
Kaki Ahmad berselonjor. Duduk sendirian di beranda depan rumahnya. Sore hari di atas tikar beranyam daun. Di sebelahnya segelas besar teh menemaninya. Dipandanginya hijau daun-daun bunga pada sepetak tanah.
Sungguh tenang hidup bunga-bunga ini, pikir Ahmad. Ia coba dekati satu pohon bunga. Ia amati struktur daunnya. Batangnya memanjang seperti padi. Demikian juga daunnya. Meski serupa tapi ia tak kasar seperti yang tadi. Subhanallah! Maha Suci Sang Pencipta demikian beraneka ragam tumbuhan. Ahmad menatapnya. “Kenapa aku tak tahu namanya? Bukankah ia sudah lama berada di sini, di dekatku?”
Agak lama ia tercenung, pandangan matanya nanar. Pikirannya tak fokus pada bunga tadi. Mata Ahmad bergeser ke pohon bunga di sebelahnya. Daunnya lebar menyerupai waru yang terbalik. Hijau bertabur bintik-bintik putih. Tulang daunnya berwarna merah. Lagi ia bertanya kenapa pula ia tak tahu nama pohon ini? Segera matanya menebar ke beberapa pohon yang lain. Lekuk daunnya berbagai-bagai. Juga batang serta bunganya. Akh, ternyata begitu banyak dirinya yang tak kenal mereka.
Berhenti memandangi pohon bunga berukuran setengah hingga satu meter ia lempar pandangannya ke sejumlah rerumputan di sekitarnya. Lagi-lagi ia tak tahu namanya. Hatinya tersenyum. Selama ini ia cuma menamainya rumput. Ya, semua yang tumbuh kecil-kecil ia namainya rumput. Tapi lagi-lagi pandangannya nanar. Pikirannya mulai galau.
Ahmad kembali duduk berselonjor di atas tikar. Hatinya mulai merasa tak menentu. Tatapan matanya ke arah anyaman tikar. Ia perhatikan salah satu baris anyaman yang muncul-tenggelam bergantian. Seolah gambaran dirinya yang juga muncul-tenggelam akhir-akhir ini. Sejenak kemudian tangan kanannya mengangkat gelas, menyeruput beberapa teguk teh di sampingnya. “Akh, nikmatnya,” gumam Ahmad. Kembali hatinya tersenyum.
Tiba-tiba ia teringat pohon bunga milik adiknya, Liza. Pikirannya melayang ke salah satu gambar kebun bunga yang dikirim Liza, yang hingga kini belum pernah ia temui. Liza pernah bercerita, dulu kegiatan sehari-harinya adalah merawat bunga di samping rumah. Ia juga bercerita punya sejumlah pohon yang buahnya besar-besar.
Tapi ada yang dirasa aneh olehnya, kenapa musti adiknya ini yang sering ia ingat? Bukankah dirinya seperti tak berdaya untuk menemuinya?
Belum mendapat jawaban ia teringat perbincangan dengannya tentang kutang. Byuh! Malu rasanya jika ingat itu. Tapi anehnya kadang ia malah senang bukan main. Senang karena ingat bahwa ia telah membuat adiknya merasa senang. Tapi malu karena ia merasa seperti sudah gila. Bagaimana tidak dikatakan gila, sama sekali belum pernah ia jumpa dengannya. Apalagi menatap atau sekedar berjabat tangan dengannya. Tapi guyonannya sudah sampai ke cerita barang “syubhat” macam kutang.
oo0oo
“Mas sudah pernah ke Bromo?” Ahmad teringat pertanyaan Liza.
“Tapi sudah lama sekali. Sudah puluhan tahun lalu.” Pikiran Ahmad melayang ke masa ketika ia masih muda. “Masih belum kawin dulu. Waktu itu lewat Probolinggo, bukan lewat Pasuruan.”
“Mau dengar share tentang pengalaman ketika di Bromo dulu?” Ahmad memancing pembicaraan lebih lanjut.
“Boleh.”
Tiba-tiba senyum Ahmad tak mampu ia sembunyikan. Sejenak kemudian malah ia tertawa ngakak mengingat peristiwa di sana.
Liza yang mendengar via handphone di seberang jadi terbahak mendengarnya. “Lho, koq ketawanya dahulu,” derainya juga tak kuasa menahan tawa.
“Ha… ha..” Ahmad tak kuat menahan tawa mengingat peristiwa itu. “Kamu tahu kenapa aku tak kuat menahan ketawa?”
“Enggak.”
“Dengar, ya.” Tawa Ahmad mulai reda. Handphone di tangan kiri ia pindah di sebelah kanan. Terasa sedikit pekak telinganya. Tapi senyumnya masih terlihat menyungging.
“OK.”
