Thursday, December 18, 2008

Cerpen keempat - Hati yang terbelah

Banyak kerabat Ahmad tidak tahu kalau hubungan antara dirinya dan Liza hingga saat ini tetap terbina dengan baik. Padahal dulu sebagian dari mereka sempat heboh dan menyayangkan khabar ini. Tentu tidak halnya dengan Jiza. Juga anak-anaknya yang hampir tiap hari melihat ayahnya berbicara dengan Liza. Meski sempat mengalami hal yang sama, bagi Jizah—istri Ahmad, peristiwa yang sangat menguras energi itu tak ingin ia pikir berkelanjutan. Sudah capek. Apalagi ia juga harus memikirkan perekonomian keluarganya akhir-akhir ini yang semakin kacau.

Beruntungnya sekarang khabar itu seperti termakan angin lalu saja. Bahkan Liza dan Jizah sudah beberapa kali kontak dan berbicara secara akrab seperti tak pernah mengalami masa-masa kelam itu. Seandainya saja di antara mereka ada yang ingin tahu bagaimana hal itu bisa terjadi sudah tentu jawabannya tidaklah semudah menjelaskannya saat ini.

Dunia maya ibarat sebuah dunia yang tersendiri. Bagi sebagian orang ia seolah tak nyata, tapi mampu mengusik bahkan lebih dahsyat bagi sebagian yang lain. Bagi keluarga Ahmad hubungannya dengan Liza pada awal-awal sangat menguras energi. Prosesnya begitu mencekam dan diliputi pergolakan batin yang luar biasa. Bagaimana Ahmad akhirnya mampu terus menjalin hubungan dengan Liza, terutama bagaimana istrinya akhirnya “pasrah” menerima perlakuannya juga Liza, belum pernah terjadi selama ini. Demikian halnya dengan Ahmad, tidak cuma dengan keduanya Ahmad harus menghadapi pergulatan emosi. Dengan kerabatnya sendiri, juga dengan kerabat Jizah, dirinya telah mengalami tentangan yang cukup dahsyat.

Terasa sulit bagaimana semua ini dijelaskan olehnya secara runtut. Ia hanya bisa memastikan semua itu dimulai dari adanya keinginan Liza untuk memesan produk yang ia jual via website.

Layaknya orang yang belum saling mengenal dan sedang menghendaki suatu produk, topik yang mengemuka adalah keingintahuan Liza atas produk Ahmad. Dan sudah pasti jawaban Ahmad adalah memberi informasi selengkap dan sebaik mungkin bagi customernya. Namun diakui, ada yang berbeda dari Liza dalam merespons jawaban Ahmad.

Ahmad menyadari bahwa dirinya lebih suka memberi lebih untuk menginformasikan produknya ketika ada customer yang bertanya. Namun ia tetap berusaha agar customernya merasa tidak menerimanya sebagai sesuatu yang berlebihan. Hal itu dilakukan karena tidak semua orang sama dalam “menggali” informasi untuk hal yang ingin diketahuinya.

Dalam beremail, misalnya, ia melihat bahwa Liza berupaya merespons dengan setara atas suatu informasi yang diberikannya. Suatu kali, ketika Ahmad meminta padanya agar cukup menyebut namanya saja tanpa tambahan ‘Tuan’, Liza tak berkeberatan. Bahkan sebaliknya Liza meminta hal yang sama. Agar Ahmad cukup memanggilnya Liza, tanpa Puan di depannya.

Yang Ahmad senangi dan juga membuatnya bersemangat terus berkoresponden dengan Liza adalah kejujuran dan keterusterangannya. Pengetahuannya tentang Islam juga membuat Ahmad betah berlama-lama diskusi via YM. Perbedaan negara tidak menjadikannya untuk semakin memperbesar jarak keduanya, tetapi rasa ingin tahunya tentang sesuatu dari orang yang—menurutnya, dipercayainya membuatnya semakin mengecilkan perbedaan itu.

Upaya mengenal masing-masing keluarga, kerabat, kebiasaan sehari-hari, adat-istiadat, bahkan cerita tentang masa lalu sudah bukan lagi hal yang tabu bagi keduanya. Semakin intensif keduanya memahami masing-masing semakin besar rasa saling ingin tahunya.

Getaran rindu pun akhirnya mulai muncul dalam diri Ahmad. Sehari tak berbicara dengannya sudah seperti tak tertahankan. Perasaan cinta pun bersemi. Akh, ada saja yang tak mampu ia sampaikan, meski sering bercanda.

oo0oo

Rutinitas Ahmad dengan Liza via YM mengusik ketenangan Jizah. Sesekali ia mencuri dengar obrolan suaminya. Hanya satu sisi, karena Ahmad menggunakan headset sehingga suara Liza tak terdengar. Belum puas dengan hasil pendengarannya Jizah juga memelototi SMS yang masuk di HP suaminya. Uniknya, Ahmad lebih banyak membiarkan istrinya membacanya.

Sampean sepertinya sudah kebablasan, Yah?” Jizah memprotes perilaku suaminya yang menurutnya sudah di luar batas. “Sampean seperti tidak menghiraukan perasaanku selama ini.”

Ahmad mendengar nada tak senang dari Jizah. Ia berdiri di depan istrinya yang menatapnya sekilas. Wajah Jizah yang seperti memendam kesal sejak lama terlihat agak pucat. Rambutnya yang agak bergelombang dan di sana-sini tampak uban menambah kesan pucat wajah istrinya.

Ahmad berupaya tenang, khawatir dirinya dikatakan tak memperhatikan suasana batin istrinya yang ia cintai. Terbersit juga dalam benaknya, mungkin ada benarnya bahwa ia tak begitu hirau dengan perasaan istrinya akhir-akhir ini. Bahwa ia terlalu asyik dengan Liza, sehingga memunculkan kesal yang mendalam pada hati istrinya. Oh, benarkah aku terlalu asyik “berdua” dengan Liza selama ini? Ahmad hampir tak percaya.

Ada apa, Dik? Kenapa kamu bicara seperti itu?” Tangan Ahmad menggamit lengan istrinya. Diajaknya ia duduk di tempat tidur. Ia memandang wajah istrinya yang menatap ke arah lemari di dalam kamar. Ahmad merasa bersalah. Ia hampir tak menyadari jika chattingnya selama ini dengan Liza tak disukai istrinya.

Sampean sudah berubah, Yah.” Jizah menatap wajah Ahmad. Seolah juga hendak menyampaikan gugatan anak-anaknya, terutama Firhad. Jizah memanggil dirinya ‘ayah’, meniru anak-anaknya. “Sampean tidak tahu kalau anak-anak juga merasa sakit hati dengan perbuatan Sampean? Mereka memang tak berani berkata-kata. Tapi cara Firhad yang ditampakkan padaku akhir-akhir ini pasti karena ulah Sampean ketika chatting.”

Hati Ahmad bercampur-aduk. Ia tidak menyadari bahwa rutinitas chatting dirinya berefek bagi anak-anaknya. Ada perasaan tak menerima atas tuduhan itu. Tapi ia tak memungkiri bahwa obrolannya kadang-kadang romantis. Apalagi bunyi SMS yang dikirim Liza, juga bagaimana ia membalasnya, muncul kata rindu, kangen, bahkan cinta. Akh, bagaimana aku menjelaskan pada mereka?

