Thursday, December 18, 2008

Cerpen ketiga - Saat-saat ‘Hati dan Perut’ Menepis Canggung


Ahmad tak mampu menyimpan kegelisahannya. Beberapa kali ia tepis perasaan itu tapi bayangannya kerap muncul. Tak seberkaspun terlintas dalam memorinya bagaimana rupa Nurliza. Yang ia ketahui hanya nama dan alamatnya. Suaranya pun belum pernah ia dengar. Tapi anehnya, bayangan tentang dirinya seolah mampu ia hadirkan dalam wujud yang ia rasakan sendiri. Dan itu kerap mengiringi kemanapun ia pergi.

Sudah beberapa kali ia menerima email darinya. Sebatas email bisnis, tak lebih dari itu. Tapi ada yang menarik dari email itu, terutama dari segi bahasanya. Terkadang ia mengernyitkan dahinya sendiri, tanda kekurangfahamannya atas suatu istilah yang dipakai Liza, nama panggilannya. Ahmad ingin tahu itu tapi masih segan menanyakannya.

Liza terkesan cakap, tapi tetap bersahaja. Dari segi intelektualitas Ahmad yakin Liza pasti perempuan yang terpelajar. Itu terlihat dari uraian kalimat yang ditulisnya dalam email. Tapi yang membuat Ahmad terpesona, meski Malaysia dikenal lebih baik perekonomiannya Liza tak segan-segan secara terbuka mengatakan bahwa ia tak pernah berhubungan dengan bank di luar negeri. Sebaliknya ia bertanya bagaimana cara paling baik berniaga antarnegara. Yang akhirnya juga membuat sedikit malu Ahmad karena iapun sejatinya belum tahu dan ingin tanya pada Liza.

Selain bersahaja, terasa bahwa Liza adalah perempuan yang sopan dan memegangi ajaran agamanya, juga terkesan hati-hati. Kesan sopan sudah muncul layaknya orang yang baru saling kenal. Emailnya yang kedua sudah bisa menjelaskan bahwa ia memiliki ciri-ciri demikian. Bagi pihak saya juga sebenarnya agak bimbang berurusan dalam sistem internet ini (maaf sekiranya tersinggung). Tetapi sebagaimana tuan kami juga tidak mahu berprasangka buruk kepada pihak pengeluar. Karena yakin jika kita jujur dan ikhlas karena Allah, pasti Allah akan membantu kita, insya Allah.”

Ahmad makin tak mampu sembunyikan keinginannya. Sebagai orang Indonesia ia ingin punya kontak dari negeri seperti Malaysia. Siapa tahu bisa jadi saudara, pikirnya. Sudah lama ia juga ingin tahu lebih dalam tentang bahasa Melayu. Dan sekaranglah saatnya, pikirnya. Kacaunya, sebagai lelaki terkadang pikiran nakal juga muncul: menggoda. Tapi segera ia buang, apalagi ia tahu Liza bukan perempuan yang masih single.

Ahmad menghela nafas, teringat ketika kali pertama Liza berkirim email. Ia merasa beruntung saat itu ia tak bertindak gegabah. Sebab email Liza termasuk email “sampah” yang biasanya ia delete begitu saja. Ketika itu ia melihat ada yang janggal dalam emailnya. Ada satu file “serius” yang nyangkut di kotak Bulk. Ia tak begitu memperhatikan pengirimnya, tapi judul emailnya seperti memerintahkannya agar memindah file “kesasar” tersebut ke tempat semestinya, Inbox. Padahal, seperti biasanya, Ahmad mendahulukan mendelete file-file yang tak berhubungan dengan websitenya. Baru kemudian merespons file-file yang masuk dalam Inbox. Atau sebelum merespons file dalam Inbox ia membacanya, baru kemudian memindah email tersebut.

oo0oo

Ahmad patut merasa bersyukur sebab perasaan segan terhadap Liza kini sudah banyak berkurang. Banyak hal telah membawa Liza dan Ahmad menjadi semakin dekat, layaknya bersaudara. Banyak kecocokan yang ditemukannya selama bertukar email, terutama keterbukaan dan kejujuran yang dibangun selama ini. Apalagi setelah chatting via YM, seperti menawarkan kegembiraan lebih. Saling berbagi joke merupakan hal yang nyaris tak terhindarkan. Jika sebelumnya saling kontak via Hp, yang berarti mengeluarkan budget tersendiri, kini keduanya sering kontak via YM menggunakan headset. Obrolan di antara keduanya juga semakin cair. Bahkan tema bisnis hanya sesekali mendominasi. Selebihnya adalah proses saling mendalami pribadi masing-masing yang makin intensif dari hari ke hari.

