Monday, December 15, 2008

Cerpen pertama - Mengajar lagi


"Kita harus realistis dengan semua ini, Dik." Ahmad memandang tajam istrinya. "Sudah kuhitung, dan ternyata memang selama ini kita besar pasak daripada tiang."

"Iya, kan dari dulu sudah kuingatkan Sampean, Mas." Jizah tampak seperti agak ogah-ogahan meladeni omongan suaminya. Ia duduk di pinggir tempat tidur di depan suaminya yang sedang berdiri di depannya, dengan sedikit memandang lantai sambil sesekali memandang ke luar jendela. Tapi hatinya merasa tak nyaman, dan segera kembali ia arahkan pandangannya ke suaminya.

Pikirannya menerawang ke puluhan tahun silam, ketika perekonomian keluarganya tidak separah sekarang ini. "Bukan aku tak tahu semua ini. Tapi Sampean yang mungkin tak begitu hirau dengan apa yang kusampaikan dulu. Bahwa suatu saat ini akan menjadi masalah."

Jizah menyampaikannya dengan nada datar dan cenderung kurang ekspresif. Seperti sengaja ia buat begitu agar berkesan ia tak menyalahkan tindakan suaminya.

Ahmad menghela nafas sejenak. "Maafkan aku, Dik. Aku bukan tak menyadari. Tapi apa yang kita miliki selama ini seperti melalaikanku." Ganti Ahmad mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sejurus kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas dipan. Pandangan matanya kembali ia arahkan ke istrinya.

Seolah mengerti bahwa suaminya ingin curhat Jizah ikut merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya. Tapi tatapannya ia arahkan ke langit-langit.

"Dulu aku merasa bahwa semua akan OK-OK saja." Pandangan Ahmad juga ke langit-langit, seolah di situlah tempat koordinasi penyatuan pikiran dirinya dan istrinya. Kembali pikirannya menerawang ke beberapa tahun silam. Ia membayangkan bagaimana incomenya yang dulu seperti mengalir dengan sendirinya, mobil yang jarang digunakan tapi selalu stand by, termasuk rumah kontrakan yang bisa melengkapi penghasilan di masa tertentu. Pekerjaan sebagai guru yang walaupun tak begitu banyak hasilnya tetapi masih bisa menambah suplai belanja keluarga. Belum lagi topangan suplai belanja harian dari orang-tuanya, yang pasti semakin memperpanjang terkurangi tabungannya.

"Tapi kini telah banyak yang berubah. Dan meski cukup terlambat, bagaimanapun aku masih bersyukur tidak semua yang kita miliki habis. Kita masih punya sesuatu yang bisa digunakan untuk mengevaluasi diri dan menata apa yang masih ada sehingga ke depan kita bisa memilih hal yang paling pas untuk dilakukan."

"Memangnya apa yang akan Mas lakukan?" Jizah melirik suaminya. Dilihatnya pandangan suaminya masih ke langit-langit.

"Entahlah. Aku sendiri bisanya ya seperti yang kamu tahu selama ini. Rumah kontrakan yang baru saja jadi kos-kosan juga belum tampak hasilnya. Yang paling mungkin, ya… mengajar lagi."

"Aku tahu itu, Mas. Tapi kalau boleh tahu, bagaimana Mas akhirnya memutuskan "mengajar" sebagai hal yang sepertinya harus dilakukan?"

Ahmad beranjak dari tempat tidurnya. Ia duduk di pinggir istrinya yang terlebih dulu duduk. Kembali ia menatap wajah istrinya. Seperti ada yang membuatnya senang, Ahmad tersenyum. "Aku bersyukur kemarin sore Cak Ful datang ke sini."

"Ooh, yang kemarin itu?"

"He-eh."

"Memangnya kenapa?"

"Meski aku tahu, sepertinya dialah perantara yang mengantarkan petunjuk (hidayah) itu."

"Maksudnya?"

"Kamu dengar, kan, ketika dia seperti mengetahui kegelisahan kita."

"Ya."