Jangan berprasangka yang tidak-tidak dulu, Sayang.” Ahmad mencoba meredam amarah Jizah. Duduk merapat di sebelah Jizah, tangan kiri Ahmad merangkul bahunya. “Aku memang tak memungkiri bahwa aku cinta pada Liza, bahkan sangat cinta. Kamu sendiri juga kusilakan membaca isi SMS yang ada selama ini, kan?”

Terus terang aku tak akan tahan jika terus-terusan seperti ini, Yah.” Wajah Jizah seperti pasrah, tapi sangat ditahan emosinya. “Jika saja aku tak tahu bagaimana Sampean tiap hari mungkin aku bisa tak ambil pusing. Tapi aku tahu A-B-Cnya dari waktu ke waktu, setiap hari. Hati perempuan mana yang tak nelangsa?”

Ya Allah. Maafkan aku, Dik. Bukankah sudah sering kukatakan, bahwa aku hanya cinta atau sayang saja, tapi tak bermaksud untuk memilikinya? Percayalah, Dik.”

Ahmad sesekali memandangi wajah istrinya yang menatap kosong almari dalam kamar. Kadang-kadang dirinya merasa bersalah juga. Ia merasa berdosa melalaikan istrinya hingga seperti ini. Cemas.

Yang membuat kacau dirinya, Ahmad sering merasa terpesona dengan kebaikan Liza selama ini. Seorang perempuan yang sopan dan memegangi ajaran agamanya. Juga sangat berhati-hati jika bicara. Sangat care terhadap sesama serta simpatik jika dimintai tolong. Terkesan cakap, tapi tetap bersahaja. Makanya, terkadang ia merasa heran dan tak habis pikir karena sempat berseloroh kepada istrinya bahwa ia juga membayangkan seandainya Liza adalah juga istrinya. Ia membayangkan, seandainya suatu saat Liza jadi di Indonesia bersamanya. Atau dirinya yang berada di Malaysia. Sudah gilakah dirinya? Akh rumitnya…

Wajah pucat Jizah belum berubah banyak. Ia seperti belum menerima penjelasan suaminya. Kata-kata itu seperti sekedar penyejuk sementara. Jizah membayangkan, seandainya benar suaminya tak bermaksud untuk memilikinya, bagaimana ia tetap bisa tahan mendengar suaminya “bermesraan” di depan komputer?

Maafkan aku, Dik.” Suara Ahmad setengah berbisik. Tangannya membelai sayang rambut istrinya. Ia tuntun Jizah dengan perlahan merebahkan diri. Ada perasaan bersalah karena telah begitu dalam ia menyakiti istrinyanya. Tapi uniknya, hatinya juga tak mungkin melepas Liza. Juga akan sakit rasanya jika itu ia lakukan.

Entahlah, aku sendiri seperti tak mampu meninggalkannya. Kamu sendiri tahu, aku suka padanya bukan karena wajahnya. Sebelum ia mengirim fotonya pun kamu sudah tahu bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Kemanapun aku pergi, seolah bayangan wajahnya selalu mengiringiku. Padahal saat itu aku belum tahu bagaimana rupanya. Dan itu semua telah aku ceritakan padamu.”

Jizah seperti tak bereaksi mendengar perkataan Ahmad. Pandangannya ke arah langit-langit, Kelopak matanya basah.

Tangan Ahmad pun masih membelai-belai rambut Jizah. Ia sangat sayang dengan istrinya. Tak ada niat dalam hatinya hingga sampai harus berpisah. Apalagi jika teringat pada ketiga anaknya yang juga sangat disayanginya. Hatinya tak mungkin terpisah dari mereka. Pasti akan sakit rasanya.

Tapi Ahmad juga tak mampu meninggalkan Liza, perempuan yang telah mengisi hati dan juga sangat ia cintai. Teringat perkataannya pada Liza bahwa ia tak akan menjauh darinya. Ingat akan SMSnya yang tak akan mencederai persaudaraan yang ia bina selama ini. Seperti berjanji, ia juga telah memberikan hatinya untuknya. Tapi ia juga merasa bersalah pada Liza, sebab kadang-kadang dirinya memperlakukannya seolah akan menjadi istrinya. “Akh, benar-benar gila aku ini.”

Tiba-tiba pikiran Ahmad menuju ke Surah Al-Hujuraat (49) : 13, “ … Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal.”

Ia bolak-balik renungkan ayat itu. Dimanakah yang salah dengan hubungannya selama ini? Benarkah dirinya sudah kebablasan seperti yang dituduhkan istrinya? Bukankah dirinya dan Liza sudah cukup saling mengenal? Apakah salah jika ia ingin lebih dari itu? Atau memang sudah sepantasnya ia membatasi intensitas hubungannya lebih dari yang sekarang?

Diliriknya istrinya. Jizah tampak memejamkan mata. Tapi seperti hanya kelopak matanya yang terkatup. Ia dekap tubuhnya rapat-rapat sesaat, lalu ia lepaskan lagi. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Ahmad. Matanya juga basah. Ia memandangi sesekali dengan dekat wajah istrinya. Oh, istriku. Kasihan sekali kau sampai seperti ini gara-gara aku.

Wajah Ahmad mendongak ke langit-langit. Pikirannya menuju wajah Liza yang jauh di sana. Perasaan campur-aduk kembali menyelimuti hati Ahmad. Akh, Liza. Adakah hatimu juga sering merasa seperti masmu ini? Jika benar, kenapa kita sering merasakan hal yang sama? Menginginkan bertemu tapi semuanya seperti buntu? Kenapa kita berada pada tempat yang sangat jauh, Sayang? Kenapa kamu tak juga kemari, adikku? Tidakkah kau rindu pada masmu?

Ahmad hampir tak kuasa menahan pedih hatinya. Istrinya yang sangat ia sayangi begitu berharga bagi dirinya. Apalagi di tengah situasi ekonomi yang tak menentu saat ini. Dirinya akan terasa tersiksa tanpa curhat dengannya. Tapi hatinya juga sangat berat jika harus mengurangi hubungannya dengan Liza. Ia telah sangat banyak membantu dengan ikhlas. Selain dengan istrinya, melalui YM atau via handphone ia gunakan untuk curhat dengannya.

Hati Ahmad terasa pedih, seperti terbelah-belah. Terasa letih jiwanya memikirkan demikian pelik menghadapi istrinya. Ia malu karena tak mampu memberi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Juga malu memikirkan perekonomian keluarganya yang hingga kini belum juga pulih. Sudah demikian masih juga sempat-sempatnya bersenang-senang dengan Liza. Lelaki apa aku ini?

Ahmad terlihat hening dan mengatupkan kelopak matanya. Dalam gumamnya ia bermunajat, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu dan anak hamba perempuanMu. Ubun-ubunku di tanganMu, keputusanMu berlaku padaku, qadhaMu padaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu, atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaibMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Quran sebagai penentram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.”