Hebatnya, setelah cukup lama intensif saling berkirim email keduanya bersepakat menjalin persaudaraan. Sejumlah foto keluarga maupun pribadi dipertukarkirimkan. Karena Ahmad lebih tua Liza memanggilnya “Mas”. Sebuah sebutan sebagai lazimnya seorang adik kepada abangnya yang kebetulan seorang berketurunan Jawa.

Hal yang membuat Ahmad bahagia adalah kesamaan perhatian terhadap ajaran agama Islam. Sejak awal, signal keislaman yang ditebarkan Ahmad dalam email bak bersambut. Bahkan ia meyakini bahwa Liza adalah perempuan yang dikenalnya via internet yang paling taat dalam menjalankan ibadah. Makanya, selain bangga dan makin suka ia juga lebih hati-hati. Apalagi baik dirinya maupun Liza sudah berkeluarga. “Kita harus bisa jaga amanah ini, adikku.” Ahmad meyakinkan Liza bagaimana seharusnya menyikapi hubungan unik di antara mereka. “Kita ini bukan kerabat, apalagi saudara. Siapapun orang yang mengerti bagaimana kita pasti tak membolehkan hubungan yang berlebihan.”

Ya, betul, Mas. Kita harus boleh jaga itu.” Fikiran Liza lega mendengar pernyataan masnya. Dalam hatinya ada bermacam perasaan yang ingin disampaikannya. Tapi tak kuasa. Ia hanya memendamnya dalam hati. Namun Liza tak mampu menyembunyikan senyumnya. Ada rasa takjub yang menggeliat. Sementara Ahmad menunggu kiriman foto tangan kanan Liza terlihat mengaduk-aduk melalui mouse. Masih di folder tempat foto-foto Ahmad yang dikirim untuk dirinya. Sejurus kemudian tatapan wajah Liza terhenti pada sebuah foto yang ia sukai. Ia close-up foto tersebut sehingga tampak lebih detail. “Akh, andai kau ada di sini, Mas…” gumamnya lirih.

Tapi kamu harus tetap ingatkan aku, adikku.” Ahmad mencoba meyakinkan.

Maksudnya?” Liza setengah gelagapan. Sedikit malu, Liza ingin Ahmad yakin bahwa dirinya memang sedang menyiapkan foto yang akan dikirim. Dalam keadaan on via internet terkadang pikirannya tidak focus ke pembicaraan yang sedang didiskusikan, seperti saat ini. Ia memang tengah asyik memilih-milih sejumlah foto. Segera ia berupaya menemukan folder foto dirinya. Liza tak ingin Ahmad tahu apa yang baru saja ia lihat. Ia sedikit kuatir, jangan-jangan Ahmad tahu.

Meski kita menjalin kekeluargaan, kita ini bukan bersaudara yang sesungguhnya. Sudah sepantasnya tahu batas masing-masing.”

Ya, aku mengerti, Mas.” Liza menghela nafas lega. Sepertinya Ahmad tak merasakan sesuatu bahwa tadi pikirannya tidak focus. Perasaan malunya sedikit berkurang, andai saja Ahmad tahu apa yang baru saja ia lakukan.

Makanya, jika nanti ada hal-hal yang mungkin saja aku berbuat tak sepantasnya kamu harus ingatkan aku, Adikku.”

Ya…” Suara Liza terdengar sangat pelan, seperti masih menahan malu.

Sebaliknya pikiran Ahmad menerawang. Ada rasa penasaran yang ingin segera ia ketahui dari Liza. Ingin ia menulis sesuatu padanya tapi perasaan was-was kembali menyelinap. Merasa seperti belum pantas disampaikan. Tapi yang pasti Ahmad kagum pada pribadi Liza. Masya Allah, orang ini. Begitu lembut hatinya. Tutur bahasanya tertata dan sopan. Begitu pula ketika tertawa, belum pernah terdengar lepas keras.