"Cak Ful mengingatkan Surah At-Thalaq 2-3. Tapi sayang ia sepertinya hanya bisa memberikan dalil Arabnya, dan sedikit makna yang terdapatdi dalamnya."

"Lalu?"

"Setelah kulihat di terjemahan (Al-Quran) dalam surah itu disebutkan, … Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan (menjadikan) baginya jalan keluar, dan memberi rizki yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan apa (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu."

"Memangnya apa hubungan ayat tersebut dengan mengajar Sampean, Mas?"

"Secara langsung memang tidak ada. Tapi jika dikaitkan dengan bagaimana seharusnya sikap seseorang ayat tersebut jelas ada hubungannya."

"Aku belum faham."

"Coba perhatikan." Wajah Ahmad setengah berbinar menjelaskan pada istrinya. Seolah ada sesuatu yang ditemukan dalam ayat tersebut. "Di situ ada kata "bertaqwa", ada kata "jalan keluar" dan "rizki", juga ada kata "tawakkal" dan "mencukupkan". Apa kamu belum merasakan sesuatu?"

"Belum."

"Di situ Allah menjelaskan bahwa Dia akan mengadakan jalan keluar bagi orang yang bertaqwa, dan akan mencukupkan rizki baginya. Kemudian Allah juga menjelaskan bahwa Dia akan mencukupkan keperluannya. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita memahami kata bertaqwa dan bertawakkal itu, itulah yang bisa berbeda satu orang dengan orang yang lain."

"Menurut Mas sendiri bagaimana?"

"Coba perhatikan." Ahmad seperti tidak sabar ingin istrinya cepat faham. "Menurutku, jalan keluar akan ditampakkan (diadakan) oleh Allah bagi hambanya yang bertaqwa. Bertaqwa maknanya menjalani perilaku yang disyariatkan (diperintahkan) olehNya dan menjauhi hal yang dilarangNya. Di situ Allah seperti menjelaskan pada kita akan adanya jalan keluar. Ini berarti, jika seseorang bertaqwa kepada Allah maka orang tersebut akan ditunjukkan jalan keluarnya, berupa rizki yang berasal dari sumber yang tak disangka-sangkanya. Tapi belum keluar dari tempat dimana ia berada pada waktu itu. Dengan kalimat lain, Allah masih belum membawa orang tersebut benar-benar keluar dari "kungkungan" tempat yang ingin ia tinggalkan. Rizkinya masih "suka-suka" dan bersifat unpredictable."

"Lalu?"

"Nah, jika ia mau keluar dari situ berarti harus ada lagi upaya yang harus dilakukannya. Apa itu? Ia harus bertawakkal."

"Bertawakkal, bagaimana itu?"

"Bertawakkal itu menurutku ada dua dimensi pengertian. Yang pertama dimensi vertical, dan kedua dimensi horizontal."

"Bagaimana penjelasan vertical-horizontal itu, Mas?"

"Dimensi vertical adalah dimensi ilahiyyah, yaitu dimensi dengan makna ghaib. Suatu bentuk komunikasi antara hamba dan Khaliqnya, yang ukurannya bukan lagi panca indera. Di dalamnya sang hamba berdoa (meminta) kepada Sang Penciptanya. Di sini orang yang berharap atau berdoa tersebut mungkin bisa merasakan bahwa doanya dikabulkan. Tapi bisa saja sebaliknya tidak merasakan apa-apa. Dan Allah Yang Maha Mengaturnya yang tahu bagaimana sesuatu akan terjadi. Dirinya tidak tahu bagaimana selanjutnya akan terjadi. Orang lain juga tidak tahu. Semua makhluqNya juga tidak ada yang tahu."

"Dimensi horizontal?"

"Dimensi horizontal adalah dimensi insaniyyah, yaitu dimensi dengan makna realistic-perseptual."

"Maksudnya?"

"Realistik artinya nyata. Perceptual artinya bisa dipersepsi oleh setiap yang mengalami. Dimensi inilah yang selama ini diperebutkan oleh setiap manusia yang bernyawa. Orang yang telah mengetahui/ mendapat petunjuk dariNya masih harus melakukan upaya dengan sesamanya. Istilahnya ia harus berikhtiar dengan cara melakukan sesuatu agar mendapatkan yang diinginkannya."