Langit-langit kamar tak lagi terasa dekat dalam pandangan Ahmad saat itu. Matanya terpejam, jiwanya mengangkasa menemani istrinya. Begitu rindunya ia akan kedamaian dan kasih dari Sang Maha Pengasih. Ingin ia katakan pada istrinya bahwa dirinya sangat mencintainya. Dan ingin juga ia sampaikan pada adiknya yang jauh dan belum pernah dijumpainya di sana. Bahwa ia ingin selalu dekat dengannya. Tapi ia tak ingin hatinya terasa terbelah.

Cerpen ketiga - Saat-saat ‘Hati dan Perut’ Menepis Canggung


Ahmad tak mampu menyimpan kegelisahannya. Beberapa kali ia tepis perasaan itu tapi bayangannya kerap muncul. Tak seberkaspun terlintas dalam memorinya bagaimana rupa Nurliza. Yang ia ketahui hanya nama dan alamatnya. Suaranya pun belum pernah ia dengar. Tapi anehnya, bayangan tentang dirinya seolah mampu ia hadirkan dalam wujud yang ia rasakan sendiri. Dan itu kerap mengiringi kemanapun ia pergi.

Sudah beberapa kali ia menerima email darinya. Sebatas email bisnis, tak lebih dari itu. Tapi ada yang menarik dari email itu, terutama dari segi bahasanya. Terkadang ia mengernyitkan dahinya sendiri, tanda kekurangfahamannya atas suatu istilah yang dipakai Liza, nama panggilannya. Ahmad ingin tahu itu tapi masih segan menanyakannya.

Liza terkesan cakap, tapi tetap bersahaja. Dari segi intelektualitas Ahmad yakin Liza pasti perempuan yang terpelajar. Itu terlihat dari uraian kalimat yang ditulisnya dalam email. Tapi yang membuat Ahmad terpesona, meski Malaysia dikenal lebih baik perekonomiannya Liza tak segan-segan secara terbuka mengatakan bahwa ia tak pernah berhubungan dengan bank di luar negeri. Sebaliknya ia bertanya bagaimana cara paling baik berniaga antarnegara. Yang akhirnya juga membuat sedikit malu Ahmad karena iapun sejatinya belum tahu dan ingin tanya pada Liza.

Selain bersahaja, terasa bahwa Liza adalah perempuan yang sopan dan memegangi ajaran agamanya, juga terkesan hati-hati. Kesan sopan sudah muncul layaknya orang yang baru saling kenal. Emailnya yang kedua sudah bisa menjelaskan bahwa ia memiliki ciri-ciri demikian. Bagi pihak saya juga sebenarnya agak bimbang berurusan dalam sistem internet ini (maaf sekiranya tersinggung). Tetapi sebagaimana tuan kami juga tidak mahu berprasangka buruk kepada pihak pengeluar. Karena yakin jika kita jujur dan ikhlas karena Allah, pasti Allah akan membantu kita, insya Allah.”

Ahmad makin tak mampu sembunyikan keinginannya. Sebagai orang Indonesia ia ingin punya kontak dari negeri seperti Malaysia. Siapa tahu bisa jadi saudara, pikirnya. Sudah lama ia juga ingin tahu lebih dalam tentang bahasa Melayu. Dan sekaranglah saatnya, pikirnya. Kacaunya, sebagai lelaki terkadang pikiran nakal juga muncul: menggoda. Tapi segera ia buang, apalagi ia tahu Liza bukan perempuan yang masih single.

Ahmad menghela nafas, teringat ketika kali pertama Liza berkirim email. Ia merasa beruntung saat itu ia tak bertindak gegabah. Sebab email Liza termasuk email “sampah” yang biasanya ia delete begitu saja. Ketika itu ia melihat ada yang janggal dalam emailnya. Ada satu file “serius” yang nyangkut di kotak Bulk. Ia tak begitu memperhatikan pengirimnya, tapi judul emailnya seperti memerintahkannya agar memindah file “kesasar” tersebut ke tempat semestinya, Inbox. Padahal, seperti biasanya, Ahmad mendahulukan mendelete file-file yang tak berhubungan dengan websitenya. Baru kemudian merespons file-file yang masuk dalam Inbox. Atau sebelum merespons file dalam Inbox ia membacanya, baru kemudian memindah email tersebut.

oo0oo

Ahmad patut merasa bersyukur sebab perasaan segan terhadap Liza kini sudah banyak berkurang. Banyak hal telah membawa Liza dan Ahmad menjadi semakin dekat, layaknya bersaudara. Banyak kecocokan yang ditemukannya selama bertukar email, terutama keterbukaan dan kejujuran yang dibangun selama ini. Apalagi setelah chatting via YM, seperti menawarkan kegembiraan lebih. Saling berbagi joke merupakan hal yang nyaris tak terhindarkan. Jika sebelumnya saling kontak via Hp, yang berarti mengeluarkan budget tersendiri, kini keduanya sering kontak via YM menggunakan headset. Obrolan di antara keduanya juga semakin cair. Bahkan tema bisnis hanya sesekali mendominasi. Selebihnya adalah proses saling mendalami pribadi masing-masing yang makin intensif dari hari ke hari.

Hebatnya, setelah cukup lama intensif saling berkirim email keduanya bersepakat menjalin persaudaraan. Sejumlah foto keluarga maupun pribadi dipertukarkirimkan. Karena Ahmad lebih tua Liza memanggilnya “Mas”. Sebuah sebutan sebagai lazimnya seorang adik kepada abangnya yang kebetulan seorang berketurunan Jawa.

Hal yang membuat Ahmad bahagia adalah kesamaan perhatian terhadap ajaran agama Islam. Sejak awal, signal keislaman yang ditebarkan Ahmad dalam email bak bersambut. Bahkan ia meyakini bahwa Liza adalah perempuan yang dikenalnya via internet yang paling taat dalam menjalankan ibadah. Makanya, selain bangga dan makin suka ia juga lebih hati-hati. Apalagi baik dirinya maupun Liza sudah berkeluarga. “Kita harus bisa jaga amanah ini, adikku.” Ahmad meyakinkan Liza bagaimana seharusnya menyikapi hubungan unik di antara mereka. “Kita ini bukan kerabat, apalagi saudara. Siapapun orang yang mengerti bagaimana kita pasti tak membolehkan hubungan yang berlebihan.”

Ya, betul, Mas. Kita harus boleh jaga itu.” Fikiran Liza lega mendengar pernyataan masnya. Dalam hatinya ada bermacam perasaan yang ingin disampaikannya. Tapi tak kuasa. Ia hanya memendamnya dalam hati. Namun Liza tak mampu menyembunyikan senyumnya. Ada rasa takjub yang menggeliat. Sementara Ahmad menunggu kiriman foto tangan kanan Liza terlihat mengaduk-aduk melalui mouse. Masih di folder tempat foto-foto Ahmad yang dikirim untuk dirinya. Sejurus kemudian tatapan wajah Liza terhenti pada sebuah foto yang ia sukai. Ia close-up foto tersebut sehingga tampak lebih detail. “Akh, andai kau ada di sini, Mas…” gumamnya lirih.

