
Hari sudah sore menjelang petang. Tapi Jizah masih terus sibuk mengiris sayur untuk nasi bungkusnya esok. Suaminya Ahmad juga tampak menemaninya. Akhir-akhir ini jika ada hari libur atau tanggal merah Jizah harus lebih lama di dapur. Sayang jika jadwal jualan yang cuma sesekali dalam seminggu diabaikan begitu saja.
Jizah merasa berat jika harus keluar rumah dengan tujuan tidak yang sangat penting. Meski hanya beberapa ribu rupiah dirinya merasa telah berbuat sesuatu untuk keluarganya. Yang ia pikirkan adalah anak-anaknya yang sangat suka dengan lauk-pauk yang kebetulan juga untuk nasi jualannya. Ia juga ingat penghasilan suaminya yang kini berkurang sangat drastis, semenjak berhenti bekerja di sebuah perusahaan jasa.
Sayur kentang yang belum teriris tapi sudah terkupas kulitnya disendirikan di sebelah kiri bersama sayur ucet. Dulu sebelum pernah jualan nasi Jizah menganggap sayur ini sebagai menu tambahan. Kini tuntutan pasar kelas nasi bungkus mengharuskan sayur ini atau penggantinya sebagai menu wajib ada di dalamnya. Belum pernah sebelum ini terpikirkan olehnya gara-gara nasinya yang pernah diijualnya kurang ramai isinya akhirnya berbuah “complain”. Akh, nasi bungkus pun bisa ‘berbunyi’.
Duduk di depan sedikit ke kanan Ahmad sedang menggerus lombok dan sejumlah bumbu dalam cobek. Ia tidak menggunakan blender karena lomboknya cuma sedikit. Keduanya tampak serius dengan pekerjaannya meski dua anak lelakinya yang masih di Sekolah Dasar kadang berlari-lari kecil keluar masuk rumah. Sesekali pergelangan tangan Ahmad ia angkat kemudian mengusap matanya. Ia tampak memicingkan matanya yang terkena efek pedas lombok. Jizah yang dekat dengannya tersenyum karena geli ketika melihat mata suaminya kepedasan. Obrolan yang ditingkahi guyonan akhirnya tak luput memecah keseriusan kerja mereka.
“Kalau nggak begini Sampean nggak nggulek, kan?” Jizah menggoda suaminya.
“Hus, jangan dikira aku dulu nggak sering nggulek seperti ini.” Ahmad mengenang dirinya ketika masih berusia belasan tahun belajar di pesantren. “Sewaktu dulu di pesantren aku hampir tiap hari nggulek, lho.”
Teringat olehnya beberapa wajah temannya. Teringat perilaku lucu ketika berebut cobek. Jika sudah dapat cobek bukan berarti selesai masalahnya. Kendil untuk memasak harus antri juga. Parahnya, kendil untuk menanak nasi sering juga berfungsi sebagai merebus air. Yang berarti, bisa dibayangkan berapa waktu dihabiskan untuk bisa makan dengan lahap.
“Untung dulu urusan beli bumbu sudah ada yang mengurusi,” Ahmad membuka cerita pada istrinya. “Aku jadi ingat jasa Wak Shomad dan Bu Sapik yang berjualan bumbu masak. Yang paling kuingat waktu itu adalah penyedap rasa yang selalu kumasukkan semua dalam cobek setiap beli bumbu.” Pikirannya menerawang ke sebuah warung dekat pesantren di kotanya.
“Hah, semua?”
“Ya, itu konyolnya. Makanya yang kurasa waktu itu masakannya pasti enak.”
“Enak bagaimana?” Jizah merasa heran.
“Maksudku karena penyedapnya banyak, pasti rasanya gurih, kan? Dan waktu itu aku nggak bisa membedakan antara enak yang sesungguhnya dengan enak karena kebanyakan penyedap rasa. Mungkin karena sudah lapar, ya… enak jadinya makannya ha.. ha…”
Ya, dulu pesantren itu suasananya masih tradisional, khususnya dapur yang digunakan untuk memasak. Meski tidak jauh dari kota banyak pohon rimbun di sekitarnya. Dapurnya dipakai bersama-sama. Karena santrinya tidak terlalu banyak dapur berukuran sekitar 30m2 itu menjadi mengesankan untuk dikenang. Terutama suasana gelap interiornya akibat pekatnya jelaga. Khas suasana rumah-rumah di pedesaan jaman dulu. Tungkunya dibuat dari bata merah yang dibalut semen. Atap dapur hanya ada genteng tanpa eternit. Tembok keliling dapur masih dibuat dari gedhek sehingga asap buangan memasak langsung menyelinap ke sela-sela gedhek dan genteng. Kayu bakar untuk masak nasi bisa diambil dari sekitar pesantren yang memang banyak belukar di situ. Tapi ada juga yang mengunakan minyak tanah dan kompor. Di sebelah pesantren tersebut terdapat sungai besar sehingga jika sore banyak santri yang rileks dan nyantai di pinggiran sungai. Ingin rasanya mengulang pengalaman indah masa itu.