Ahmad ingat tentang dua hal yang pernah disampaikannya pada Liza. Ketika itu ia sempat merasa ragu-ragu hendak menyampaikannya. Beruntung waktu itu Ahmad tak terlalu banyak pertimbangan, hingga akhirnya jadi juga email itu dikirim.

Aku ingin share tentang sesuatu, semoga kamu boleh terima,” urainya mengawali tulisannya. Ahmad belum sepenuhnya tenang ketika hendak memulai.

Oh, ya… sila, Mas.”

Tapi sebaiknya via email saja, ya.” Pikirannya menuju pada email yang telah disiapkannya dalam beberapa hari ini. Masih ada rasa cemas, masih juga canggung.

OK.”

Maka dikirimlah sebuah mail untuk Liza. Bukan mail bisnis, tapi mail yang bercerita tentang ‘hati dan perut’. Dua “wilayah” yang memiliki dimensinya masing-masing. Plong rasanya usai mengirim mail itu. Perasaan lega tak bisa ia sembunyikan. Ada harap yang ingin segera ia dapati dari Liza. Ketika hati masih juga merasa canggung untuk semakin terbuka, dan ketika bahasa bicara tak sanggup menguraikan, ketika itulah sebuah harap ingin tersampaikan: tulisannya segera dibaca.

oo0oo

Aku pernah belajar sikit tasawwuf.” Begitu terangnya memulai emailnya, langsung ke pokok persoalan. Ahmad memeras otak, karena ia ingin sebanyak mungkin menggunakan bahasa Melayu yang sedang ia pelajarinya. Tapi sering gagal karena memang ia tak tahu banyak. “Di sini banyak kutemukan hal-hal luar biasa yang sulit sebelumnya kuperoleh. Di antaranya adalah—dalam konteks mengisi kebutuhan diri—bahwa hidup ini sebenarnya yang paling pokok cuma perlu mencukupkan dua hal. Sejauh manapun kita mencari rizki, sekeras apapun kita bekerja, ternyata dua hal itulah yang seharusnya kita cukupkan. Dan itu tak jauh dari kita. Keduanya ada pada diri kita sendiri.”

Hal pertama adalah tentang hati. Hati representasi dari sesuatu yang abstrak, yang ghaib alias halus, hal yang tak terindera. Kita harus mencukupinya dengan “isian” kebutuhan hati agar bisa bahagia. Semakin kita abai semakin merasa nestapalah kita. Kita akan kehilangan pegangan, tak punya kendali. Tak tahu kemana nantinya kita menuju. Makanya kita senantiasa merasa perlu mengisinya guna menstimulasi semangat/ energi non-materi ini untuk membangkitkan aktivitas.

Hal kedua adalah mengisi perut. Perut jelas representasi dari sesuatu yang kasat mata, yang dhahir alias kasar, hal yang dengan mudahnya kita merasakan ada sesuatu yang harus diisikan padanya jika lapar. Semakin kita abai semakin lunglailah kita. Tak berdaya. Makanya kita senantiasa perlu mengisinya guna mendapatkan energi materi untuk beraktivitas.

Mengapa perlu mengisi 2 hal pokok ini? Bukan berarti tak ada hal lain yang perlu dicukupkan selain dua hal ini. Yang lain-lain sekedar penyokong sahaja. Mungkin anytime bisa disinggung, insya Allah. Namun yang pertama dan utama, isian hati inilah sebenarnya yang diprioritaskan. Dengan telah mengisi hati (dengan isian ilahiyyah) kebahagiaan senantiasa muncul pada diri. Sebagai makhluk yang juga memiliki dimensi kasar isian untuk perut tak boleh ditelantarkan. Perut yang terisi memungkinkan manusia menggerakkan tubuhnya.