Tapi kamu harus tetap ingatkan aku, adikku.” Ahmad mencoba meyakinkan.

Maksudnya?” Liza setengah gelagapan. Sedikit malu, Liza ingin Ahmad yakin bahwa dirinya memang sedang menyiapkan foto yang akan dikirim. Dalam keadaan on via internet terkadang pikirannya tidak focus ke pembicaraan yang sedang didiskusikan, seperti saat ini. Ia memang tengah asyik memilih-milih sejumlah foto. Segera ia berupaya menemukan folder foto dirinya. Liza tak ingin Ahmad tahu apa yang baru saja ia lihat. Ia sedikit kuatir, jangan-jangan Ahmad tahu.

Meski kita menjalin kekeluargaan, kita ini bukan bersaudara yang sesungguhnya. Sudah sepantasnya tahu batas masing-masing.”

Ya, aku mengerti, Mas.” Liza menghela nafas lega. Sepertinya Ahmad tak merasakan sesuatu bahwa tadi pikirannya tidak focus. Perasaan malunya sedikit berkurang, andai saja Ahmad tahu apa yang baru saja ia lakukan.

Makanya, jika nanti ada hal-hal yang mungkin saja aku berbuat tak sepantasnya kamu harus ingatkan aku, Adikku.”

Ya…” Suara Liza terdengar sangat pelan, seperti masih menahan malu.

Sebaliknya pikiran Ahmad menerawang. Ada rasa penasaran yang ingin segera ia ketahui dari Liza. Ingin ia menulis sesuatu padanya tapi perasaan was-was kembali menyelinap. Merasa seperti belum pantas disampaikan. Tapi yang pasti Ahmad kagum pada pribadi Liza. Masya Allah, orang ini. Begitu lembut hatinya. Tutur bahasanya tertata dan sopan. Begitu pula ketika tertawa, belum pernah terdengar lepas keras.

Ahmad ingat tentang dua hal yang pernah disampaikannya pada Liza. Ketika itu ia sempat merasa ragu-ragu hendak menyampaikannya. Beruntung waktu itu Ahmad tak terlalu banyak pertimbangan, hingga akhirnya jadi juga email itu dikirim.

Aku ingin share tentang sesuatu, semoga kamu boleh terima,” urainya mengawali tulisannya. Ahmad belum sepenuhnya tenang ketika hendak memulai.

Oh, ya… sila, Mas.”

Tapi sebaiknya via email saja, ya.” Pikirannya menuju pada email yang telah disiapkannya dalam beberapa hari ini. Masih ada rasa cemas, masih juga canggung.

OK.”

Maka dikirimlah sebuah mail untuk Liza. Bukan mail bisnis, tapi mail yang bercerita tentang ‘hati dan perut’. Dua “wilayah” yang memiliki dimensinya masing-masing. Plong rasanya usai mengirim mail itu. Perasaan lega tak bisa ia sembunyikan. Ada harap yang ingin segera ia dapati dari Liza. Ketika hati masih juga merasa canggung untuk semakin terbuka, dan ketika bahasa bicara tak sanggup menguraikan, ketika itulah sebuah harap ingin tersampaikan: tulisannya segera dibaca.

oo0oo

Aku pernah belajar sikit tasawwuf.” Begitu terangnya memulai emailnya, langsung ke pokok persoalan. Ahmad memeras otak, karena ia ingin sebanyak mungkin menggunakan bahasa Melayu yang sedang ia pelajarinya. Tapi sering gagal karena memang ia tak tahu banyak. “Di sini banyak kutemukan hal-hal luar biasa yang sulit sebelumnya kuperoleh. Di antaranya adalah—dalam konteks mengisi kebutuhan diri—bahwa hidup ini sebenarnya yang paling pokok cuma perlu mencukupkan dua hal. Sejauh manapun kita mencari rizki, sekeras apapun kita bekerja, ternyata dua hal itulah yang seharusnya kita cukupkan. Dan itu tak jauh dari kita. Keduanya ada pada diri kita sendiri.”

Hal pertama adalah tentang hati. Hati representasi dari sesuatu yang abstrak, yang ghaib alias halus, hal yang tak terindera. Kita harus mencukupinya dengan “isian” kebutuhan hati agar bisa bahagia. Semakin kita abai semakin merasa nestapalah kita. Kita akan kehilangan pegangan, tak punya kendali. Tak tahu kemana nantinya kita menuju. Makanya kita senantiasa merasa perlu mengisinya guna menstimulasi semangat/ energi non-materi ini untuk membangkitkan aktivitas.

Hal kedua adalah mengisi perut. Perut jelas representasi dari sesuatu yang kasat mata, yang dhahir alias kasar, hal yang dengan mudahnya kita merasakan ada sesuatu yang harus diisikan padanya jika lapar. Semakin kita abai semakin lunglailah kita. Tak berdaya. Makanya kita senantiasa perlu mengisinya guna mendapatkan energi materi untuk beraktivitas.

Mengapa perlu mengisi 2 hal pokok ini? Bukan berarti tak ada hal lain yang perlu dicukupkan selain dua hal ini. Yang lain-lain sekedar penyokong sahaja. Mungkin anytime bisa disinggung, insya Allah. Namun yang pertama dan utama, isian hati inilah sebenarnya yang diprioritaskan. Dengan telah mengisi hati (dengan isian ilahiyyah) kebahagiaan senantiasa muncul pada diri. Sebagai makhluk yang juga memiliki dimensi kasar isian untuk perut tak boleh ditelantarkan. Perut yang terisi memungkinkan manusia menggerakkan tubuhnya.

Apa artinya ini semua? Kita sebenarnya tak perlu bersulit-sulit mencari di mana tempat membuat kita bahagia, karena sudah tahu tempatnya. Membuat bisa beraktivitas ternyata juga begitu mudahnya karena sudah tahu wadahnya. Singkatnya, kita hanya perlu mensuplai hati dengan food berenergi ilahiyyah yang menjadikan manusia bahagia, atau jika tidak, kita merana. Aku tak menafikan pentingnya materi yang banyak sebab dengannya kita bisa mencukupkan perjuangan. Tak puas dengan memberi care kita bisa suguhkan love. Sebab dengan memberikannya kita telah menebar benefit. Benefit atau manfaat yang terpancar secara tulus taklah sia-sia. Pasti kembali kepada si pemberi, yang mewujud dalam kebahagiaan. Dan itu bisa dilakukan siapa saja, termasuk ghairu Muslim. Karenanya, di satu fihak kita harus kaya materi sebab selain untuk mengisi kebutuhan sendiri juga agar tak dilecehkan oleh si kuffaar di jagad ini.

Lihatlah, tempat-tempat berkemampuan ekonomi surplus (simbol daripada perut kenyang) mendapatkan kehormatan dari al-basyar. Karena ia mudah terindikasi, karena mudah terindera, dan pada akhirnya mudah diperhitungkan sebagai kawan atau lawan. Dan memang inilah sumber energi yang kebanyakan di-hunting para awam, mereka yang semata berprinsip life for food, life for gold (materi). Padahal, energi pertama dan utama adalah hati/ jiwa.