oo0oo
Hari-hari di dapur seperti ini dilakukan Ahmad agar lebih meringankan pekerjaan istrinya. Sebenarnya bagi Jizah semuanya bisa ia atasi sendiri. Tapi Ahmad sengaja ingin melakukannya karena ia juga merasa tak ada sesuatu yang dikerjakan di rumahnya. Rasa shock sebagai pengangguran masih kental menyelimutinya. Makanya waktu yang terasa panjang ia sibukkan dengan membantu istrinya di dapur, sambil memikirkan pekerjaan pengganti.
Kalau boleh memilih tentu ia ingin keluar rumah dan mengerjakan apa saja yang pas bagi dirinya sehingga memperoleh penghasilan. Terbayang oleh Ahmad wajah-wajah temannya yang juga sama-sama terkena PHK, dan kini mungkin juga sama-sama masih bingung akan bekerja apa. Membantu istrinya jualan nasi bungkus inipun hanya sesekali. Tidak setiap hari. Ia sudah berkeliling mencari peluang bisa mengisi jualan nasi bungkus tapi seperti tak juga mendapat tempat yang pas.
Dunia nasi bungkus telah diisi pesaing lama yang sudah exist dari dulu. Kalaupun ada peluang lokasinya kurang menjanjikan dan biasanya berakhir dengan kerugian. Pernah Ahmad mencoba di sebuah sekolah. Dibayangkannya, dengan jumlah siswa yang ratusan setidaknya sepuluh atau dua puluh bungkus akan dengan cepat ludes dibeli mereka. Tapi fakta berbicara tidak seperti yang dibayangkan. Memang pernah habis, tapi kerugiannya lebih banyak daripada keuntungannya. Akhirnya Ahmad mundur mengisi nasi bungkus di sekolah itu.
Meski belum puas dengan upayanya menemukan peluang tempat mengisi nasi bungkus Ahmad juga berfikir untuk menjadi guru lagi seperti dulu. Selama ini, sebelum terkena PHK selain sebagai pekerja jasa meski sedikit ia juga masih mengajar. Tapi hanya Sabtu dan Minggu. Beberapa hari terakhir ini setiap ada info peluang mengajar di suatu sekolah Ahmad langsung merespons, dan esoknya ia mengirimkan proposal lamaran. Tapi khabar peluang itu rata-rata sebatas dugaan dari pemberi info. Sudah tiga lembaga Ahmad masuki, dan ketiga-tiganya hampir selalu menjawab nihil jika tidak fifty-fifty.
Namun di sela rasa stress berkepanjangan karunia Allah masih diperoleh keluarganya. Ia mendapat kesempatan mengisi nasi bungkus setiap hari libur. Di rumah yang juga warung kakak perempuannya. Yang berarti sudah tidak perlu lagi perlu waktu untuk beradaptasi dengan pemiliknya. Sudah berjalan beberapa bulan setiap pengiriman nasi bungkus di situ tidak pernah tidak habis. Dari sisi harga penjualan di sini juga lebih baik.
Karunia Allah tampaknya tidak berhenti hingga di situ. Sebelumnya ia hampir putus asa mengingat pengeluaran untuk keluarganya tak mungkin dihentikan, sementara pekerjaan yang jelas belum juga ia temukan. Mengharapkan hasil nasi bungkus yang cuma sehari seminggu pasti harapan yang sia-sia. Beberapa minggu lalu Ahmad mencoba memasukkan lamaran mengajar lagi. Kebetulan kepala sekolahnya sudah ia kenal. Entahlah, padahal selama ini bukan tidak ada pikiran ke tempat ini. Dan alhamdulillah, keterbukaan kepala sekolahnya menjelaskan ada kemungkinan peluang untuk mengisi kekosongan di sekolahnya.