“Waktu itu Mas dengan beberapa teman. Kami sekelompok berempat. Di lautan pasir di kaki Gunung Bromo sudah demikian ramai orang. Tenda-tenda sejumlah kelompok orang sudah banyak yang berdiri. Tapi lebih banyak yang berlalu-lalang. Udara sangat dingin waktu itu, apalagi untuk ukuran kami yang biasa hidup di daerah panas macam Bangil atau Surabaya. Rata-rata mereka juga kedinginan. Suasana masih gelap. Yang terlihat cuma samar-samar, seperti hanya bayangan. Dalam jarak beberapa meter pun tak mampu kami melihat dengan jelas wajah satu dengan yang lain. Apalagi kabut tebal waktu itu datang silih berganti menyelimuti suasana pagi.
“Puncak Bromo tempat dilangsungkannya ritual lumayan jauh ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu itu tak ada kendaraan bermotor. Hanya kuda sewa. Itupun hanya sampai di kaki tangga pendakian. Sebagai orang yang baru datang tentu kami ingin tahu ada apa di situ. Tapi hanya hamparan pasir dan sejumlah tenda atau kerumunan orang yang lalu-lalang. Hanya beberapa orang yang membawa lampu senter, itupun tak dinyalakan terus-menerus.
“Waktu itu kami agak bingung mau apa dengan keadaan di situ. Tenda kami belum lagi berdiri. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara seseorang yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Suaranya keras meski segera termakan suasana lautan pasir yang dingin menggingit.
“Jiangkriiik… mosok sak mene akehe gak onok wedoakene blas!”
“Hua ha..ha..ha…” Terdengar hampir semua orang di sekitar kami tertawa ngakak mendengarnya. Termasuk kami yang mendengar jelas orang tersebut.
Ahmad tak kuat menahan ledakan tawanya. Liza yang mendengarnya di seberang seperti hanya ikut-ikutan tertawa. Tapi tak tahu maksudnya. Setelah berhenti tertawa, baru Ahmad menjelaskan makna ucapan orang tersebut.
“Ya, Allah. Ada-ada saja orang itu.” Liza juga tak kuasa menahan ketawa yang ditahannya. Sebaliknya Ahmad masih terkekeh karenanya. Seperti biasanya, matanya bahkan mengucurkan air mata karena merasa lucu.
“Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan padamu, Dik?”
“Oh, ya?”
“Ada yang lucu lagi. Mau mendengarnya?”
“Baik.”
“Tapi, maaf ya. Hampir sama dengan yang tadi. Maksudku, agak ngacau. Tapi memang di situlah letak kelucuannya.”
Liza hanya terdengar sedikit tertawa. Seperti bilang setuju.
“Eee… suatu ketika salah satu temanku, Holis, seperti usil. Udara dingin membuatnya ingin menggerakkan tubuhnya agar tak kedinginan. Lama keluar dari tenda tahu-tahu ia kembali sambil ketawa ngakak. Tentu saja kami yang ditinggal sempat bengong melihatnya.”
Datang agak tergopoh-gopoh ia masuk tenda. Tangan kanannya mengepal sambil ia pukulkan ke tangan kirinya yang terbuka. Wajahnya tertawa riang ketika melihat kami asyik duduk bersila sambil cerita.
“Laopo koen nggegekae, Jal” tanya Sa’ad kepadanya.
“Cok, awak mari oleh kharim maeng, rek. Timbang gak onok maneh, masio rodok-rodok tusus tak wed-ae.”
“Ha..ha..” kami tertawa hampir bersamaan. “Asyik?” selidik Sa’ad.
“Dapake,” Holis sedikit menjelaskan. “Tapi gak ngurus, sing penting oleh sebetan thithik-thithik he..he..”
“Terus.” Sa’ad tak sabar mendengar cerita lanjutan Holis. Ahmad merapatkan duduk silanya, juga tampak antusias. Awad segera menaruh gitarnya, seperti juga ingin segera mendengar berita Holis.
“Tadi aku jalan-jalan. Ee… mlasak mrono-mrene, gak ketemu kharim blas. Onok siji. Rodok tusus, sewek’an pisan. Tak pikir, timbang kademen, tak cedeki. Mari ngomong ngalor-ngidul, akhirnya kena juga dirembug dia.
“Ha..ha.., terus.” Awad berbinar wajahnya.
“Singkat cerita, akhirnya aku bisa mepet dia. Lumayan, gawe tombo adem. Nah, kemudian tangan kumasukkan ke bajunya. Biasa, gerilya,” ceritanya sambil ngakak.
“Ha..ha.. diapakano-ae, rek” timpal Sa’ad seperti konfirmasi.
“Iki, menengae ta…” celetuk Ahmad kepada Sa’ad seolah mencegah agar cerita tak terputus lama-lama.
“Bareng tangan mlebes… hua..ha..ha..atos!”