Hati tak bisa diindera dengan panca indera karena ia adalah sesuatu yang non-materi. Aku dan kamu tak pernah saling melihat, tak pernah saling bersentuhan, tak juga pernah saling mengetahui cukup lama seperti apa suaranya sebelum ini. Namun alhamdulillah, melalui bahasa (sebagai media koneksi) hati kita bisa bertemu. Ia menembus segala sesuatu yang tak tergapai. Mampu menyatukan yang jauh, sebaliknya juga dengan mudah memisahkan yang seperti tampak menyatu. Ia membuat seseorang menangis karena bahagia atau bahkan sedih luar biasa. Dengannya manusia bisa kasar serta beringas, atau malah lembut melebihi sutera; tak sebiji dzarrah pun orang lain boleh menguasai kepemilikannya, tapi bisa amat-sangat dermawan bahkan tak berasa tertarik sedikitpun untuk mengusainya.

Karena hati tak terindera maka ia sering diabaikan sebagai parameter dalam memandang sesama: apakah itu Muslim atau bukan. Maknanya apa? Orang yang hanya mengukur yang lain dengan hanya dari materinya menunjukkan bahwa sampai di situlah kelasnya sebagai manusia. Padahal jelas, materi hanya properti yang dimiliki sesaat, fana. Nabi Musa AS dalam al-Quran diceritakan sebagai manusia yang bisa (dengan izinNya) berkomunikasi dengan Tuhannya. Artinya ia adalah makhluq yang demikian istimewa. Boleh jadi manusia super atau apatah sebutannya. Tapi oleh Allah ternyata ia masih disuruh berguru kepada Nabi Ayub AS, manusia terasing yang tak populer di lingkungannya. Artinya apa? Bahwa di atas langit masih ada langit. Lha kita ini apa? Liza bisa menjelaskannya sendiri.”

oo0oo

Semula Ahmad khawatir dibilang pamer pengetahuan karena tulisannya. Namun ia tak mengira, Liza sangat suka. “Wah, Mas seperti dokter saja. Dokter spesialis hati,” demikian comment Liza suatu hari via YM.

Tak mengira dengan comment itu, ia tersenyum mendengar istilah yang dipakai Liza. Dokter spesialis hati. Meski malu, ia merasa tersanjung. “Akh, memangnya aku begitu?” gumamnya dalam hati tak yakin. Liza pasti ngacau saja, pikirnya.

Namun yang membuatnya berbunga-bunga, sejak itu Ahmad menjadi semakin akrab layaknya saudara dekat. Bahkan sangat dekat. Ahmad bersyukur punya “saudara” yang demikian care, simpatik, bahkan ringan tangan. Tidak memandang kaya-miskin, jauh dari sifat sombong, juga mengedepankan kaidah-kaidah ilahiyyah.

Monday, December 15, 2008

Cerpen kedua - "Nasi Kucing"



Alam demokrasi yang sedang dibangun dan dikomunikasikan di media, terutama TV, seperti tidak sejalan dengan alam perekonomian keseharian rakyat, pikir Ahmad. Ia tidak memungkiri bahwa kompetisi bisnis boleh dibilang semakin terbuka dan menjanjikan kesetaraan. Tapi kesetaraan yang mencuat adalah kesetaraan yang diliputi mendung dan gerimis, sebagai gambaran potret kesedihan kebanyakan masyarakat sekarang. Paling tidak begitulah ia melihatnya saat ini, sehingga meskipun sangat pahit dirinya harus “menerima” terhadap situasi demikian.

Namun ironisnya, perasaan menerimanya menyisakan sesak napas ketika melihat semakin meningkatnya kesulitan ekonomi di sana-sini, termasuk dirinya saat ini. Ia teringat, dulu ketika masih mengajar di sebuah sekolah swasta, predikat menjadi guru tak mampu menahan dirinya agar tetap betah di situ. Hingga akhirnya ia berspekulasi untuk menerjuni dunia wirausaha.

Meski berskala sangat kecil pada awalnya ia menemukan alam kemandirian, dan mendapati kompetisi yang cukup fair di sini. Namun pada akhirnya ia merasakan bahwa kompetisi bisnis yang terbangun—bahkan hingga kini, dirasakan masih parsial dan jauh dari kebutuhan minimal untuk menjadi sebuah bisnis yang stabil. Hari-hari berikutnya media terus mengekspose potret dunia usaha masa kini dengan berbagai variasinya. Malangnya, dirinya semakin merasakan sesak napas menghadapi peliknya kompetisi tersebut.

“Kenapa, Mas?” Selidik Jizah pada suaminya yang sedang berbaring. “Akhir-akhir ini Sampean kulihat sering gelisah, jika tidak dibilang stress.”

Ahmad tidur di kasur dalam kamarnya. Kedua telapak tangannya ia jadikan bantal untuk menopang kepalanya. Wajahnya terlihat kusut tak bergairah. Bicaranya juga seperti orang yang kehabisan suara.

“Yah, apalagi kalau tidak memikirkan tentang keluarga kita,” seperti tanpa mempedulikan kehadiran istrinya.

“Sudahlah, Mas. Sampean tak perlu terlalu gelisah seperti ini. Kita ini masih jauh lebih beruntung.” Istrinya berusaha meredam rasa gundah Ahmad. Ia tahu bagaimana seharusnya karena akhir-akhir ini suaminya terlihat seperti itu. “Meski sudah cukup banyak barang-barang kita yang terjual, kalau sejumlah uang kita kan masih ada.”

Ahmad pura-pura tak mendengar omongan istrinya. Wajahnya menatap langit-langit. Kata-kata-kata itu, meski ada benarnya, baginya bagaikan bom waktu. Boleh jadi itu hanya pelipur duka sementara, yang jika tidak ditemukan solusinya, entahlah apa yang bakal terjadi nantinya. Tapi sejurus kemudian ia tampak mengeluhkan lengan kanannya. Istrinya menghampirinya dan memijat-mijat lengan suaminya. Meski bukan tukang pijat Jizah termasuk punya sedikit kemampuan di bidang ini.

Entah karena agak kesakitan atau memang wajahnya yang kusut saat itu Ahmad berujar parau ke istrinya yang memijatnya sambil berbaring. “Tolong bantu aku, Dik.”

“Bantu bagaimana?”

“Agar keadaan keluarga kita tidak lebih parah lagi ke depan.”

“Itu yang tiap hari kupikirkan, Mas.”

Pijatan Jizah terhenti. Sebaliknya ia merasa mendapat kesempatan untuk berbicara banyak. Suaminya kemudian ganti memijat-mijat lengan kanannya sendiri dengan tangan kirinya.

“Tak mungkin nanti aku hanya cukup dengan mengajar, Dik.” Pikiran Ahmad menerawang ke beberapa tahun silam, saat dirinya masih menjadi guru. Ada sedikit perasaan menyesal dalam dirinya sehingga harus berhenti. Tapi langkahnya itu tidak sepenuhnya ia sesali jika mengingat bagaimana keadaan sekolahnya saat itu. Bahkan khabarnya hingga kini. Akh… Tapi yang lebih penting, selain belum mulai bagaimanapun penghasilan dari mengajar belum akan mampu memenuhi kebutuhan kesehariannya.