Keluar dari rumah temannya itu hati Ahmad sangat berbunga-bunga. Meski masih perlu konfirmasi pada pimpinan lembaganya jawaban sementara itu sudah seperti hujan di musim kemarau. Sejuk hatinya saat itu.
Esoknya, ketika bersantai menggunakan sepeda Ahmad mampir di temannya yang lain. Kebetulan ia juga salah satu guru di tempat bakal ia mengajar. Ada info bahwa posisi yang akan dimasukinya gurunya kini hendak keluar karena pindah kerja di kota lain. “Ya Allah, inikah pertanda baik bagi hambaMu ini? Inikah karunia yang tertahan untukku selama ini?”
oo0oo
Ahmad sudah mengamati jalan sepanjang menuju sekolah. Dicarinya peluang agar bisa menaruh nasi bungkus istrinya di sepanjang jalan menuju sekolahannya. Hanya ada satu titik, tapi seperti sulit untuk dimasuki. Beberapa hari lalu ketika ngobrol-ngobrol Muhdi, temannya, mengeluh akibat sulitnya menemukan nasi bungkus dengan harga yang terjangkau siswa.
“Sebenarnya istriku sekarang berbisnis nasi seperti yang kamu ceritakan.”
“Akh, yang benar, Mad?”
“Memang tidak cuma nasi bungkus. Tepatnya catering, juga nasi kotak. Yang berarti termasuk nasi bungkus, kan?”
“Kalau begitu kebetulan, Mad. Ya, dikirim saja anak-anak tiap hari kalau begitu.” Tapi wajah Muhdi seperti masih belum begitu gembira.
“Kemana?”
“Tapi bagaimana caranya, ya?“ Alis Muhdi tampak mengernyit. Muhdi mencoba menyeruak sekat permasalahan konsumsi siswanya selama ini. Bayangan bengkel tempat para siswanya bekerja di sekolah menampakkan situasi kecemasan karena lapar yang ditahan-tahan. Tak ditemukan makanan murah di sekitarnya. Kalaupun ada biasanya sekedar makanan penawar sementara semacam cilok, yang pasti tidak mengenyangkan.
“Dimana?”
“Di bengkel kan tak ada makanan. Tapi bos pasti marah jika ada guru atau orang lain yang berjualan di situ. Maksudku, cobalah menggunakan orang lain yang mengantarnya. Yang penting bukan guru disini.”
“Ngisruh kamu, Di. Bagaimana mungkin menggunakan orang lain yang jualan di situ sementara yang dijual hanya nasi bungkus. Apalagi kamu bilang tadi tidak mungkin orang lain berjualan di situ. Dan lagi, memangnya keuntungan nasi bungkus itu ratusan ribu sehingga pakai orang lain?”
“Ya itu masalahnya,” sergah Muhdi masih tak menampakkan bahagia. “Saya itu kasihan dengan anak-anak. Di tengah menyelesaikan pekerjaan ketika istirahat mereka pasti mencari makanan. Ada di dekat situ tapi harganya nggak kuat mereka.”
“Kalau dengan cara kukirim bagimana? Maksudku asal ada yang mengkoordinir. Jadi nanti aku cukup berhubungan dengan koordinatornya saja.”
Muhdi tak segera menjawab. Ia masih berupaya meyakinkan Ahmad agar ada orang lain yang setiap hari datang di bengkel. Sebaliknya Ahmad mulai kehilangan kesabaran dengan jawaban Muhdi. Seperti masih ada yang disembunyikan.
“Tak tahulah, Mad. Di sini seperti serba repot.”
Belakangan diketahui, dari pengakuan satpam penjaga sekolah di situ memang tidak dibolehkan dijual nasi bungkus. Bukan hanya nasi bungkus. Semua makanan kemasan plastik juga dilarang dijual di situ. Alasannya sederhana. Siswa tidak bisa mengendalikan sampah. Sudah disediakan tempat sampah tapi seperti hanya jadi hiasan saja. Di sana-sini sampah menyelinap, di luar maupun dalam kelas. Bahkan dalam bangku-bangku!
“Akh, sayang,” gumam Ahmad. Sebenarnya ini adalah karunia bagi istrinya seandainya saja peluang ini bisa dimasuki. Pikiran Ahmad mengunjungi wajah istrinya di rumah. Ia tak menampakkan kecemasan meski dirinya belum menemukan pekerjaan yang memadai seperti sebelumnya. Mungkin Allah masih mengujinya untuk terus mencari karunia itu. Dan Ahmad masih berupaya menemukannya.

No comments:
Post a Comment