Apa artinya ini semua? Kita sebenarnya tak perlu bersulit-sulit mencari di mana tempat membuat kita bahagia, karena sudah tahu tempatnya. Membuat bisa beraktivitas ternyata juga begitu mudahnya karena sudah tahu wadahnya. Singkatnya, kita hanya perlu mensuplai hati dengan food berenergi ilahiyyah yang menjadikan manusia bahagia, atau jika tidak, kita merana. Aku tak menafikan pentingnya materi yang banyak sebab dengannya kita bisa mencukupkan perjuangan. Tak puas dengan memberi care kita bisa suguhkan love. Sebab dengan memberikannya kita telah menebar benefit. Benefit atau manfaat yang terpancar secara tulus taklah sia-sia. Pasti kembali kepada si pemberi, yang mewujud dalam kebahagiaan. Dan itu bisa dilakukan siapa saja, termasuk ghairu Muslim. Karenanya, di satu fihak kita harus kaya materi sebab selain untuk mengisi kebutuhan sendiri juga agar tak dilecehkan oleh si kuffaar di jagad ini.

Lihatlah, tempat-tempat berkemampuan ekonomi surplus (simbol daripada perut kenyang) mendapatkan kehormatan dari al-basyar. Karena ia mudah terindikasi, karena mudah terindera, dan pada akhirnya mudah diperhitungkan sebagai kawan atau lawan. Dan memang inilah sumber energi yang kebanyakan di-hunting para awam, mereka yang semata berprinsip life for food, life for gold (materi). Padahal, energi pertama dan utama adalah hati/ jiwa.

Hati tak bisa diindera dengan panca indera karena ia adalah sesuatu yang non-materi. Aku dan kamu tak pernah saling melihat, tak pernah saling bersentuhan, tak juga pernah saling mengetahui cukup lama seperti apa suaranya sebelum ini. Namun alhamdulillah, melalui bahasa (sebagai media koneksi) hati kita bisa bertemu. Ia menembus segala sesuatu yang tak tergapai. Mampu menyatukan yang jauh, sebaliknya juga dengan mudah memisahkan yang seperti tampak menyatu. Ia membuat seseorang menangis karena bahagia atau bahkan sedih luar biasa. Dengannya manusia bisa kasar serta beringas, atau malah lembut melebihi sutera; tak sebiji dzarrah pun orang lain boleh menguasai kepemilikannya, tapi bisa amat-sangat dermawan bahkan tak berasa tertarik sedikitpun untuk mengusainya.

Karena hati tak terindera maka ia sering diabaikan sebagai parameter dalam memandang sesama: apakah itu Muslim atau bukan. Maknanya apa? Orang yang hanya mengukur yang lain dengan hanya dari materinya menunjukkan bahwa sampai di situlah kelasnya sebagai manusia. Padahal jelas, materi hanya properti yang dimiliki sesaat, fana. Nabi Musa AS dalam al-Quran diceritakan sebagai manusia yang bisa (dengan izinNya) berkomunikasi dengan Tuhannya. Artinya ia adalah makhluq yang demikian istimewa. Boleh jadi manusia super atau apatah sebutannya. Tapi oleh Allah ternyata ia masih disuruh berguru kepada Nabi Ayub AS, manusia terasing yang tak populer di lingkungannya. Artinya apa? Bahwa di atas langit masih ada langit. Lha kita ini apa? Liza bisa menjelaskannya sendiri.”

oo0oo

Semula Ahmad khawatir dibilang pamer pengetahuan karena tulisannya. Namun ia tak mengira, Liza sangat suka. “Wah, Mas seperti dokter saja. Dokter spesialis hati,” demikian comment Liza suatu hari via YM.

Tak mengira dengan comment itu, ia tersenyum mendengar istilah yang dipakai Liza. Dokter spesialis hati. Meski malu, ia merasa tersanjung. “Akh, memangnya aku begitu?” gumamnya dalam hati tak yakin. Liza pasti ngacau saja, pikirnya.

Namun yang membuatnya berbunga-bunga, sejak itu Ahmad menjadi semakin akrab layaknya saudara dekat. Bahkan sangat dekat. Ahmad bersyukur punya “saudara” yang demikian care, simpatik, bahkan ringan tangan. Tidak memandang kaya-miskin, jauh dari sifat sombong, juga mengedepankan kaidah-kaidah ilahiyyah.

No comments:

Post a Comment