“Tolong bantu, apalagi yang harus kita lakukan sekarang.”

“Yah, aku mengerti, Mas. Proposal yang kita masukkan ke pabrik sampai kini juga belum ada jawaban.” Suara perlahan Jizah malah menebar suasana prihatin. “Sampean sendiri tahu, sudah beberapa kali Pak Johan kutelepon, tapi sampai kini juga nihil hasilnya. Aku malu jika harus meneleponnya lagi.”

Ahmad memandang kosong dinding kamar. Teringat beberapa bulan yang lalu ketika ia dan istrinya memasukkan proposal kerjasama bisnis makanan ke suatu pabrik. Ia merasa beruntung memperoleh informasi ini. Sebab, biasanya hal seperti ini beredar secara terbatas saja.

“Di pabrik yang baru kita masuki bagaimana?” Bersama istrinya ia juga telah memasukkan proposal yang semisal. Meski sudah tahu Ahmad merasa perlu bertanya, sebab terkadang istrinya menunggu saat yang tepat untuk bercerita.

Istrinya menggelengkan kepala.

“Di BRI bagaimana?”

“Sama.” Pikiran Jizah menuju ke beberapa hari lalu, ketika dirinya diantar suaminya memasukkan proposal catering. Informasi awal cukup melegakan dirinya bahwa di situ belum ada yang mengkoordinir untuk makan siang. Dari situ semula ia berharap. Sebab, ia telah kenal dengan beberapa karyawan bank tersebut. Tentu bisa lebih diterima, pikirnya. Meski tak terlampau banyak personelnya bagaimanapun masih lumayan. Tapi, tadi malam Andini memastikan bahwa teman-teman Andini tak merespons tawarannya.

oo0oo

Beberapa hari lalu salah satu keponakan Ahmad, Itang, ke rumahnya. Ia menjelaskan bahwa di rumahnya kini juga didirikan warung makanan, selain toko kelontong yang sudah berjalan selama ini. Yang agak membuat tertarik Ahmad dan istrinya adalah di situ juga dijual nasi bungkus. Pikiran Ahmad segera menebar ke sejumlah karyawan pabrik yang sering berbelanja di rumah Itang. Wah, jika orang lain boleh memasuki tentu dirinya juga ada peluang, pikirnya.

Sayangnya lagi-lagi Ahmad harus menelan ludah. Nasi bungkus tersebut tidak diambil pengelola warung, yang juga saudara Itang. Tapi dihantar pemasoknya. Yang berarti, sangat berat jika harus ia lakukan tiap hari. Tentu profit nasinya akan habis untuk biaya transportasi. Belum lagi jika nasinya tak habis.

Meski sering stress Ahmad tak berhenti hingga di situ. Apalagi istrinya seperti tak pernah merasa bosan meyakinkan dirinya. Setidaknya Ahmad masih ingat dan meyakini Surah At-Thalaq 2-3. “… Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan (menjadikan) baginya jalan keluar, dan memberi rizki yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan apa (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” Pasti Allah memberi jalan keluarnya, pikirnya. Ia juga tak meragukan informasi dalam Surah Al Insyirah tentang adanya kemudahan yang menyertai suatu kesulitan. Pada ayat ke-5 disebutkan, bahwa “Maka sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan.”

Pikiran Ahmad mengembara ke suatu tayangan TV , ketika seorang muballigh mengupas ayat tersebut. “Fa-inna ma’al ‘ushri yusraa.” Yang menarik baginya adalah tafsir makna katanya. Dikatakan muballigh tersebut, dalam bahasa Arab kata ‘ushri didahului dengan ‘al-’, sehingga berbunyi “al ‘ushri” (isim ma’rifat). Itu berarti bahwa kata bendanya kata benda tertentu (definite noun). Sebelum kata tersebut digunakan kata “ma’a” (bersama), dan bukan “ba’da” (setelah). Juga setelah kata “al-ushri”, digunakan kata ‘yushraa’ (isim nakirah). Kata ini termasuk kata benda tak tentu (indefinite noun).

Suatu ‘kesulitan’ yang definite (tertentu) disuguhkan di situ dalam bentuk tunggal, sementrara ‘kemudahan’ yang menyertainya disajikan dalam bentuk jamak. Dari situ menjadi menarik dibahas karena berarti Allah telah menyertakan jawaban/ solusi yang beragam (jamak) bagi manusia. Seolah menginformasikan, Kemahapemurahan Allah kepada makhluknya ditunjukkan di situ. Bahwa dalam setiap satu kesulitan yang diujikan ternyata disertai beragam kemudahanNya sebagai solusi. Hanya saja, pilihan atas ragam solusinya harus ditemukan. Apalagi di situ Allah mengulangi di ayat berikutnya, seperti menegaskan, “Sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan.”

Pikiran Ahmad mengembara lebih jauh lagi, mengeksplor upayanya beberapa waktu terakhir ini. Bersama dengan istrinya ia telah memasukkan proposal catering ke beberapa perusahaan.

Saat itu hatinya terombang-ambing oleh respons dari berbagai pihak. Belum dianggap lengkap proposalnya ia pun mengurus ijin agar berpeluang mendapat respons dari perusahaan tersebut. Ada yang terasa melegakan, tapi ada juga yang menjengkelkan. Teringat, betapa mudahnya proses diterimanya proposal di sebuah pabrik waktu itu, termasuk bagaimana kontak dengan personel yang menangani. Namun menjadi menjengkelkan ketika respons itu seperti hanya manis di mulut.

Ada info lagi, beralih ke pabrik yang lain lagi. Memasukkan proposal lagi, tak jelas khabar kelanjutannya lagi. Sudah mengurus dan cukup lama menunggu dan menghubungi contact person-nya, Ahmad dan istrinya akhirnya pasrah.

Tak putus asa di situ Ahmad dan istrinya mengalihkan target calon mitranya. Ahmad beralih haluan ke sebuah bank. Meski tak jelas syarat-syaratnya ia menyertakan ijin bisnis makanan di sini. Sayangnya, di bank ternyata juga tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya ia dan istrinya mencoba menerjuni nasi bungkus alias nasi kucing.

oo0oo

Ahmad dan istrinya kini mencoba menapak di bidang nasi kucing. Nasi kucing adalah sebutan lain untuk sebungkus nasi berikut lauknya. Meski bisa berupa tahu atau tempe plus sambalnya, sering di dalamnya berupa ikan pindang, tongkol, atau sejenis ikan laut lainnya. Mungkin karena jumlah nasinya yang demikian kecil, dan lauknya yang sangat sederhana sehingga seperti pantas dikonsumsi kucing makanya disebut nasi kucing.

Karena masih baru memulai, hari pertama merupakan test case bagi keberlanjutan usahanya. Begitu mengesankan, pikirnya. Dengan 20 bungkus ia berharap setidaknya sebagian besar akan laku. Tapi hari itu kenyataan mengatakan lain. Hanya sepertiga yang terbeli. Sisanya ia bagikan kepada kerabatnya sebagai hadiah cuma-cuma.

