sendiri tak habis fikir, kenapa dia seperti itu.” Tampak sedikit menggelengkan kepalanya sebagai tanda keheranan. Ahmad menebarkan senyum penuh arti ke istrinya.
Ahmad segera menguasai perasaannya. “Akh, sudahlah. Yuk, kita jalan-jalan keluar. Sayang pemandangan petang yang indah ini disia-siakan dengan rebahan saja.”
“OK, sekejap ya.”
oo0oo
Lengan Liza menggamit lengan Ahmad sepanjang jalan melihat pemandangan. Sesekali tampak Liza melepaskan tangannya, menghampiri satu bunga ke bunga yang lain. Wajah Liza berbinar, tak mampu menyembunyikan betapa bahagianya saat itu. Suasana honeymoon begitu kental bagi keduanya. Ditambah lagi pemandangan dengan tebaran pesona berbagai bunga berwarna-warni menyelimuti petang indah itu. Kesukaan Liza akan bunga seperti dimanjakan dengan banyaknya warna serta macam bunga di situ.
Udara yang sejuk seperti tak membuat Liza terpengaruh karena bisa berduaan dengan suaminya. Bahkan keceriaannya seperti menepis sejuknya hawa dingin petang itu, dengan merapatkan badan pada suaminya. Sesekali tampak Liza mendekat sambil berjongkok, seolah hendak memetik satu-dua bunga yang membuatnya terkesima. Kicau burung di sana-sini turut menyegarkan suasana taman bunga.
“Mas tahu nama bunga ini?”
Ahmad hanya tersenyum melihat tingkah istrinya menghampiri sekumpulan bunga. “Nggak.” Tangannya bersedekap sambil memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan istrinya. Masih dengan senyumnya yang mengembang Liza terkadang menatap suaminya. Seolah mengerti apa yang dipikirkan Ahmad, Liza berdiri meneruskan jalan-jalan petangnya.
“Duduk di sana, yuk!” Ahmad menunjuk tempat duduk permanen yang tak jauh dari dirinya berdiri. Sebuah tempat duduk melingkar dari batu berukir, dengan atap berbentuk payung.
“Ada apa, Mas?”
“Nggak ada apa-apa, duduk saja.” Wajah Ahmad memang tak tampak seceria Liza. Tapi ia juga tak sedih. Sebagai lelaki, apalagi tak banyak faham tentang bunga pasti tak banyak juga yang ia jawab dari pertanyaan istrinya.
Ahmad segera beranjak dari lokasi bunga diikuti istrinya. Lengan Liza segera kembali menggamit lengan suaminya. Ahmad membiarkan saja apa yang dilakukan istrinya, meski kadang-kadang ia merasa agak kikuk jika ada orang yang berpapasan dengannya melihatnya demikian. Namun Liza tak hirau dengan pandangan orang terhadap mereka, malah tambah merapatkan dirinya ke Ahmad.
“Tahu kenapa, mengapa Mas ajak duduk di sini?” Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulut Ahmad setelah duduk. Mata Ahmad menatap wajah istrinya dengan tajam.
“Nggak. Memangnya ada apa?” Raut muka Liza sedikit berubah serius.
Ahmad tak kalah serius wajahnya. Cukup lama ia diam. Napasnya agak tertahan. “Agar adek tak tanya macam-macam tentang bunga.” Ahmad tiba-tiba tertawa kecil menggoda istrinya. Matanya melebar meyakinkan godaannya.
“mMaas…. Nakal.”
“Kan, benar. Jika nanti adek tanya ini atau itu dan Mas tak bisa jawab, lama-lama kan malu juga.”
“Iya… tapi tadi adek sempat kuatir. Kenapa tiba-tiba Mas seperti tampak marah.”
“Oh, ya…” Tawa Ahmad makin lebar mendengar pengakuan istrinya.
Sore itu keduanya tampak bahagia. Bahagia menikmati suasana honeymoon mereka yang begitu indah setelah perjalanan cinta mereka berakhir dengan perkawinan. Di bawah bangunan berbentuk payung dari kejauhan tawa keduanya terdengar tak henti-henti. Nyanyian burung yang bersahut-sahutan menambah ceria petang itu. Bunga-bunga di sekitarnya begitu indah, melengkapi kebahagiaan mereka bercengkerama. Entah, apakah ada dalam fikiran Ahmad tentang Izzah saat itu. Yang pasti keduanya tampak sangat menikmati saat-saat indah itu.