"Dikatakan nyata karena sesuatu yang akan dikerjakannya adalah sesuatu yang real, yang nyata. Dikatakan perceptual karena memang bisa dipersepsi oleh setiap orang menjumpai ikhtiarnya."

"Konkretnya bagaimana?"

"Begini, dalam konteks masalah kita ini, bahwa kita saat ini mengalami deficit financial akibat terlambat menyadari cashflow yang tidak seimbang kita harus mampu memetakan ulang posisi financial tersebut. Seberapa besar defisitnya, asset apa yang mungkin bisa mengkovernya, kemudian jika masih juga belum cukup berarti harus mampu melakukan sesuatu agar minimal bisa membuat balance antara pengeluaran dan pemasukannya."

"Lebih jelasnya lagi?"

"Selain harus tetap berserah diri kepada Allah bagaimana nanti jadinya hasil yang diperoleh dari usaha tersebut kita wajib "melangkah" menuju jalan keluar yang ditunjukkan Allah melalui perantara yang ditunjukkan itu."

"Berarti sampainya ya tergantung cepat atau lambatnya melangkah itu?"

"Tepat sekali. Selain itu ya tergantung juga dari seberapa banyak rintangan yang menghadang jalannya."

"Yang berarti juga bergantung dari seberapa mampu orang yang menemui rintangan tersebut dapat mengatasinya, bukan?"

"Ya."

"Wah, berliku juga ya?"

"Begitulah. Itu belum lagi jika jalan yang ditampakkan Allah itu asing atau tidak. Yang berarti kita harus mengatasi (mempelajari) rasa asing tersebut untuk kemudian kita "lalui". Sebab jika tidak, siapa tahu di sekitar jalan tersebut masih banyak rintangan yang tak mampu dilalui. Semakin besar rintangan (tantangan)nya semakin besar kebahagiaan yang akan dicapai manakala itu berhasil dilalui."

"Dan jangan lupa… ada lagi satu hal yang tak boleh dikesampingkan."

"Apa itu?"

"Sesuatu yang tak terindera oleh kita, oleh makhluq hidup yang namanya manusia ini. Selama ini kita hanya mampu mendeteksi apa yang kita lakukan berikut respons balik dari semuanya, baik yang langsung maupun yang tak langsung, baik yang terindera di sekitar kita maupun yang terindera tapi jauh dari kita. Tapi yang tak terindera oleh kita, yang ghaib dan tak terdeteksi, atau yang luput dari jangkauan hitungan kita. Lebih pastinya lagi karena kuasa atau campur tangan Tuhan yang Maha Mengatur semua alam semesta beserta segala macam isinya ini. Itulah yang seharusnya masuk dalam kesadaran manusia. Artinya, meskipun manusia telah banyak berbuat sesuatu janganlah merasa bahwa respons balik (hasil) dari jerih payahnya itu ia maknai pasti akan terjadi sesuai dengan keinginannya."

"Ya, tapi apa hubungannya dengan mengajar Sampean?"

"Ya jelas, tho… mengajar lagi insya Allah merupakan "jalan keluar" bagiku. Alias solusi yang harus aku jalani agar perekonomian keluarga kita tidak semakin runyam. Dengan mengajar lagi berarti aku akan meniti jalan keluar yang diadakan oleh Allah, agar memperoleh rizkiNya. Apalagi rizki mengajar dahulu tidak lagi sama dengan rizki mengajar di masa-masa mendatang."

"Caranya?"

"Ya itu yang harus aku upayakan ke depan, yang dijelaskan dalam makna "tawakkal" tadi."

Wajah Ahmad berbinar. Ia merasa memperoleh sesuatu setelah kehadiran Cak Ful. Pikirannya tidak lagi ke masa lalu. Dirinya ingin segera mengajar lagi . Ingin segera diperolehnya rizki baginya dan keluarganya guna mencukupkan kebutuhan sehari-harinya.






No comments:

Post a Comment