Ahmad menghela napas mencoba bersabar. Sesekali ia merasa lunglai. Hatinya terasa kecut meski juga tetap berusaha tegar. Tubuhnya kadang terasa seperti tak bertenaga. Jika tidak ingat bahwa ini adalah bagian ujian dari Allah yang sedang dijalaninya mungkin ia sudah depresi. Apalagi istrinya tak pernah menampakkan wajah putus asa.

Hari kedua ada tantangan baru. Ia terlambat mengambil info nasi kucing yang dititipkan. Siang itu ia kehujanan, padahal boleh dibilang ia masih kurang sehat. Urung dapat khabar tentang nasinya ia pulang. Dengan baju setengah basah ia menghibur dirinya dengan mengingat Surah At-Thalaq di atas. Ia tersenyum, teringat saudaranya yang baru saja mengiriminya uang. Akh, mungkin ini yang namanya “rizki yang tiada disangka-sangka” itu.

Hari ketiga nasi kucingnya nyaris tak mendapat respons. Hanya terserap dua bungkus. Ia tak sanggup berkata-kata kecuali bersabar. Namun ia tetap mencoba bersyukur, apalagi ia merasa hanya kehilangan beberapa ribu rupiah. Ia membayangkan, bagaimana perasaan pialang saham yang telah kehilangan ratusan milyar gara-gara krisis global akhir-akhir ini. Ia menepis gundahnya dengan membelai anaknya yang ikut menyertainya siang itu di motornya.

Siang itu Ahmad menyerahkan sejumlah lembar uang ribuan dan sejumlah receh uang logam hasil penjualan nasi bungkusnya selama dua hari. Di depan istrinya ia mencoba tersenyum karena membayangkan uang itu adalah lembar ratusan ribu yang dikirim adiknya. “Alhamdulillah, ternyata aku masih punya uang yang lain,” pikirnya.

Ahmad merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kedua telapak tangannya ia jadikan bantal untuk menopang kepalanya. Memandang langit-langit, tapi pikirannya menembus cakrawala: apakah gerangan setelah nasi kucing. Hujan rintik di luar masih berebut dengan mendung, seolah memastikan bahwa kesedihan di sana-sini masih ada.

Cerpen pertama - Mengajar lagi


"Kita harus realistis dengan semua ini, Dik." Ahmad memandang tajam istrinya. "Sudah kuhitung, dan ternyata memang selama ini kita besar pasak daripada tiang."

"Iya, kan dari dulu sudah kuingatkan Sampean, Mas." Jizah tampak seperti agak ogah-ogahan meladeni omongan suaminya. Ia duduk di pinggir tempat tidur di depan suaminya yang sedang berdiri di depannya, dengan sedikit memandang lantai sambil sesekali memandang ke luar jendela. Tapi hatinya merasa tak nyaman, dan segera kembali ia arahkan pandangannya ke suaminya.

Pikirannya menerawang ke puluhan tahun silam, ketika perekonomian keluarganya tidak separah sekarang ini. "Bukan aku tak tahu semua ini. Tapi Sampean yang mungkin tak begitu hirau dengan apa yang kusampaikan dulu. Bahwa suatu saat ini akan menjadi masalah."

Jizah menyampaikannya dengan nada datar dan cenderung kurang ekspresif. Seperti sengaja ia buat begitu agar berkesan ia tak menyalahkan tindakan suaminya.

Ahmad menghela nafas sejenak. "Maafkan aku, Dik. Aku bukan tak menyadari. Tapi apa yang kita miliki selama ini seperti melalaikanku." Ganti Ahmad mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sejurus kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas dipan. Pandangan matanya kembali ia arahkan ke istrinya.

Seolah mengerti bahwa suaminya ingin curhat Jizah ikut merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya. Tapi tatapannya ia arahkan ke langit-langit.

"Dulu aku merasa bahwa semua akan OK-OK saja." Pandangan Ahmad juga ke langit-langit, seolah di situlah tempat koordinasi penyatuan pikiran dirinya dan istrinya. Kembali pikirannya menerawang ke beberapa tahun silam. Ia membayangkan bagaimana incomenya yang dulu seperti mengalir dengan sendirinya, mobil yang jarang digunakan tapi selalu stand by, termasuk rumah kontrakan yang bisa melengkapi penghasilan di masa tertentu. Pekerjaan sebagai guru yang walaupun tak begitu banyak hasilnya tetapi masih bisa menambah suplai belanja keluarga. Belum lagi topangan suplai belanja harian dari orang-tuanya, yang pasti semakin memperpanjang terkurangi tabungannya.

"Tapi kini telah banyak yang berubah. Dan meski cukup terlambat, bagaimanapun aku masih bersyukur tidak semua yang kita miliki habis. Kita masih punya sesuatu yang bisa digunakan untuk mengevaluasi diri dan menata apa yang masih ada sehingga ke depan kita bisa memilih hal yang paling pas untuk dilakukan."

"Memangnya apa yang akan Mas lakukan?" Jizah melirik suaminya. Dilihatnya pandangan suaminya masih ke langit-langit.

"Entahlah. Aku sendiri bisanya ya seperti yang kamu tahu selama ini. Rumah kontrakan yang baru saja jadi kos-kosan juga belum tampak hasilnya. Yang paling mungkin, ya… mengajar lagi."

"Aku tahu itu, Mas. Tapi kalau boleh tahu, bagaimana Mas akhirnya memutuskan "mengajar" sebagai hal yang sepertinya harus dilakukan?"

Ahmad beranjak dari tempat tidurnya. Ia duduk di pinggir istrinya yang terlebih dulu duduk. Kembali ia menatap wajah istrinya. Seperti ada yang membuatnya senang, Ahmad tersenyum. "Aku bersyukur kemarin sore Cak Ful datang ke sini."

"Ooh, yang kemarin itu?"

"He-eh."

"Memangnya kenapa?"

"Meski aku tahu, sepertinya dialah perantara yang mengantarkan petunjuk (hidayah) itu."

"Maksudnya?"

"Kamu dengar, kan, ketika dia seperti mengetahui kegelisahan kita."

"Ya."

"Cak Ful mengingatkan Surah At-Thalaq 2-3. Tapi sayang ia sepertinya hanya bisa memberikan dalil Arabnya, dan sedikit makna yang terdapatdi dalamnya."

"Lalu?"

"Setelah kulihat di terjemahan (Al-Quran) dalam surah itu disebutkan, … Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan (menjadikan) baginya jalan keluar, dan memberi rizki yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan apa (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu."

"Memangnya apa hubungan ayat tersebut dengan mengajar Sampean, Mas?"

"Secara langsung memang tidak ada. Tapi jika dikaitkan dengan bagaimana seharusnya sikap seseorang ayat tersebut jelas ada hubungannya."

"Aku belum faham."

"Coba perhatikan." Wajah Ahmad setengah berbinar menjelaskan pada istrinya. Seolah ada sesuatu yang ditemukan dalam ayat tersebut. "Di situ ada kata "bertaqwa", ada kata "jalan keluar" dan "rizki", juga ada kata "tawakkal" dan "mencukupkan". Apa kamu belum merasakan sesuatu?"