“Ha..ha.. apanya yang atos?” Haris seperti pura-pura tak mengerti. Yang lain terkekeh tak tahan menahan geli.
“Dususe kayak terpal. Tak resem dari depan gak kenek. Lewat bagian bawah ketat, gak kenek. Sudah gitu belakangnya pakai ping-pingan pisan.”
“Hua..ha..ha...” Semua tak tahan menahan tawa.
Udara dalam tenda yang semula terasa dingin waktu itu serasa kontan hangat. Sa’ad yang duduk di samping Awad sempat terjengkang. Seperti sedang histeris, kakinya menjejak kaki Haris. Tubuhnya yang mundur beberapa senti malah menghantam gitar di sebelah Awad. “Brak!” Sialnya, gitar menyenggol tiang penyangga tenda, hingga hampir roboh.
oo0oo
Ahmad senyum-senyum ingat cerita itu. Kepada Liza ia memang sudah bukan seperti dengan orang lain. Bahkan pada waktu yang lain Ahmad membuat ia dan dirinya terpingkal-pingkal.
“Punya kamu pasti ping-pingan juga, kan?” goda Ahmad kepada Liza. Tawa kecilnya tak berhenti terdengar dari balik telepon.
“Mas tahu saja.” Seolah tak mau menghentikan suasana ceria Liza mengiyakan saja apa yang dikatakan Ahmad. Derai tawa Liza juga terdengar.
“Dan talinya guna rafia, kan?” Ahmad mendramatisir sambil tertawa keras. Air matanya keluar deras. Sesekali tangan kanannya menyeka tak mampu menahan laju air matanya.
“Ha..ha.. Ya, Allah. Mas ini ada-ada saja.”
“Tapi bilang, iya, kan?”
“Ya, Allah… Mas ngacau.“
“Alaa, jangan pura-pura gitu, Dik. Malah mungkin keadaanmu lebih kacau lagi pastinya.”
“Ha..ha.. Maksud, Mas?”
“Pasti talinya warnanya kontras, kan? Jika BH-nya hijau, pasti talinya merah. Gitu, kan?”
“Ha..ha..” Ledakan tawa Liza tak kunjung berhenti. Ia tak mampu berkata kecuali tertawa.
oo0oo
Sore itu Ahmad sebenarnya merasa malu karena ingat cerita tentang barang “syubhat” itu. Ia merasa malu melihat dirinya sendiri. Seperti sudah benar-benar gila. “Bagaimana aku ini, kenal dia saja tak begitu lama. Tak pernah bertemu orangnya tapi omongannya sudah ngalor-ngidul.”
Malu jika teringat bagaimana Liza memperlakukan dirinya. Membandingkan Liza yang sering mengiriminya SMS. Tentang renungan yang dinukilkan dari ayat-ayat Al-Quran. Jika tidak begitu diambilkan dari hadits-hadits Nabi. Atau setidaknya kata-kata berisi motivasi selalu mengisi hari-hari selama kontak dengannya.
Dalam beberapa kesempatan Liza mengiriminya hadiah berupa pakaian untuk keluarganya. Ia juga pernah memberi souvenir, menghadiahi obat-obatan, juga buku-buku yang dibutuhkannya. Bukan cuma itu. Liza bahkan sudah sangat percaya padanya dengan mentransfer sejumlah uang. Meski uang pinjaman ia memperlakukannya seperti pinjaman seumur hidup. Tanpa jaminan. Bukankah ini sudah “gila”?
Sementara ia sekedar menemaninya share ringan tentang berbagai hal. Jika bukan itu, ujung-ujungnya, ya, guyonan alias joke saja. Dirinya merasa sebagai lelaki biasa yang merasa tak bisa membalas jasa. Seperti tak berharga. Tak ada keseimbangan dalam hidup bagaimana ia seharusnya. Seolah tanpa makna. Gila!
Yang dirasanya tambah gila adalah bagaimana sikapnya selama ini padanya. Meski tak persis, yang ia inginkan dirinya bisa berbuat sesuatu untuk adiknya. Membuat adiknya bahagia dari kejauhan. Tapi yang ia lakukan sepertinya sudah kelewatan. Di luar batas. Muncul perasaan sangat suka padanya, seolah sebagai istri! Menyatakan sayang, juga cinta. To say love and to be loved. Bukankah itu sudah gila? Kaki Ahmad kembali berselonjor. Duduk sendirian di beranda depan rumahnya, di sore hari di atas tikar beranyam daun. Dipandanginya salah satu baris anyaman tikar yang muncul-tenggelam. Pikirannya melayang ke sebuah negeri tempat adiknya. Mungkinkah ia juga berangan-angan gila sepertinya? Akh, semoga ia tak seperti si gila!

No comments:
Post a Comment