"Belum."

"Di situ Allah menjelaskan bahwa Dia akan mengadakan jalan keluar bagi orang yang bertaqwa, dan akan mencukupkan rizki baginya. Kemudian Allah juga menjelaskan bahwa Dia akan mencukupkan keperluannya. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita memahami kata bertaqwa dan bertawakkal itu, itulah yang bisa berbeda satu orang dengan orang yang lain."

"Menurut Mas sendiri bagaimana?"

"Coba perhatikan." Ahmad seperti tidak sabar ingin istrinya cepat faham. "Menurutku, jalan keluar akan ditampakkan (diadakan) oleh Allah bagi hambanya yang bertaqwa. Bertaqwa maknanya menjalani perilaku yang disyariatkan (diperintahkan) olehNya dan menjauhi hal yang dilarangNya. Di situ Allah seperti menjelaskan pada kita akan adanya jalan keluar. Ini berarti, jika seseorang bertaqwa kepada Allah maka orang tersebut akan ditunjukkan jalan keluarnya, berupa rizki yang berasal dari sumber yang tak disangka-sangkanya. Tapi belum keluar dari tempat dimana ia berada pada waktu itu. Dengan kalimat lain, Allah masih belum membawa orang tersebut benar-benar keluar dari "kungkungan" tempat yang ingin ia tinggalkan. Rizkinya masih "suka-suka" dan bersifat unpredictable."

"Lalu?"

"Nah, jika ia mau keluar dari situ berarti harus ada lagi upaya yang harus dilakukannya. Apa itu? Ia harus bertawakkal."

"Bertawakkal, bagaimana itu?"

"Bertawakkal itu menurutku ada dua dimensi pengertian. Yang pertama dimensi vertical, dan kedua dimensi horizontal."

"Bagaimana penjelasan vertical-horizontal itu, Mas?"

"Dimensi vertical adalah dimensi ilahiyyah, yaitu dimensi dengan makna ghaib. Suatu bentuk komunikasi antara hamba dan Khaliqnya, yang ukurannya bukan lagi panca indera. Di dalamnya sang hamba berdoa (meminta) kepada Sang Penciptanya. Di sini orang yang berharap atau berdoa tersebut mungkin bisa merasakan bahwa doanya dikabulkan. Tapi bisa saja sebaliknya tidak merasakan apa-apa. Dan Allah Yang Maha Mengaturnya yang tahu bagaimana sesuatu akan terjadi. Dirinya tidak tahu bagaimana selanjutnya akan terjadi. Orang lain juga tidak tahu. Semua makhluqNya juga tidak ada yang tahu."

"Dimensi horizontal?"

"Dimensi horizontal adalah dimensi insaniyyah, yaitu dimensi dengan makna realistic-perseptual."

"Maksudnya?"

"Realistik artinya nyata. Perceptual artinya bisa dipersepsi oleh setiap yang mengalami. Dimensi inilah yang selama ini diperebutkan oleh setiap manusia yang bernyawa. Orang yang telah mengetahui/ mendapat petunjuk dariNya masih harus melakukan upaya dengan sesamanya. Istilahnya ia harus berikhtiar dengan cara melakukan sesuatu agar mendapatkan yang diinginkannya."

"Dikatakan nyata karena sesuatu yang akan dikerjakannya adalah sesuatu yang real, yang nyata. Dikatakan perceptual karena memang bisa dipersepsi oleh setiap orang menjumpai ikhtiarnya."

"Konkretnya bagaimana?"

"Begini, dalam konteks masalah kita ini, bahwa kita saat ini mengalami deficit financial akibat terlambat menyadari cashflow yang tidak seimbang kita harus mampu memetakan ulang posisi financial tersebut. Seberapa besar defisitnya, asset apa yang mungkin bisa mengkovernya, kemudian jika masih juga belum cukup berarti harus mampu melakukan sesuatu agar minimal bisa membuat balance antara pengeluaran dan pemasukannya."

"Lebih jelasnya lagi?"

"Selain harus tetap berserah diri kepada Allah bagaimana nanti jadinya hasil yang diperoleh dari usaha tersebut kita wajib "melangkah" menuju jalan keluar yang ditunjukkan Allah melalui perantara yang ditunjukkan itu."

"Berarti sampainya ya tergantung cepat atau lambatnya melangkah itu?"

"Tepat sekali. Selain itu ya tergantung juga dari seberapa banyak rintangan yang menghadang jalannya."

"Yang berarti juga bergantung dari seberapa mampu orang yang menemui rintangan tersebut dapat mengatasinya, bukan?"

"Ya."

"Wah, berliku juga ya?"

"Begitulah. Itu belum lagi jika jalan yang ditampakkan Allah itu asing atau tidak. Yang berarti kita harus mengatasi (mempelajari) rasa asing tersebut untuk kemudian kita "lalui". Sebab jika tidak, siapa tahu di sekitar jalan tersebut masih banyak rintangan yang tak mampu dilalui. Semakin besar rintangan (tantangan)nya semakin besar kebahagiaan yang akan dicapai manakala itu berhasil dilalui."

"Dan jangan lupa… ada lagi satu hal yang tak boleh dikesampingkan."

"Apa itu?"

"Sesuatu yang tak terindera oleh kita, oleh makhluq hidup yang namanya manusia ini. Selama ini kita hanya mampu mendeteksi apa yang kita lakukan berikut respons balik dari semuanya, baik yang langsung maupun yang tak langsung, baik yang terindera di sekitar kita maupun yang terindera tapi jauh dari kita. Tapi yang tak terindera oleh kita, yang ghaib dan tak terdeteksi, atau yang luput dari jangkauan hitungan kita. Lebih pastinya lagi karena kuasa atau campur tangan Tuhan yang Maha Mengatur semua alam semesta beserta segala macam isinya ini. Itulah yang seharusnya masuk dalam kesadaran manusia. Artinya, meskipun manusia telah banyak berbuat sesuatu janganlah merasa bahwa respons balik (hasil) dari jerih payahnya itu ia maknai pasti akan terjadi sesuai dengan keinginannya."

"Ya, tapi apa hubungannya dengan mengajar Sampean?"

"Ya jelas, tho… mengajar lagi insya Allah merupakan "jalan keluar" bagiku. Alias solusi yang harus aku jalani agar perekonomian keluarga kita tidak semakin runyam. Dengan mengajar lagi berarti aku akan meniti jalan keluar yang diadakan oleh Allah, agar memperoleh rizkiNya. Apalagi rizki mengajar dahulu tidak lagi sama dengan rizki mengajar di masa-masa mendatang."

"Caranya?"

"Ya itu yang harus aku upayakan ke depan, yang dijelaskan dalam makna "tawakkal" tadi."

Wajah Ahmad berbinar. Ia merasa memperoleh sesuatu setelah kehadiran Cak Ful. Pikirannya tidak lagi ke masa lalu. Dirinya ingin segera mengajar lagi . Ingin segera diperolehnya rizki baginya dan keluarganya guna mencukupkan kebutuhan sehari-harinya.